Sarang Manusia Kecil
Rumah mungil berlantai dua itu tampak
sangat sederhana. Lantainya yang berwarna kuning hanya merupakan ubin yang
terbuat dari semen. Sedang dindingnya−yang dipoles dengan cat merah muda,
tidaklah terlalu tinggi. Teras dan jalanan dipisahkan oleh pagar besi coklat
tua.
Rumah itu terletak di sebuah gang
yang tidak terlalu besar. Hanya becak saja yang bisa melaluinya.
Suasana di rumah tersebut selalu
ramai. Bahkan seolah tak pernah mengenal kata sunyi. Baik di teras maupun di
dalam rumah, bermacam-macam permainan digelar. Anak-anak dari berbagai lapisan
umur datang silih berganti. Dari yang belum sekolah sampai yang sudah masuk SD.
Congklak, bekel, lompat tali, sapintrong, simseu, sondah, anyang-anyangan,
mengadu jengkrik, serta bermain gambar menjadi pemandangan sehari-hari.
Belakangan, permainan kartu, monopoli, ular tangga, bahkan catur menjadi
permainan yang juga lajim ditemui.
Teras yang tak begitu luas disulap
menjadi arena permainan yang menyenangkan. Anak-anak perempuan akan menguasai
teras bila mereka bermain tali, sondah, congklak, dan bekel. Sedang permainan
boneka biasanya dilakukan di dalam rumah.
Bila teras sedang ditempati anak-anak
lelaki, anak- anak perempuan akan bergeser ke luar pagar. Mereka bermain anyang-anyangan. Bermain masak-masakan.
Alat masak yang digunakan tidak selalu mereka beli. Tak jarang barang-barang
bekas dipakai juga.
Selain itu, di luar pagar, anak-anak
perempuan sering membuat cairan penghasil gelembung busa. Mereka membuatnya
dari bunga dan daun kembang sepatu yang diremas-remas dan dilarutkan ke dalam
air. Alat untuk menghasilkan gelembung
pun mereka buat sendiri.
Mereka membuat alat tersebut dari
seutas kawat. Kawat ditekuk pada ujung-ujungnya, lalu kedua tekukan
dipertemukan untuk mendapat bentuk lingkaran sebesar kelereng. Lingkaran seolah
memiliki ekor karena tekukan pada ujung-ujung kawat bertemu di luar lingkaran.
Kawat pun dililiti benang wol. “Ekor kawat” dimasukkan ke dalam sedotan. Untuk
mencegah kawat terlepas, sedotan juga diikat dengan benang wol.
Walaupun cairan dan alat penghasil
gelembung yang mereka buat sangat sederhana, namun gelembung busa yang
dihasilkan cukup banyak.
Kecuali kucing-kucingan dan monopoli,
biasanya anak lelaki dan perempuan bermain terpisah dalam kelompok
masing-masing. Tapi ada seorang anak perempuan yang sering terlihat di antara
kerumunan anak-anak lelaki. Anak itu rajin menjajal kepiawaiannya memilih kojo–dalam permainan gambar. Bahkan ia sering
terlihat
sedang mengadu jengkrik. Setelah ia mahir membaca, ia pun mulai belajar bermain
kartu dan catur.
Sekilas, anak yang baru duduk di
permulaan Sekolah Dasar itu tidak berbeda dengan anak perempuan lain. Bila saja
ada yang beda, mungkin karena ukuran tubuhnya yang sedikit di-zoom. Itupun masih dalam batas normal.
Seperti anak perempuan pada umumnya, ia juga selalu mengenakan rok.
Namun, bila sudah mengenal keseharian
anak tersebut, akan tampak ia tidak sama dengan anak-anak perempuan yang lain.
Tari. Begitu ia dipanggil. Ia adalah
putri dari pemilik rumah–yang dijadikan
sarang bermain manusia-manusia kecil.
Tari oh Tari
Tari adalah anak kedua dari tiga
bersaudara. Kedua saudaranya laki-laki. Orang tuanya tidak mengistimewa- kan
Tari hanya karena ia putri satu-satunya. Bahkan, pola asuh yang didapat Tari
hampir mirip dengan kedua saudaranya. Ia mendapatkan permainan fisik yang sama
seperti kakak dan adiknya.
Bermain gerobak-gerobakan dapat
melatih ke- kuatan tangan. Bapak akan memegang kedua kaki Tari dan membiarkan
Tari berjalan dengan menggunakan tangan.
Tari baru akan berhenti bergerak bila ia sudah merasa lelah.
Melak
cau melatih
keseimbangan. Kali ini arena permainan ada di atas tempat tidur. Tari berdiri
menggunakan tangan dan kepalanya. Kakinya dipegangi oleh bapak atau Aa−kakak
Tari. Setelah itu, pegangan dilepaskan. Tari harus mempertahankan posisi
berdirinya. Tapi biasanya, tak lama kemudian ia akan segera ambruk.
Arena permainan masih di atas tempat
tidur. Tiga kakak beradik itu bisa bermain roll
depan dan belakang sepuasnya. Atau kadang mereka membangun rumah- rumahan
menggunakan bantal, guling, boneka, serta selimut.
Permainan yang satu ini harus
menggunakan kekuatan tangan dan kaki serta keseimbangan tubuh. Kali ini Tari
memanjat kusen pintu dengan cara menempelkan kaki dan tangan kanan di salah
satu sisi kusen, sedangkan kaki dan tangan kiri di sisi yang lain. Lalu ia
merayap naik sampai atas. Terakhir, bergelantungan di bagian atas kusen–yang
merupakan lubang udara. Tari baru melepaskan pegangannya bila ia merasa lelah.
Ia akan meloncat dari posisinya bergelantungan.
Di antara semua permainan, ada satu
yang sangat disukai oleh gadis kecil berpipi tomat itu. Ia senang sekali dipunggu di atas pundak bapaknya. Bila
sedang dipunggu, Tari selalu tertawa
kegirangan sambil tidak lupa ber- pegangan pada kepala bapak.
Selain itu, Tari selalu menyempatkan
diri me- naklukkan pepohonan. Hal ini ia lakukan bila ikut bersama bapak ke
garasi mobil. Letak rumah yang berada di gang sempit membuat bapak harus
menitipkan mobil di rumah orang lain. Kebetulan salah seorang kenalan bapak
berbaik hati mengizinkan bapak menyimpan mobil di pekarangan rumahnya.
Pekarangan yang ia miliki cukup luas. Pemilik tanah tidak pernah menarik sewa
atas pemakaian lahan tersebut. Hanya pemberian ala kadarnya dari bapak sebagai
ucapan terima kasih. Letak garasi agak jauh dari rumah. Jarak antara rumah dan
garasi sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki.
Di sebelah garasi, pemilik tanah
menanam ber- bagai jenis tanaman. Di
antaranya ada pohon jambu biji.
Pohon
itulah yang selalu dijadikan “korban penyaluran hobi” Tari.
Pohon lain yang selalu diincar oleh
Tari–kali ini dengan teman-teman
lelakinya, adalah pohon yang berada tak begitu jauh dari garasi. Pohon itu
tumbuh di halaman sebuah rumah.
Bila sedang berbuah, Tari dan
kawan-kawannya kerap menyelinap untuk memanjat pohon tersebut. Mereka baru
turun dari pohon setelah saku mereka penuh dengan buah-buah ilegal. Anak-anak
yang nakal!
Suatu hari terjadi sedikit keributan
di depan sarang manusia-manusia kecil. Mama “dikeroyok” oleh empat orang tetangga.
Mereka memarahi mama. Kala itu mama tidak melawan. Hanya diam sambil berurai
air mata. Seperti kata pepatah, tak ada asap bila tak ada api. Empat orang
tersebut “mengeroyok” mama karena anak salah satu dari mereka terluka oleh
Tari.
Sebenarnya Tari tidak sembarangan
melukai orang lain. Ia hanya membela diri dari keroyokan teman- temannya. Tari
bahkan tidak tahu kenapa ia dikeroyok. Padahal ia tidak pernah mencari masalah.
Keempat anak yang mengeroyok Tari
beberapa tahun lebih tua dari Tari. Postur tubuh mereka tentulah lebih besar.
Jadi, selain kalah jumlah, Tari pun kalah besar!
Tapi sebelum tangan jahil mereka
menyentuh tubuh Tari, terlebih dulu Tari menancapkan kuku-kukunya ke wajah
salah seorang anak. Tapi bagaimanapun keras- nya usaha Tari untuk melawan, Tari
tetap mendarat juga di dalam got. Got kotor dengan air yang hitam legam dan
berbau busuk.
Ternyata si anak yang terkena sabetan
kuku Tari mengadu kepada ibunya. Mendengar pengaduan anaknya −tanpa cek and
recek lagi, sang ibu langsung mengumpul-
kan
pasukan. Tak lama berselang, ibu, kakek, nenek, dan bibi si anak sudah menyerbu
ke rumah Tari.
Setelah tragedi pengeroyokan
tersebut, mama dimusuhi oleh keluarga si “korban”. Terlebih ibunya. Bahkan bila
ibu si “korban” berpapasan dengan mama di gang, sang ibu menempelkan dirinya
rapat-rapat ke tembok–mirip bunglon yang mencoba berkamuflase. Takut
bersentuhan dengan mama. Maklumlah namanya juga gang kecil, selalu ada peluang
untuk bersenggolan ketika berpapasan.
Permusuhan itu berlangsung cukup lama.
Lebih dari satu tahun. Mereka berbaikan kembali setelah bapak dan ayah si
“korban” membangun kerja sama bisnis kecil- kecilan. Ternyata, uang meluluhkan
hati ibu si “korban”.
Peristiwa yang baru terjadi berbeda
dengan tragedi pendaratan di got. Kali ini Tari yang pulang sambil menangis.
Mengadu kepada bapak. Ia dikeroyok oleh “orang lapang”. Orang lapang yang
dimaksud adalah kakak beradik anak-anak tukang becak yang tinggal dekat
lapangan voli. Kulit mereka hitam. Jauh lebih hitam dari Tari. Perangai mereka
sangat kasar.
Aa juga pernah mengalami hal serupa.
Menjadi korban pemukulan anak-anak tersebut. Bahkan, selain dipukul, uang Aa
untuk belanja ke warung pun dirampas.
Bila sedang berselisih, mereka selalu
mengatakan, “Dasar orang kaya!” seolah menandakan mereka dididik dalam
kecemburuan yang besar terhadap orang-orang yang mempunyai kehidupan ekonomi
yang lebih baik dari orang tua mereka.
Pemukiman tempat Tari tinggal memang
sedikit kumuh. Ditandai dengan letak rumah yang berdempetan. Pergaulan masyarakat
di sana kurang baik. Kadang terjadi kekerasan antara para pemudanya.
Minuman keras sudah lajim tersedia di
warung-warung. Jadi tidak terlalu mengherankan bila didapati orang-orang mabuk
di pinggir jalan. Bahkan ada juga yang mabuk di depan masjid!
Namun, alih-alih membela, bapak malah
me- nyuruh Tari kembali ke lapang dan menantang penge- royoknya untuk berduel
satu lawan satu. Tentunya Tari lebih suka menangis daripada kembali ke tempat
pertarungan.
Mungkin garis takdir Tari selalu
menjadi pusat “masalah”. Semenjak Tari dalam kandungan saja sudah menunjukkan
anomali. Tari dilahirkan setelah mendekam di perut mama selama sebelas bulan.
Ketika dilahirkan pun, Tari menyedot
banyak perhatian. Saat itu seorang bidan dibuat kesal. Sekesal- kesalnya. Sang
bidan terkena marah oleh bapak.
Sewaktu bapak mengantar mama ke
klinik, bidan menyarankan agar mama dibawa pulang kembali karena prediksi
kelahiran masih agak lama. Tapi bapak bersikeras untuk tetap tinggal. Dan betul
saja, tak lama berselang, Tari sudah bisa melihat dunia untuk pertama kalinya.
Bapak pun murka karena bidan menyarankan
sesuatu yang bisa membahayakan mama dan si kecil Tari.
“Bu, kok anaknya hitam ya?” komentar
bidan yang membantu persalinan Tari. Jadilah Tari sasaran kekesalan sang bidan.
“Ah, Bu bidan... mau putih ikut ke
siapa? Ibu bapaknya hitam!” mama mencoba mencairkan suasana dengan mengiyakan
ejekan sang bidan. Mendengar jawaban mama yang diplomatis, hati sang bidan
luluh. Akhirnya ia tidak lagi memberengut.
Tari memang berbeda dengan kedua
saudaranya. Bukan hanya karena ia perempuan dan kedua saudaranya lelaki, tapi
kulitnya yang hitam berbeda dengan kakak dan
adiknya
yang putih. Selain itu, hidung
pesek Tari seolah
“terbenam” di antara pipi tembemnya. Sedang hidung kedua saudaranya
cukup mancung.
Postur tubuh Tari yang gemuk, kulit
yang hitam, dan rambutnya yang hanya tumbuh di ubun-ubun serta sisi kiri dan
kanan kepalanya, menyebabkan ia terlihat seperti celengan semar.
Setelah agak besar, Tari tak bisa
merangkak. Ia hanya menyeret tubuhnya untuk berpindah tempat–mirip dengan
suster ngésot. Tari baru bisa
berjalan tegak pada usia dua tahun.
Bukan hanya itu, sifat Tari kecil pun
sangat berlainan dengan saudara-saudaranya. Ia begitu keras hati. Bila
keinginannya tidak tercapai, bisa terjadi perang bintang: piring terbang dan
gelas melayang. Tari akan mengamuk!
Sekolah Alam
Pagi-pagi Tari sudah bersiap. Seragam
putih merah lengkap dengan dasi dan topi melekat di tubuh gempal Tari. Tidak
ketinggalan tas mungil terselempang di bahunya. Setelah sarapan, ia pun
bergegas pergi ke sekolah yang letaknya cukup jauh dari rumah. Lebih jauh dari
garasi. Hari ini adalah hari pertama Tari masuk sekolah.
Tari menyusuri jalan bersama mama. Ia
terlihat sangat riang. Tari senang sekali bisa bersekolah. Selama pelajaran
berlangsung, tak ada hal luar biasa yang terjadi. Namun, ketika mama menjemput
Tari sepulang sekolah, ia berkeras tidak mau pulang bersama mama. Ia memilih
pulang sendiri. Bahkan ketika mama membujuknya, dengan seketika benda-benda
beterbangan sebagai tanda penolakan Tari.
Di lain hari ketika mama menjemput
lagi, Tari sudah pulang bersama teman-teman lelakinya. Mereka tidak langsung
pulang ke rumah
masing-masing tapi malah pergi
ke sebuah lapangan. Tari dan teman- temannya bermain sepak bola di sana.
Akhirnya mama tak pernah lagi menjemput Tari.
Kebiasaan Tari menyelesaikan masalah
dengan perkelahian ternyata terbawa ke dalam pergaulannya di lingkungan
sekolah. Sehingga pada suatu ketika mama dipanggil untuk menghadap guru wali
kelas.
“Anak Ibu sering berkelahi dengan
teman- temannya. Ini bagaimana Bu?” sang wali kelas me- nyampaikan keluhannya
kepada mama. Mendengar keluhan tersebut, mama tidak kaget.
“Aduh Bu guru, kalau di rumah, saya bisa
jagain anak saya. Tapi kalau di sekolah, saya minta tolong sama Bu guru.” Mama
hanya bisa menjawab seperti itu. Mama tahu, pada dasarnya Tari berkelahi hanya
untuk membela diri. Hanya saja Tari hampir selalu menang melawan temannya.
Padahal, lawan yang dihadapi Tari hampir semuanya adalah anak lelaki. Hal ini
menyebabkan seolah-olah Tari yang memulai keributan karena teman- nya yang
kalah akan menangis.
Energi Tari seolah tak pernah habis.
Ia selalu punya cadangan energi yang sangat besar untuk menunjang semua
aktifitasnya. Hal ini disebabkan karena kebutuhan gizinya terpenuhi dengan
baik.
Walaupun keuangan keluarga terbatas,
mama selalu menyediakan hidangan bergizi–yang enak. Daging, telur, atau ikan
selalu tersedia di meja makan. Masih juga dilengkapi dengan sayur dan
buah-buahan.
Sebelum Tari memasuki usia sekolah, ia tidak mau menyentuh
nasi. Ia lebih tertarik memakan lauk-pauknya saja. Tari hanya memakan sedikit
sekali nasi. Daging atau ikan harus memenuhi porsi yang ia inginkan. Porsi yang
lebih banyak dari
saudara-saudaranya. Walau tak
suka nasi, tapi Tari sangat menyukai sayur dan buah. Terlebih kembang
kol. Mama pun tak kalah jurus menghadapi gaya makan si pipi bapau. Mama
mengganti nasi dengan kentang, ubi, singkong, atau bahkan biskuit dan roti.
Selain itu, Tari sangat menyukai
susu. Di tahun pertama sekolah pun ia masih minum susu dalam dot. Ketika
istirahat sekolah, Tari akan menyempatkan diri pulang ke rumah. Untuk ngedot
susu buatannya sendiri.
Prestasi Tari pada catur wulan
pertama tidaklah bagus. Ada beberapa nilai yang bahkan tidak melampaui
rata-rata kelas. Namun walaupun begitu, Tari tidak mendapat tekanan dari mama
dan bapak untuk memper- baiki nilai. Tidak ada perlakuan khusus yang diberikan
kepada Tari. Semua berjalan sewajarnya.
Tapi bukan berarti mama dan bapak
tidak peduli terhadap pendidikan Tari kecil. Mama tetap membimbing si pipi
tembem di sela kesibukannya mengajari Aa dan mengasuh adik Tari. Mama masih
sempat mendampingi Tari belajar membaca. Bukan hanya membaca buku teks
pelajaran, majalah pun ikut dilahap oleh Tari.
Kebetulan bapak berlangganan
majalah anak-anak.
Majalah tersebut disajikan dengan
menarik: full color. Di dalamnya ada
cerpen, cerita lucu, rubrik pengetahuan dan banyak cerita bergambar. Selain
itu, bapak juga berlangganan majalah berbahasa Sunda.
Bila majalah edisi baru tiba, Tari
langsung membawanya ke hadapan mama. Tari akan memaksa mama untuk membacakan
majalah tersebut untuknya.
Sambil mendengar mama membaca majalah,
Tari akan duduk manis di samping mama sambil melihat-lihat tulisan serta
gambar-gambar dalam majalah tersebut. Tari akan meminta mama terus membaca
sampai ia merasa bosan. Setelah itu, baru mama boleh berhenti.
Bila majalah anak-anak sudah selesai
dibaca, ia akan merengek minta dibacakan juga majalah bahasa Sunda.
Hasil dari kegiatan membaca memberi
dampak positif terhadap prestasi Tari di sekolah. Pada pembagian rapot cawu
kedua, Tari berhasil menjadi juara pertama di kelasnya−yang “padat penduduk”.
Jumlah siswa di kelas Tari mencapai lima puluh dua orang.
Sebenarnya ada kegiatan lain yang
sangat membantu Tari memperbaiki prestasinya. Tari senang bermain di rumah
tetangga sebelah. Bersama dengan putri tertua tetangganya, Tari sering bermain
sekolah- sekolahan.
Umur Elas−begitu nama teman Tari,
terpaut empat tahun di atas Tari. Elas seumur dengan Aa. Ketika bermain
sekolah-sekolahan, Elas menjadi guru dan Tari menjadi muridnya.
Ketika mereka bermain, disulaplah
ruang tamu yang sempit menjadi sebuah kelas. Pintu coklat muda menjelma menjadi
papan tulis besar. Ada bangku kecil tersedia di depannya. Bangku itu untuk
“menyambung tinggi” sang guru cilik. Kursi dan meja tamu dijadikan bangku
sekolah, tempat sang murid menuliskan pelajaran yang diterimanya.
Selain bermain sekolah-sekolahan,
Tari senang sekali membantu Elas meramu adonan gorengan: mencampur tepung
terigu serta bumbu dengan air, mengupas wortel lalu memotong-motongnya, dan
mengiris kol. Mama Au–panggilan mama Elas, membuka warung di rumah mereka.
Salah satu dagangan yang selalu laris adalah gorengan.
Setelah selesai mengadon, Tari sering
ikut me- layani pembeli. Padahal
tak ada seorang
pun yang memintanya melakukan
hal tersebut. Ia melakukan semuanya dengan sukarela.
Ternyata, dengan melayani
pembeli−secara tak langsung, Tari belajar penjumlahan dan pengurangan. Lengkap
sudah pelajaran yang didapat Tari dari “alam”.
Mengasah Kreativitas
Tari kecil sangat menyenangi
pelajaran keterampil- an. Menggambar, mewarnai, mencetak bentuk, serta meronce,
semuanya dilakukan dengan senang hati.
Di rumah pun, Tari selalu mencari
cara agar dapat menyalurkan kreativitasnya. Tangan mungil Tari tidak pernah
bisa diam.
Seringkali Tari menggambari agenda
atau buku saku bekas. Setelah bosan menggambar sendiri, ia akan mencari bapak.
Ia akan meminta bapak menggambarkan berbagai bentuk untuknya. Menggambar
manusia, bunga, ikan, atau burung. Bapak cukup jago menggambar. Gambarnya
lumayan bagus. Bila bapak sedang tidak di rumah, Tari akan meminta a
Agus–tetangga yang sering mengajak adik Tari bermain, menggambar untuknya. Ia
tidak meminta tolong kepada mama karena gambar mama tidak terlalu bagus.
Majalah anak yang dibaca Tari pun
membantu Tari mengembangkan kreativitasnya.
Majalah tersebut sering
menyertakan
bonus berupa mainan kreatif. Kebanyakan merupakan kegiatan merakit. Misalnya,
untuk mendapat- kan burung dalam bentuk tiga dimensi, Tari harus menggunting
sesuai pola yang tersedia. Lalu menekuk bagian-bagian tertentu serta
menyatukannya dengan lem. Begitu juga untuk mendapat bangunan rumah dalam
bentuk tiga dimensi.
Tari sangat lihai menggunakan gunting.
Kadang ia tidak hanya mengguntingi kertas, kursi di ruang tamu pun menjadi
sasaran gunting Tari.
Tari bahkan telah membuat “maha
karya” di kamarnya. Jemarinya yang mungil sangat mahir mengerik tembok. Ia
melakukan hal itu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Sedikit demi sedikit.
Tari sangat konsisten dengan “pekerjaannya”. Hingga lama kelamaan tembok yang
terkelupas menjadi semakin luas. Bata penyusun tembok pun menjadi terlihat dari
luar.
Tari memang tidak seperti kebanyakan
anak seusianya. Tari selalu ingin tahu dengan banyak hal. Bahkan ia bisa duduk
manis di depan televisi hanya karena ingin tahu bagaimana cara pembuatan kayu
lapis atau gerabah dari tanah liat. Ia bahkan bisa terkagum-kagum melihat ban
berjalan dalam proses pembuatan kayu lapis atau putaran tanah liat dalam
pembuatan gerabah. Di lain kesempatan, Tari pun akan terlihat sangat terhibur
ketika menonton aneka satwa dalam acara flora
fauna.
Tari selalu “mengganggu” para tukang
yang kebetulan sedang memperbaiki rumahnya. Ia akan membuntuti sang tukang yang
sibuk bekerja.
Tari dengan serius memperhatikan
tangan sang tukang yang cekatan menyusun batu bata atau memahat kayu untuk
dijadikan kusen pintu atau jendela. Ia selalu mencoba melakukan pekerjaan para
tukang: mengangkat cangkul untuk
mengaduk adonan semen dan pasir atau mencoba mengambil kuas dan mencat dinding.
Di siang hari Tari selalu “sibuk”.
Sehingga ia tak pernah sempat tidur siang. Kegiatan harian si pipi tomat memang
menguras tenaga. Sehingga tak heran bila ia sering tertidur di masjid ketika
mengaji. Jadwal pengajian memang cukup malam. Selepas magrib. Biasanya sampai
solat Isya Tari masih bertahan. Selepas solat, ia sudah tidak sadarkan diri.
Bila sudah begini, guru mengaji Tari terpaksa membopongnya pulang. Untung letak
mushola tidak terlalu jauh dari rumah. Kalau sudah bosan, sang guru akan
mengutus salah seorang muridnya untuk memberitahu mama atau bapak agar
menjemput Tari.
Kesenangan Tersendiri
Hari ini tak secerah biasanya. Awan
gelap ber- gelayutan menutupi wajah sang mentari. Langit mendung. Menjelang
siang, hujan mulai turun. Awalnya hanya rintik-rintik, namun lama kelamaan air
seperti dikucurkan dari langit. Hujan menjadi sangat lebat.
Permainan kelereng yang digelar oleh
Tari bersama teman-teman lelakinya terpaksa dibubarkan. Sebagian anak
memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Sebagian lagi–termasuk Tari,
malah bermain hujan-hujanan. Mereka baru pulang setelah tubuh mereka menggigil
kedinginan.
Setiap kali hujan lebat, bisa dipastikan
pemukiman padat penduduk itu diterjang banjir. Tidak adanya lahan penyerapan
air dan saluran air yang sangat kecil serta tersumbat oleh sampah, menjadi
penyebab banjir selalu datang.
Ketinggian banjir bisa mencapai lutut
orang dewa-sa. Bila hujan mulai
lebat, penduduk sudah memiliki ritual
tetap: membangun tanggul di depan pintu rumah masing-masing. Tanggul dibangun
untuk mengurangi jumlah air yang masuk ke dalam rumah.
Biasanya bila banjir telah surut,
Tari dan kedua saudaranya ikut “membantu” membersihkan rumah. Mereka membantu
mengeluarkan air dan lumpur dari dalam rumah. Namun kegiatan itu merupakan
kesenang- an tersendiri bagi Tari. Setelah semua lumpur dikeluarkan dari rumah,
ia akan bermain seluncuran di atas teras dengan menggunakan kain pel.
Tari baru akan berhenti bermain-main
bila sudah dilarang oleh orang tuanya. Itupun setelah bajunya basah semua atau
bila sapu telah mendarat di pantatnya. Baru kemudian Tari pergi ke kamar mandi.
Mandi air hangat yang dicampur dengan PK–serbuk antiseptik berwarna merah
keunguan.
Mandi pun merupakan kesenangan bagi
Tari. Ia akan masuk ke dalam baskom−yang sebenarnya sudah terlalu kecil
untuknya, lalu bermain-main sampai air di dalam baskom hampir habis.
Bila banjir melanda pemukiman itu,
Tari tidak akan pergi mengaji. Pasalnya mushola tempatnya mengaji sudah pasti
terendam banjir juga.
Rumah Baru
Ketika Tari duduk di bangku kelas
empat SD, bapak mengajak keluarga Tari pindah rumah. Rumah baru yang mereka
tempati lebih luas dari rumah sebelumnya. Jalannya pun bukan lagi berupa gang
sempit. Namun gang yang dapat dilalui sebuah mobil. Bahkan mereka mempunyai
garasi sendiri. Dan yang terpenting, rumah baru mereka bebas banjir.
Rumah itu berada di sebuah kompleks
perumahan yang baru saja dibangun. Orang menyebutnya kompleks Pos Giro karena
banyak pegawai PT. Pos yang membeli rumah di sana melalui KPR.
Lingkungan di sekitar kompleks
masih berupa pesawahan. Bahkan di belakang rumah keluarga Tari mengalir sebuah
sungai kecil. Sungai hanya terhalang oleh beberapa petak sawah.
Di lingkungan baru ini, Tari seolah
mendapat ruang yang seluas-luasnya untuk menyalurkan semua kreati- vitasnya.
Mencari anak katak di sawah, begitu
juga belut. Atau menyusuri sungai untuk mencari ketam. Tari pun mendapat
pasokan tanah liat yang berlimpah. Di rumahnya yang dulu, ia harus membeli
tanah liat tersebut. Ia senang membuat patung dari tanah liat. Patung yang ia
buat adalah patung penari balet. Tari senang melihat para penari balet
memperlihatkan kelenturan tubuhnya. Bukan
hanya
penari balet, ia pun senang melihat kelincahan para pesenam ritmik.
Rumah kosong juga tak luput dari
penjelajahan Tari bersama teman-temannya. Mereka biasanya memanjat kayu-kayu
penopang beton balkon untuk bisa masuk ke dalam. Jalan masuk ke rumah kosong
hanyalah melalui lubang angin di atas pintu. Sementara pintu depannya terkunci.
Di sini pun Tari bisa bersepeda
sepuasnya. Jalan utama kompleks cukup
besar. Bisa memuat dua buah mobil sekaligus. Sehingga Tari tak usah khawatir
menabrak apapun. Jalan utama di rumah yang lama cukup sempit. Hanya memuat
sebuah mobil saja. Bila ingin bermain sepeda, Tari harus pergi ke sekolah yang
letaknya dekat rel kereta api. Ia bisa bersepeda di lapangan upacara atau
mengitari pemukiman di sekitar sekolah. Jalanan di sana lebih sepi.
Bila Tari bosan bermain di luar,
ia biasanya bermain di rumah. Bermain tali, boneka, atau bekel. Sendirian.
Kadang ia berkunjung ke rumah teman-temannya yang masih berada dalam satu
kompleks. Tetangga sebelah rumah pun mempunyai putri yang sebaya dengannya.
Malah mereka satu kelas di sekolah.
Kebetulan tetangga sebelah juga
membuka warung. Tari pun sering berada di warung melayani pembeli. Kadang-kadang
ia membantu membuat es bul- bul. Dua potong pepaya
sebesar dua ruas jari dimasukkan ke dalam plastik, lalu disiram dengan air gula
dan plastik pun diikat. Setelah itu tinggal dimasukkan ke dalam freezer. Bagian yang paling mengasyikkan
adalah mencicipi es bul-bul buatan kemarin yang sudah beku. Nyam… manis-manis
dingin!
Namun, mushola tempat Tari mengaji
jauh dari rumah. Tari harus berjalan sampai ujung kompleks. Setelah itu ia
masih harus melewati beberapa petak sawah dan menyusuri sedikit jalan menanjak.
Biasanya Tari pergi mengaji bersama tiga orang temannya. Mereka tinggal di
kompleks yang sama. Untungnya jadwal mengaji di sana lebih sore. Bada Asar.
Kebiasaan Tari memanjat
pepohonan masih belum berhenti. Sekarang yang menjadi target pemanjatannya
adalah pohon jambu biji di depan mushola.
Sebenarnya guru mengaji Tari selalu
memper- ingatkan agar anak-anak perempuan tidak menaiki pepohonan. Bukan Tari
namanya bila menurut hanya karena peringatan seperti itu. Bila hendak memanjat
pohon, ia akan datang lebih awal dari waktu mengaji yang seharusnya. Agar ia
punya cukup waktu untuk memanjat dan memakan jambu tanpa ketahuan sang guru.
Akhir Sebuah Petualangan
Seperti biasa, setelah bermain di
rumah Rika, Tari meminta izin untuk memanjat pohon kersen yang ada di
pekarangan rumah.
Tari selalu kegirangan bila
dapat mengambil sendiri buah kersen di pohonnya. Sudah terbayang rasa buah
sebesar-besar kelereng yang akan menjadi santapannya.
Buah kersen muda sepintas mirip leunca muda. Hanya saja kulit leunca lebih tipis dan terlihat
mengkilap. Warnanya−yang hijau, pun sedikit lebih tua dari kersen. Kulit kersen
muda cukup tebal dengan bagian dalam yang terdiri dari biji yang banyak sekali.
Setelah masak, kulit kersen menjadi sedikit lebih tipis dan berubah warna
menjadi merah mengkilap.
Tari mendongak ke atas. Menyusun
“strategi”. Ia memilih “jalan” mana yang akan dilaluinya. Setelah tergambar
rute pemanjatan yang akan ditempuhnya, Tari mulai menaiki pohon yang terletak
di pinggir balong. Balong adalah kolam ikan tanpa tembokan
di pinggir dan
dasarnya.
Semakin ke atas, dahan-dahan pohon semakin kecil. Sehingga Tari harus lebih
jeli memilih dahan yang bisa dipijak. Dengan hati-hati ia memijakkan kaki kanan
ke dahan yang lebih tinggi dari posisinya sekarang. Sementara tangan kiri
berpegangan pada dahan yang sejajar dengan bahunya. Tangan kanan Tari hendak
meraih dahan yang ada beberapa senti di atas kepalanya.
Baru saja tangannya terjulur, Tari
melihat ada yang aneh pada dahan yang akan diraihnya. Ia pun mengurung- kan
niatnya. Ia memperhatikan dahan di atas kepalanya baik-baik. Ya ampun! Ternyata
di dahan itu bertengger bunglon yang cukup besar. Ukurannya hampir sebesar
lengan Tari. Sejenak Tari tertegun.
“Wua!!! Londok!!!” teriak Tari kemudian. Kakinya terasa kaku untuk sesaat.
Setelah keberaniannya ter-kumpul kembali, ia pun beringsut turun dengan
perlahan. Baru kali ini ia melihat bunglon secara langsung. Dengan ukuran yang
besar pula. Semenjak kejadian itu Tari tak pernah lagi memanjat pohon. Kapok!
Jebakan
Tari bersama teman-temannya sedang
sibuk menggali tanah dengan bilahan bambu yang mereka temukan di kebun
tetangga. Mereka tak menghiraukan teriknya sinar mentari yang menyengati kulit
mereka.
Lahan tempat mereka bermain adalah
sepetak tanah kosong di ujung jalan. Lahan yang memisahkan jalan dengan
pesawahan itu letaknya lebih tinggi. Sehingga untuk menuju ke lahan tersebut
harus menaiki beberapa anak tangga. Anak tangga yang dimaksud hanyalah berupa
tanah yang disengked.
“Ayo! Mana airnya!” seru Tari berlaga
mengoman- do. Tangan mungilnya menghamparkan plastik ke dalam galian tanah.
Ujung-ujung plastik dibiarkan menjulur keluar dari galian. Tari meletakkan batu
di atas plastik yang terjulur tadi. Lalu menimbuni juluran tersebut dengan
tanah.
Setelah selesai dibuat, “kolam” diisi
dengan air yang didapat dari sungai. Sebagai penghuninya, beberapa
anak
katak−berudu, dimasukkan ke dalam “kolam”. Berudu-berudu tersebut hasil buruan
teman-teman Tari dari sawah.
Dimulailah pesta pengejaran berudu.
Tangan- tangan mungil itu bergantian masuk ke dalam “kolam”. Mengejar berudu.
Para berudu berenang tunggang langgang menghindari tangan anak-anak jahil itu.
Sesekali tawa anak-anak tersebut pecah. Mereka asyik dengan mainan barunya.
Setelah agak lama bermain dengan para
berudu, mereka menyudahi petualangan hari itu. Mereka sepakat akan bertemu
kembali esok hari. Sepulang sekolah. Lalu mereka pulang ke rumahnya
masing-masing. Mereka harus pergi mengaji.
Keesokan harinya, sepulang sekolah
Tari langsung menyerbu meja makan. Ia memburu makan siang. Seperti biasa, ia
makan dengan sangat lahap. Di sekolah, energinya digunakan habis-habisan.
Selain digunakan untuk berpikir, aktifitas Tari sebelum masuk kelas dan ketika
istirahat cukup menguras tenaga. Ia dan teman- temannya masih sempat bermain loncat
tinggi, galah jidar, pris-prisan, atau kucing-kucingan. Sesekali Tari masih
menekuni kebiasaan lamanya. Berkelahi. Namun, semakin bertambah usia, Tari
sudah sangat jarang terlibat adu tinju.
Selesai makan, Tari berganti baju dan
mencuci piring-piring kotor. Tak lama kemudian, setelah ia selesai mencuci, teman-temannya datang
mengajak bermain.
“Jangan sore-sore pulangnya!” seru
mama.
Tari mengiyakan pesan mama sambil
berlari ke pintu depan. Beriringan mereka menuju ke tanah kosong−yang hanya
terhalang satu rumah dari rumah keluarga Tari.
Sesampainya di sana, mereka sangat
terkejut. Para berudu sudah bergelimpangan tak bernyawa dalam “kolam” buatan
mereka. Ternyata “kolam” tersebut bocor! Akhirnya mereka mengubur berudu-berudu
yang telah tewas itu.
Setelah selesai “pemakaman”,
bocah-bocah kecil itu berkerumun mengelilingi “kolam” yang sudah kering. Entah
siapa yang memberi ide, namun tak berapa lama kemudian mereka sibuk membuat
jebakan.
Tari sibuk memperdalam “kolam”.
Sedang teman- temannya yang lain berpencar mencari ranting-ranting kecil dan
lidi. Kemudian mereka mengumpulkan hasil pencarian mereka di pinggir “kolam”.
Dengan serius, mereka menyusun kerangka dari ranting dan lidi untuk menutupi
“kolam”. Menyisakan ruang kosong di bawahnya.
Tari lalu menutup kerangka tersebut
dengan plastik bekas “kolam” berudu. Ujung-ujung plastik dibiarkan menutupi
tanah di sekitar galian. Tari lalu menimbuni plastik di sekitar bibir “kolam”.
Setelah itu, teman-temannya menimbuni kerangka ranting dengan sangat hati-hati
agar jebakan tidak jebol.
“Selesai! Kita tungguin orang lewat
yuk!” Tari tersenyum melihat jebakan yang sudah jadi. Selanjutnya tinggal
menunggu mangsa. Tak banyak orang yang melalui jalan ini. Jadi, mereka harus
sedikit bersabar. Bocah-bocah jahil itu duduk-duduk di undakan tanah yang lebih
tinggi−yang jaraknya beberapa meter dari jebakan.
Setelah cukup lama menunggu, dari
kejauhan terlihat rombongan anak remaja pulang bermain bola. Mereka melintasi
sawah sambil bersenda gurau. Sesekali mereka tertawa gelak. Semakin lama
rombongan itu semakin mendekat.
Anak yang berjalan paling depan telah
meng- injakkan kakinya di anak tangga pertama. Ia menapaki anak tangga itu satu
per satu. Diikuti oleh teman- temannya. Sampailah ia di anak tangga terakhir.
Tari dan teman-temannya menunggu dengan harap-harap cemas. Satu langkah saja,
maka anak itu akan menginjak jebakan.
Satu…dua… tiga… Brus! Si anak
terperangah. Jebakan itu hanya memuat satu kakinya. Dalamnya pun hanya satu
jengkal saja. Tapi ia cukup kaget karena tak menyangka sebelumnya kalau tanah
yang diinjaknya bakal amblas. Ia melihat ke bawah, lalu melihat ber- keliling.
Ia hanya mendapati bocah-bocah
ingusan yang sedang terpingkal-pingkal mentertawakannya. Pasti pe- kerjaan
anak-anak kecil ini, pikirnya. Kena juga ia dikerjai mereka. Tanpa banyak
bicara, ia pun berlalu diam-diam.
Setelah semua rombongan anak-anak itu
berlalu, Tari dan teman-temannya pun ikut meninggalkan tanah kosong.
Musim Layang-layang
Sore hari. Di langit yang cerah
tampak banyak sekali layang-layang. Ada yang terbang dengan tenang. Ada pula
yang berkejaran.
Setelah seharian bermain, Tari
tinggal di rumah sore itu. Ia tidak mengaji karena hari Minggu pengajian libur.
Setelah mandi ia pergi ke halaman belakang. Ia lalu naik ke tempat jemuran
melalui tangga besi.
Tempat jemuran terhubung dengan atap
rumah. Hanya dibatasi oleh tembok setinggi paha orang dewasa. Tari menaiki
tembok pemisah itu. Kemudian ia mulai menapaki atap yang terbuat dari asbes.
Sebagian atap rumah keluarga Tari memakai asbes, sebagian lagi memakai genteng.
Perlahan tapi pasti, diinjaknya bagian asbes yang berpaku. Paku menandakan di
bagian bawah asbes terdapat tulang-tulang kayu. Sehingga ia yakin tidak akan
terjerumus jatuh.
Akhirnya ia sampai ke tembok pembatas
atap rumahnya dengan atap rumah
tetangga. Ia pun terus ber-
gerak naik menuju “puncak” atap.
Setelah sampai di sana, Tari mengambil posisi duduk. Pemandangan di sini indah
pikir Tari. Ia sangat menikmati keberadaannya di atas sana. Sementara di bawah
sedang terjadi keributan. Para tetangga khawatir melihat Tari berada di atas
atap. Sendirian.
Sebenarnya Tari ingin bermain
layang-layang juga. Namun ia tak bisa menerbangkannya. Ia tak bisa
mempertahankan posisi layangan agar tetap di langit. Layangannya selalu saja
menukik ke bawah. Sementara ia tak tahu harus menarik atau mengulur benang
layangan- nya.
Bukan Pilihan
“Eh, kenapa kamu dikerudung? Botak
ya?” mimik Evi sangat serius. Tak ada tanda-tanda bila ia sedang bergurau. Tari
sempat terkejut mendengar pertanyaan seperti itu. Bukannya langsung menjawab
pertanyaan Evi, Tari malah bengong. Sibuk kembali bertanya dalam hati. Masa iya dia ga tahu? Apa dia ga ngaji?
“Emh… perempuan kan wajib menutup
aurat. Jadi, kita harus pake kerudung!” akhirnya Tari memberi penjelasan kepada
Evi. Gadis berambut pendek itu hanya mengerutkan dahi untuk menanggapi jawaban
Tari.
Bila Tari mendapat pertanyaan itu dua
tahun yang lalu, sudah bisa dipastikan jawabannya akan ngawur. Ia memakai kerudung karena disuruh guru mengajinya. Pasti
jawaban itu yang akan terlontar dari mulut Tari. Kala itu ia belum mengerti
bahwa berkerudung adalah kewajiban setiap muslimah. Wajibnya berkerudung setara
dengan wajibnya solat. Jadi berkerudung bukanlah sebuah pilihan, tapi
keharusan.
Tari memutuskan untuk menutup
auratnya tanpa meminta persetujuan mama dan bapak. Kedua orang tua Tari baru tahu mengenai keputusannya setelah
melihat seragam yang dibagikan oleh sekolah. Kala itu Tari baru saja duduk di
bangku SMP. Mama bahkan menyangka seragam Tari tertukar dengan temannya. Namun,
keputusan Tari tidak ditentang oleh mama dan bapak.
Waktu itu langkah yang diambil Tari
bukanlah langkah populer di kalangan remaja seusianya.
Jumlah siswa yang mengenakan kerudung
di sekolah Tari bisa dihitung dengan jari.
Bahkan selama dua tahun pertama,
hanya Tari seorang yang berkerudung di kelasnya. Baru setelah tahun ketiga, ada
dua temannya yang menemani Tari ber- kerudung.
Dalam masyarakat pun sangat jarang
dijumpai pemudi yang mengenakan kerudung. Kebanyakan, pemakai kerudung adalah
nenek-nenek yang sudah banyak beruban.
Kala itu, banyak hal yang merintangi
seorang muslimah ketika akan menutup aurat. Perempuan yang berkerudung sering
mendapat perlakuan yang tidak layak dari orang-orang di sekitarnya.
Dalam dunia pendidikan, beberapa
sekolah mempersulit keberadaan mereka. Para muslimah itu dilarang memakai
kerudung yang menutup nama dan lambang OSIS yang terjahit dalam kemeja mereka.
Dengan kata lain, kerudung yang
dikenakan oleh para siswanya haruslah super pendek. Padahal–menurut al-Quran,
kerudung seharusnya menutupi dada.
Mereka pun harus menanggalkan
kerudungnya ketika pengambilan foto ijazah. Foto siswa dalam ijazah harus
terlihat telinga. Sebuah peraturan yang absurd!
Dalam dunia kerja, berlaku
deskriminasi yang tidak kalah kejam. Beberapa perusahaan bahkan tidak sudi
menerima pegawai yang mengenakan kerudung.
Para orang tua pun menyumbang peran
yang tidak sedikit dalam pembatasan gerakan berkerudung ini. Pada umumnya
mereka melarang anak-anaknya berkerudung karena takut anak-anaknya sulit
mencari kerja dan sukar mendapat jodoh.
Hal ini terjadi pada salah seorang
kenalan Tari. Ia sampai tidak ditegur oleh bapaknya dan tidak diberi uang jajan
selama satu bulan karena keputusannya untuk berkerudung tidak disetujui oleh
sang bapak.
Syukurlah, walau pada awalnya orang
tua Tari tidak terlalu mendukung keputusannya untuk ber- kerudung, namun Tari
tak mendapat reaksi keras seperti yang dialami oleh kenalannya.
Paling Cantik
Hari ini adalah hari pertama Tari
mengendarai motor sendiri. Kemarin ia baru saja mendapatkan SIM, Surat Izin
Mengemudi. Biasanya ia memakai angkutan umum ke manapun ia pergi. Termasuk ke
sekolah.
Jarak sekolah Tari cukup jauh dari
rumah. Lama perjalanan dengan menggunakan angkutan umum sekitar empat puluh
lima menit sampai satu jam. Itu sudah termasuk macet di perjalanan dan jadwal
mengetem angkot. Namun dengan motor, waktu tempuh rumah- sekolah dapat
dipersingkat. Menjadi lima belas menit.
Tari tersenyum memandangi bebek
tunggangan- nya. Ternyata umur motor Tari paling tua di garasi−motor, sekolah.
Tapi tak masalah, yang penting ia bisa sampai ke sekolah lebih cepat dan bisa
menghemat ongkos.
Satu hal lagi yang membuat Tari
tersenyum sendiri: ia adalah makhluk tercantik di garasi motor. Setahu Tari, ia
satu-satunya murid perempuan yang mengendarai motor ke sekolah. Kebanyakan
teman-teman perempuan Tari memakai kendaraan umum. Ada
satu
dua orang yang mengendarai mobil sendiri.
Setelah mengenakan helm ungunya, Tari
menyala- kan motor. Untung garasi sedikit lengang. Sebagian penghuninya sudah
keluar. Sehingga ia tidak kesulitan mengeluarkan motor dari garasi.
Baru beberapa meter meninggalkan
garasi, Tari sudah dikejutkan oleh sura riuh beberapa murid di ujung jalan.
Ternyata mereka teman sekelas Tari. Enam atau tujuh anak berdiri di sisi kiri
dan kanan jalan. Mereka bertepuk tangan sambil memanggil-manggil nama Tari.
O.. o.. Rupanya teman-teman Tari
mengadakan acara penyambutan untuk makhluk tercantik di garasi. Ternyata kabar
cepat menyebar. Padahal tadi pagi ia hanya berpapasan dengan seorang teman saja
di garasi.
Melihat ulah teman-temannya, Tari
hanya bisa tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
Ada-ada
saja. Bisik Tari
dalam hati.
Namaku
Mentari Indah Kartika
Matahari belum juga terbangun dari
lelapnya. Sementara bumi hanya diterangi temaram lampu-lampu. Tapi Tari sudah
harus menyusuri jalanan basah. Sendiri. Selama perjalanan, ia tenggelam dalam
diam. Tak ada teman sekedar pemecah sunyi. Hanya derum mobil dan motor−yang
sesekali lewat, yang sanggup memberi warna pada suasana. Tapi tak lama.
Beberapa detik saja.
Hujan semalam menyisakan genangan air
di sana- sini. Sesekali Tari harus mengangkat rok dan berjalan jinjit guna
menghindari cipratan air yang tercipta oleh langkahnya sendiri.
Tari melirik jam di tangan kirinya.
Lima menit menuju jam setengah enam. Tari berangkat sepagi ini karena letak
kampusnya cukup jauh dari rumah. Bila kuliah jam tujuh, ia harus berangkat jam
enam lewat dua puluh menit. Hanya terlambat pergi sepuluh
menit dari rumah,
bisa
menyebabkan Tari terlambat setengah jam tiba di kampus.
Kemacetan terjadi sepanjang perjalanan−padahal
waktu tempuh rumah-kampus tanpa kemacetan kurang dari satu jam.
Dingin! Tari merapatkan kedua
tangannya di depan dada dan mempercepat
langkah. Rumah Tari tak begitu
jauh dari jangkauan
angkutan umum. Cukup berjalan kaki lima menit, Tari sudah
bisa menyetop angkot.
Tari beruntung mempunyai rumah yang
ber- dekatan dengan terminal bayangan. Tempat angkot- angkot memutar rute
perjalanan. Terminal resmi ada di pasar induk Gede Bage. Masih sepuluh menit
perjalanan dari terminal bayangan. Jadi Tari tak usah khawatir tidak kebagian
angkot.
Di terminal Cicaheum, Tari harus
berganti angkot. Bila hari masih pagi, sudah dapat dipastikan sebagian besar
angkot akan mengetem. Jadi harus pandai memilih angkot yang kiranya langsung
berangkat.
Pagi ini Tari beruntung. Angkot
Cicaheum-Ledeng yang dicegatnya langsung berangkat.
Bismika
Allohuma ahya wa bismika amuut.
Tari mengucapkan doa dalam hati. Beberapa menit kemudian, ia pun terlelap.
UPI, Universitas Pendidikan
Indonesia, di situlah Tari telah menghabiskan enam semester untuk berkuliah.
Kampus UPI dulunya bernama IKIP, sebuah institut yang terkenal sebagai pabrik
guru.
Tapi sekarang telah dibuka
jurusan-jurusan non kependidikan. Para mahasiswa jurusan non kependidikan
notabene dipersiapkan untuk terjun ke bidang profesi yang lebih luas.
Menjadi guru merupakan impian Tari
sedari kecil. Sejak duduk di bangku SD, ia selalu senang bila ada teman yang
memintanya untuk menjelaskan kembali pelajaran yang pernah didapatnya. Ia akan
lebih senang lagi bila sang teman bisa memahami penjelasannya.
Tari resmi diterima menjadi mahasiswa
UPI sejak namanya terpampang di koran sebagai salah satu dari ribuan siswa SMA
yang lulus UMPTN. Mentari Indah Kartika, begitulah nama yang tercantum dalam
koran. Tari adalah nama kecil sebagai panggilan di rumah.
Orang tua Tari memberikan nama yang
sangat bagus. Bahkan Tari selalu menganggapnya terlalu bagus. Tari tak tahu apa
arti namanya yang sebenarnya, tapi yang jelas, Mentari adalah matahari. Sebuah
bintang. Benda langit yang mempunyai sinar sendiri. Matahari menjadi pusat tata
surya. Planet-planet beredar mengelilinginya. Ia merupakan sumber energi bagi
planet-planet tersebut. Sedang Indah, menunjukkan pada sesuatu yang cantik dan
elok.
Tapi untunglah dari segi fisik Tari
tidak terlalu jelek. Sehingga tidak memalukan mempunyai nama sebagus itu. Dalam
rentang nilai dari enam sampai sembilan setengah, bolehlah Tari mendapat nilai
delapan.
Tari memang tidak setinggi adik
perempuannya, atau seputih adik lelakinya. Tapi kulitnya masih bisa disebut
coklat muda alih-alih hitam. Bahkan kulitnya sedikit kuning. Walau hidungnya
tak semancung hidung kakaknya, tapi Tari tidak bisa disebut berhidung pesek.
Walau hidungnya tidak lancip sempurna, batang hidung Tari dapat terlihat dengan
jelas. Kacamata pun masih bisa bertengger di hidung "tumpul" yang ia
punya.
Narsis? Tari tak bermaksud begitu. Ia
hanya mencoba mensyukuri segala
sesuatu yang ada
pada
dirinya
sekarang. Termasuk namanya yang “gagah gemulai”. Sewaktu kecil Tari disebut
anak jelek oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka selalu membandingkan Tari
dengan saudara-saudaranya.
Cap sebagai anak jelek begitu lekat
dalam ingatan Tari. Bahkan ketika duduk di bangku SMA sekalipun, Tari masih
merasa sebagai itik buruk rupa. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai
menyadari bahwa ia tak sejelek yang disebutkan oleh orang-orang.
Ketika pertama kali sampai di UPI,
Tari sempat berpikir jangan-jangan ia salah masuk kampus. Jangan-jangan ia
memasuki sebuah universitas Islam. Pasalnya, banyak sekali penghuni kampus yang
mengenakan kerudung. Sementara di SMP dan SMA, Tari sudah terbiasa melihat para
siswi tidak berkerudung.
Setelah menempuh perjalanan selama
satu setengah jam, Tari akhirnya tiba di kampus UPI.
Ia langsung menuju gedung JICA.
Sebuah gedung perkuliahan untuk fakultas MIPA. Gedung itu baru saja rampung
dibangun beberapa waktu yang lalu. Menurut rumor, gedung tersebut adalah hibah
dari Jepang. Bahkan mandor proyeknya pun “diimpor” langsung dari negeri sakura
tersebut. Menurut salah seorang dosennya, pengajuan proposal untuk “permintaan
bantuan” tersebut dilakukan cukup lama. Selama bertahun-tahun.
Sebelum ada gedung JICA,
mahasiswa−terutama mahasiswa tingkat awal, harus mengadakan long march untuk berpindah-pindah gedung
selama jam perkuliahan. Gedung setiap jurusan letaknya terpisah-pisah.
Sekarang, kegiatan semua jurusan MIPA terpusat di satu gedung. Hal ini sangat
menguntungkan mahasiswa karena mereka dapat menghemat banyak waktu dan tenaga.
Separuh Jiwa
Dokter dengan rambut yang sudah mulai
beruban itu tersenyum ketika selesai memeriksa Tari. “Saya kenapa dok?” Tari
penasaran dengan hasil diagnosa dokter di hadapannya.
Kemarin malam dada Tari didera sakit.
Rasanya seperti ditusuk pisau. Ditusuk dari dada tembus ke punggung. Bahkan
selama beberapa detik Tari tak bisa menghirup udara dengan leluasa.
Semenjak jantung Tari mengalami
pembengkakan empat tahun silam, hampir setiap hari dadanya terasa sesak.
Terlebih bila ia terlampau banyak kegiatan dan tubuhnya kelelahan, rasa sakit
seperti semalam hampir bisa dipastikan akan datang menyerang.
Beberapa kali Tari datang
memeriksakan diri ke dokter. Para dokter umum di klinik yang berada di kantor
bapak. Namun kata dokter, Tari baik-baik saja. Hari ini Tari datang ke dokter
penyakit dalam di rumah sakit tempat Tari dirawat empat tahun yang lalu.
“Ya, seperti yang pernah saya bilang,
ada bekuan darah lepas ke jantung. Ini yang mengakibatkan klep yang seharusnya
membuka malah nutup atau sebaliknya.” Sang dokter mencoba menerangkan dengan
bahasa yang mudah dimengerti oleh seorang mahasiswa jurusan kimia.
Dahi Tari berkerut, apa yang
sebenarnya terjadi pada jantungnya? Tari tidak begitu paham dengan penjelasan
sang dokter. Dulu, sang dokter hanya menyebutkan tentang bekuan darah yang
lepas ke jantungnya. Ia tak pernah menyinggung masalah klep jantung.
“Terus, cara
pengobatannya gimana dok?”
walau tidak mengerti, Tari
mencoba mencari tahu bagaimana cara menyembuhkan jantungnya.
“Itu harus dioperasi.” jawab sang
dokter dengan tenang.
Operasi? Separah itukah kondisi
jantungnya? Tari ingin bertanya lebih banyak lagi, namun antrian pasien di
belakangnya masih panjang, Tari pun hanya bisa mengajukan satu pertanyaan
terakhir.
“Ini dok, saya juga sering lemas,
kenapa yah?”
“Kalau lemas makan permen saja!”
jawab sang dokter sambil tersenyum. “Jangan terlalu dipikirkan ya!” lanjutnya
lagi. Ia pun kemudian menuliskan sebuah resep.
Maksudnya
apa? Ah, mungkin dokter hanya ingin mengusirku secara halus. Dokter tak punya
banyak waktu untuk meladeni pertanyaan-pertanyaanku. Tari berkata- kata dalam hati.
Esoknya, dengan kondisi dada yang
masih terasa sesak dan sedikit perih, Tari pun bergegas pergi kuliah. Sekalian
ke kampus, Tari mampir ke warnet. Mencari tahu informasi tentang kelainan klep
jantung. Artikel-artikel yang ia temukan membuatnya kaget bukan kepalang.
Di sana tertulis bahwa kelainan klep
termasuk dalam kategori jantung bocor. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan
penyakit tersebut. Obat-obat yang diberikan hanya untuk memperlambat laju
kerusakan jantung. Solusi yang paling mungkin hanyalah tindakan operasi.
Tubuh Tari yang lemas rasanya
melayang ketika melangkahkan kaki keluar dari warnet. Jiwanya seperti
tercerabut secara paksa dari raga. Raganya berjalan tanpa jiwa.
Sesampainya di
al-furqon, Tari melepas sepatunya. Perlahan ia menyusuri koridor berlantai hitam.
Satu demi satu ia titi anak tangga yang menghubungkan koridor dengan balkon.
Raganya masih tanpa jiwa. Semua kejadian ini rasanya seperti mimpi. Selama
empat tahun Tari tak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tari hanya menyangka
jantungnya mengalami pembeng- kakan. Ia pun menyangka setelah keluar dari rumah
sakit, jantungnya akan pulih seperti biasa.
Tak ada seorang
pun di atas balkon. Jadwal solat duhur sudah berlalu dua jam yang lalu. Tari
menyandarkan badannya di tiang balkon sebelum akhirnya melorot ke bawah.
Pertahanan Tari runtuh.
Aaa….!
teriak Tari dalam hati. Matanya memanas dan air mulai menggenanginya. Baal di
hati Tari telah hilang bersamaan dengan datangnya ribuan jarum menancapinya.
Sakit!
Marah, sedih,
kecewa, tak berdaya, semuanya campur aduk menjadi sebuah rasa yang tak tahu
harus ia namakan apa. Air mata sudah tidak terbedung lagi. Tari menangis
sejadinya.
Kehidupan macam apa yang akan kujalani? teriak Tari lagi dalam hati.
Hening. Tak ada
jawaban. Hanya pilar-pilar yang diam membisu. Mungkin mereka sedang mengejek
kelemahan hatinya. Tapi Tari tak peduli. Ia terus menangis, menangis, dan
menangis.
“Aku
cacat…” gumam Tari lirih di sela isak yang semakin jarang. Tari menghela napas
panjang, ia rasakan ribuan kilo beban menghimpit dadanya. Sesak. Berkali ia mencoba memenuhi rongga dadanya dengan
udara. Tubuhnya lemas.
Air mata kini
telah mengering, tapi jiwa belum juga kembali pada raganya.
Hampa. Hidupnya
seperti tiada arti lagi. Tari tak berani membayangkan hidupnya ke depan.
Rasanya peristiwa
itu baru saja terjadi kemarin. Ingatan Tari melayang pada kejadian empat tahun
silam. Suatu siang Tari sedang mengendarai bebek hitamnya di jalanan. Tari
tidak berkonsentrasi. Terlalu banyak melihat ke samping kiri jalan.
Entah apa yang
terjadi, tiba-tiba Tari hilang kendali dan menabrak mobil di depannya.
Kejadiannya begitu cepat. Bahkan Tari tak ingat saat-saat ketika ia terjatuh.
Kecelakaan itu menyebabkan roda depan
motornya penyok. Step bergeser lebih dari empat puluh lima derajat. Sayap kiri
motor habis tak bersisa.
Sementara Tari jatuh terseret sejauh
beberapa meter oleh motornya sendiri. Tubuhnya tertindih motor dengan sisi
badan sebelah kiri di bagian bawah. Alhasil, engkel kirinya retak. Ada luka
lecet pada betis dan tulang panggul bagian kiri.
Setelah tahu bagian mana yang cedera.
Tari tak lagi datang ke dokter. Tari meneruskan pengobatan ke bengkel tulang.
Sebulan setelah
kecelakaan, sepulang dari
bengkel
tulang,
tubuh Tari tiba-tiba ambruk. Tenaganya seolah terkuras habis. Bumi seperti
berputar. Pandangan menjadi gelap. Hanya berkas jingga dan ungu berkelebatan.
Rasa dingin merayapi tubuhnya
perlahan. Beberapa menit kemudian tubuh Tari menjadi sedingin es. Ia menggigil
layaknya anak kecil yang terlalu lama berendam di kolam renang. Giginya
bergemelutuk. Napasnya tersengal.
Rasanya udara hanya sampai di
tenggorokan. Tari merasakan sakit yang teramat sangat di dada kirinya. Sakitnya
menusuk sampai ke punggung. Tari pun dilarikan ke rumah sakit.
Ternyata jantungnya mengalami
pembengkakan. Ini terjadi karena trombus−yang menjadi penyumbat pembuluh darah,
di panggulnya lepas ke jantung. Selain lari ke jantung, bekuan darah itu bisa
saja lari ke otak dan mengakibatkan stroke.
Mungkin hal itu tak perlu terjadi
bila penyumbatan pembuluh darah telah diketahui sejak dini. Padahal tanda-
tandanya sangat jelas terlihat. Bila bangun tidur, ukuran kaki kiri Tari lebih
kecil dari kaki yang satunya. Namun setelah beraktifitas seharian, kaki kirinya
membengkak. Rasanya sakit. Pedih. Namun karena Tari hanya berobat ke bengkel
tulang, semuanya jadi terlambat.
Tari tak bisa berjalan tanpa bantuan
tongkat. Hal itu menyulitkan aktifitasnya. Selain itu, staminanya ambruk.
Selama hampir sebulan lebih, Tari
hanya bisa tahan membuka mata selama dua jam. Setelah itu, Tari akan tertidur.
Bila terbangun, Tari akan terjaga selama dua jam. Kemudian tertidur kembali.
Begitu seterusnya. Kondisi staminanya berangsur membaik setelah ia dirawat
selama seminggu di rumah sakit.
Karena kecelakaan yang menimpanya,
Tari tidak bisa bersekolah selama empat bulan. Padahal waktu itu ia sudah kelas
tiga SMA. Empat atau lima bulan lagi Tari harus menghadapi EBTANAS–(Ujian Nasional).
“Jantungku cacat...” gumam Tari lagi. Hanya
masalah waktu sampai tubuhnya ambruk. Dalam benaknya, Tari berpikir, semua
organ tubuhnya akan ikut terganggu. Komplikasi. Jantung layaknya nyawa bagi
sebuah jasad. Bila ia terganggu, yang lain tidak akan baik- baik saja. Pada suatu
saat, paru-paru, liver, dan ginjal akan ikut menderita.
Tari mengamati
jemarinya yang mengurus. Ia telah kehilangan tujuh kilogram berat badannya
selama empat tahun. Kuku-kukunya yang berubah warna menjadi ungu sudah cukup
bukti bagi Tari, tubuhnya sudah mulai menderita.
Operasi adalah
jalan satu-satunya untuk bisa sem- buh. Sementara biayanya melangit. Mungkin
seharga rumah yang ditinggali oleh keluarganya. Entah apakah Tari bisa
mempunyai kesempatan untuk sembuh.
Tari masih terdiam
di balkon sunyi. Angin sepoi dari sela-sela lubang angin membelai kerudungnya.
Sejuk. Rasanya jiwa Tari sudah kembali ke tempatnya. Namun, kenapa ia merasakan
ada sesuatu yang kurang? Rasanya jiwanya tak lagi utuh. Hanya separuh jiwa yang
kembali. Ada ruang hampa di hatinya.
“Juii..ttt”
terdengar pengeras suara di lantai bawah dinyalakan. Tak berapa lama, seseorang
menguman- dangkan adzan. Asar. Setelah beberapa kali menghela napas dan
memastikan tidak ada lagi lelehan air mata, Tari pun bangkit sambil meraih
tasnya. Perlahan Tari melangkah menuju tangga. Ia hendak berwudhu. Selepas
solat asar Tari pulang ke rumah.
Beberapa hari
setelah pemeriksaan oleh dokter− setelah jiwa Tari cukup stabil, ia pun
berbicara kepada mama.
Tari menyampaikan
diagnosa dokter dengan gaya sanguinis-nya yang khas.
“Kata dokter,
jantung Tari harus direparasi Ma! Klepnya centil! Harusnya buka malah nutup.
Harusnya nutup malah buka.” Tari bahkan mengakhiri kalimatnya dengan tawa
kecil. Mama tak menyadari apa yang sedang berkecamuk dalam hati Tari. Kalau
saja di UPI ada mata kuliah acting,
pastinya Tari mendapat nilai A plus.
Tari tak
mengatakan banyak hal. Ia tak ingin mem-
bebani keluarganya. Biarlah ia mengemas perasaannya sendiri.
Setelah hari itu,
Tari kadang terlihat menyendiri. Wajahnya murung. Namun, di hadapan keluarga
dan teman-temannya, Tari selalu mencoba terlihat seolah tak memiliki masalah.
Yang paling gawat,
prestasi belajarnya menurun drastis. Ia tak bisa berkonsentrasi terhadap
kuliahnya. Ia tak bisa memahami kematerian yang ia dapat. Sekuat apa pun ia
berusaha, semuanya tak membuahkan hasil.
Keberuntungan?
Ochi
ke mana ya? Tanya
Tari dalam hati. Beberapa kali Tari mengetuk pintu kamar kos Ochi. Hening.
Tidak ada jawaban. Setelah yakin Ochi tak di kamarnya, Tari memutuskan untuk
pergi ke kampus.
Dengan langkah santai, Tari menyusuri
jalan menurun. Di kiri kanannya pepohonan. Teduh.
Keadaan yang jauh berbeda akan
ditemui di luar kampus UPI. Selangkah dari gerbang utama, hiruk pikuk terminal
Ledeng akan segera menyergap. Para calo tak pernah berhenti berlomba
meneriakkan mantra-mantra penawaran. Derum motor, mobil, bunyi klakson, dan
kepulan asap knalpot menjadi pemandangan jamak sepanjang jalan Setia Budhi.
Sementara di sisi lain kampus hanya beton-beton menjulang. Kampus dan
lingkungan sekitarnya seolah berada di dua belahan dunia yang berbeda.
Dari kejauhan Tari melihat sekumpulan
mahasiswa mendekat. Mereka dari arah lembah. Setelah
mata Tari
dapat
menangkap gambar wajah mereka, dahinya sedikit berkerut.
Para mahasiswa itu masing-masing
membawa jas lab, lengkap dengan peralatan standar yang harus dibawa bila
melakukan praktikum di laboratorium. Mereka adalah teman sekelas Tari.
Sekarang
kan minggu tenang, kenapa mereka praktikum? Hati Tari bertanya-tanya. Ia pergi ke kampus hanya ingin
mengusir rasa bosan. Jenuh berlama-lama di rumah tanpa kegiatan.
Tapi dahi mereka lebih berkerut
ketika melihat Tari. Kerutan di dahi mereka seolah sudah mencapai batas
maksimal sehingga tak dapat menerima kerutan lagi− bahkan hanya satu kerutan
saja. Setelah berpapasan, mereka berhenti di hadapan Tari.
"Kalian dari mana?" tanya
Tari keheranan. Ia memandangi teman-temannya bergantian.
"Habis ujian praktikum…"
Nana menjawab dengan gamang.
"Ah? Ujian praktikum? Ah yang
bener?" Tari sedikit tak percaya. Ia mencoba mencari kesungguhan di wajah
Nana.
"Teteh ga tahu? Sekarang
kan ujian praktikum Kimfis!" Nana mencoba meyakinkan Tari.
"Praktikum kimfis?" dahi
Tari jadi lebih berkerut. Mulutnya menganga. Lebar. Kimfis adalah mata kuliah
yang menjadi musuh hampir semua mahasiswa jurusan Kimia. Tari berpikir cepat.
Bagaimana caranya agar ia selamat. Bisa mengikuti ujian.
"Aku pinjam alat-alatnya
ya!" Tanpa menunggu persetujuan,
Tari mengambil peralatan praktikum dari tangan Nana. Sejurus kemudian jas lab
Nana juga berpindah ke tangan Tari.
"Jas labnya juga ya Na!"
Setelah mendapat semua yang dibutuhkan,
Tari segera berlari. Baru beberapa meter meninggalkan mereka, Tari teringat
sesuatu. Nana dan teman yang lain belum beranjak dari tempat semula. Mereka
saling berbisik sesamanya.
"Ujiannya di mana?" teriak
Tari.
"Di tempat biasa!" jawab
Nana. Juga sambil berteriak. Wajahnya menyiratkan keheranan yang ter- amat
sangat.
Tari pun kembali berlari. Tempat
bertemunya Tari dengan rombongan Nana agak jauh dari laboratorium Kimia
Lingkungan tempat ujian praktikum Kimfis. Tari berlari dan terus berlari. Tujuannya
hanya satu, sampai di lab sebelum ujian kloter kedua dimulai.
Mudah-mudahan ia masih sempat
mengikuti ujian. Tari tak peduli mengenai hasilnya. Pasalnya, akan sangat sulit
meminta ujian susulan. Bahkan hal itu sangat mustahil terjadi. Sepanjang perjalan
Tari berdoa kepada Alloh, memohon kemudahan.
Tari memperlambat laju larinya ketika
ia memasuki pintu depan.
Pff…
capek sekali! Keluh
Tari dalam hati. Napasnya terengah. Dadanya sesak. Tapi hasilnya setimpal, Tari
tiba tepat waktu. Ketika Tari menengok ke dalam lab, dilihatnya teman-temannya
baru saja tiba di mejanya masing-masing. Untunglah dalam urusan sprint ia bisa diandalkan. Larinya cukup
cepat. Tanpa memperbaiki napas, Tari langsung memakai jas lab.
"Ayo, Teteh pasti bisa!"
Inel yang sedang merapikan tasnya tampak iba melihat Tari tergesa memakai jas
lab. Ia termasuk kelompok pertama yang ujian.
“Makasih!” Tari memaksakan tersenyum di sela
napas yang tersengal.
Tari langsung menghampiri meja
laboran. Sambil memperbaiki napas, Tari mengisi daftar hadir. Pak Nanang
menyodorkan "nomor undian" terakhir.
"Tenang, pasti gampang!"
katanya sambil ter- senyum.
Tari pun memaksakan membalas
senyumnya. Getir. Ingin rasanya menangis. Tapi ini bukan saatnya menangis.
Apalagi menyerah.
Diterimanya potongan sedotan yang
berisi secarik kertas itu. Mirip pengocokan arisan pikir Tari. Ternyata tangan
Tari terlalu gemetar untuk mengeluarkan potongan kertas itu dari tempatnya
bersembunyi. Tremor. Akhirnya malah pak Nanang yang mengeluarkan kertas
tersebut.
"Tuh kan! Nomor tiga belas!
Sana! Labu Dumas tuh!" senyum pak Nanang berubah menjadi tawa.
Hampir saja Tari berteriak
kegirangan. Setelah mengucapkan banyak terima kasih, Tari bergegas menuju meja
nomor tiga belas. Dilihatnya teman-teman yang lain sudah mulai merakit
peralatan praktikum.
Kata siapa angka tiga belas
adalah angka sial? Menurut Tari, percobaan labu Dumas adalah
percobaan paling gampang dibanding percobaan yang lain. Selain itu, ketika
mendapat giliran percobaan labu Dumas beberapa bulan lalu, Tari yang melakukan
hampir semua rangkaian percobaannya.
Langkah demi langkah percobaan
dikerjakan Tari tanpa hambatan apapun. Namun ketika akan mengerjakan
perhitungan, langkahnya terhenti. Tari kebingungan. Pasalnya, ketika praktikum
labu Dumas, yang mengolah perhitungan adalah Puwee−rekan “duet”
Tari.
Sedang Tari hanya menyalin pekerjaan Puwee ke dalam jurnal praktikum.
Selama kuliah, Tari dan Puwee selalu
berpasangan dalam praktikum. Hanya satu semester saja mereka berganti pasangan.
Padahal pembagian pasangan ditentukan jurusan berdasarkan urutan daftar hadir.
Mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Pembagian tugas dilakukan
berdasarkan suasana hati masing-masing. Kadang bila salah seorang dari mereka
sedang malas, yang banyak melakukan praktikum adalah yang suasana hatinya
sedang baik.
Sambil mengamati data percobaan, Tari
terus memutar otak. Namun hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak bisa memanggil
memorinya kembali. Ketika Tari sedang terdiam dan hampir menyerah, tiba-tiba
Eliya beringsut mendekatinya dengan hati-hati.
"Kalau sudah begini
digimanain?" Eliya langsung menerangkan sesuatu tanpa ba bi bu terlebih
dulu.
Setengah berbisik Eliya menjelaskan
sekilas tentang sedikit pengolahan data. Ia mendapat ujian yang sama dengan
Tari. Eliya sudah mengerjakan sebagian perhitungan. Namun ia kehilangan jejak
untuk me- neruskan perhitungan selanjutnya.
Tari menggeleng. Andai Eliya tahu, ia
tak sempat belajar. Bahkan jadwal ujian saja Tari tak tahu. Semester ini
kuliahnya berantakan. Lagipula biasanya Tari tak akan memberi tahu jawaban
kepada teman-teman. Tari pun tidak pernah bertanya kepada mereka meski ia tak
bisa. Ia memilih mempunyai nilai jelek daripada harus bertanya kepada temannya.
Namun saat itu Tari seolah terhipnotis. Menanggapi pertanyaan Eliya tanpa
protes. Setelah Eliya berlalu, Tari kembali memutar otak. Mengaduk-aduk memori
beberapa bulan lalu. Hasilnya tetap nihil.
Iseng-iseng Tari mengotak-atik
"pesan singkat" dari Eliya. Ia menuliskan kembali perhitungan yang
sempat diterangkan Eliya kepadanya. Setelah beberapa waktu mencorat-coret,
mulailah terlihat titik terang.
“Aha…” gumam Tari kegirangan.
Sekarang ia telah melihat lampu neon. Bukan terang yang hanya setitik lagi.
Semua perhitungan tergambar jelas di benaknya. Setelah yakin ia mengerjakan
perhitungan dengan benar, ia pun memanggil Eliya hati-hati. Diperlihatkannya
lembar jawaban yang telah terisi penuh kepada Eliya. Simbiosis mutualisme.
Sebagai balas budi atas jalan keluar yang diberikan Eliya kepadanya.
Untuk kali ini saja Tari memperlihatkan
lembar jawabannya kepada orang lain. Benar-benar hanya kali ini saja. Lain kali
tidak.
Alhamdulillah. Segala puji bagi Alloh. Tari me- manjatkan syukur dalam hati.
Apakah bantuan Eliya adalah
keberuntungan baginya? Ia tak tahu pasti.
Yang jelas, ujiannya berjalan dengan lancar walau ia harus sport jantung dari awal sampai akhir.
Teguran
Seperti biasa, Tari sudah berada di
Cicaheum untuk berganti angkot. Ia melihat ada angkot yang sedang mengetem. Karena penumpangnya
sudah cukup banyak, ia memutuskan untuk menumpang angkot tersebut.
Ternyata Tari mendapat tempat duduk
di tengah- tengah. Biasanya ia mengincar bangku paling ujung. Dekat jendela
atau di belakang tempat duduk sopir. Namun, posisi strategis sudah ditempati
orang lain. Bila begini, Tari tak akan bisa tidur. Ia trauma tidur di angkot
bila posisinya tidak menguntungkan.
Pasalnya Tari pernah tertidur ketika
duduk di posisi nomor dua dari jendela. Di dekat jendela duduk seorang
mahasiswa. Tanpa sadar, Tari telah terbang ke alam mimpi sambil memegang buku
yang tengah dibacanya. Bahkan Tari tak sempat menutup buku.
Kejadian yang memalukannya bukan
karena Tari tertidur. Tapi karena posisi tidurnya. Tari bersandar pada bahu si
mahasiswa. Sedang sang mahasiswa
bersandar ke
jendela.
Ia pun tertidur!–Atau pura-pura tidur?, Ketika terbangun, Tari sangat kaget
bercampur malu. Bahkan saking malunya, Tari tak berani meminta maaf atas
kelakuannya.
Untunglah sekarang Tari tak
mengantuk. Semalam tidurnya cukup lama. Seperti biasa, Tari membuka buku untuk
mengisi waktu selama perjalanan. Di tengah jalan, ada orang yang memberhentikan
angkot yang ditumpangi Tari. Seorang ibu dan seorang anak perempuan masuk ke
dalam angkot. Mereka duduk di bangku yang berada di hadapan Tari. Mereka duduk
bersebelahan.
Awalnya Tari sama sekali tidak
memperhatikan mereka. Tari asyik dengan kesibukannya sendiri. Namun, baru
beberapa menit angkot melaju kembali, tiba-tiba sang anak meraih tangan Tari.
Tari kaget, tapi ia tidak berusaha melepaskan genggaman tangan si anak. Melihat
kejadian itu, si ibu mencoba melarang si anak. Si ibu tampak kesal dengan
kelakuan si anak.
“Ga apa-apa Bu. Biar aja.” Tari ingin
tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tari memperhatikan wajah si anak.
Cukup manis. Tari tertarik pada matanya. Begitu bening dan tampak kepolosan
dalam sorotnya. Tari juga memperhatikan
bajunya. Si anak mengenakan seragam. Tapi Tari tak tahu seragam sekolah mana
yang ia pakai. Tak ada lokasi sekolah di lengan kanannya.
Si anak mengelus tangannya sambil
tersenyum. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mungilnya. Tari
membalas senyumnya. Selama beberapa menit, si anak terus melakukan hal yang
sama. Tari ingin mengajaknya mengobrol, tapi suaranya tak bisa keluar. Rasanya
suara Tari tercekat di tenggorokan. Ia menahan tangis.
Apakah anak tersebut bersekolah di
sekolah anak- anak berkebutuhan khusus–yang dilaluinya setiap kali Tari pergi
ke kampus?
Tak lama kemudian, si ibu
memberhentikan angkot. Ia pun pamit kepada Tari. Mereka berdua turun dari
angkot lebih dulu dari Tari.
Setelah mereka berlalu, Tari terus
memikirkan kejadian tersebut. Selalu terbayang senyum si anak di pelupuk
matanya. Bila si anak memang berkebutuhan khusus, betapa Tari malu pada dirinya
sendiri. Si anak bisa menjalani hidupnya tanpa beban. Sedang Tari seringkali
begitu bersedih dengan keadaan kesehatannya. Hingga kadang-kadang Tari lupa
mensyukuri hal lain yang ada dalam dirinya. Lupa bahwa betapa banyak nikmat
yang telah ia rasakan selama ini.
Mungkin pertemuannya dengan si anak
adalah teguran dari Alloh untuknya. Supaya ia lebih berdamai dengan semua hal
yang terjadi.
Akhirnya Tari memutuskan untuk tidak
terlalu memikirkan kondisi jantungnya dan hari esok yang akan terjadi. Ia akan
menjalani hidup apa adanya. Beraktifitas seperti biasa sampai batas kemampuan
tubuhnya.
Alarm Hidup
“Posisi tidurnya sama. Merdeka!” ujar mama
setengah berbisik kepada bapak. Lalu mama menutup pintu kamar Tari perlahan.
Tari kadang-kadang tidur terlentang
dengan tangan ditaruh di sisi kiri kanan kepala. Layaknya penjahat yang
menyerah kepada polisi.
Sudah beberapa bulan ini Tari tidur
bersama adik kecilnya, Iik. Iik hadir di tengah keluarga mereka ketika Tari
duduk di bangku SMP kelas tiga. Setelah berumur empat tahun, Iik ingin tidur
bersama Tari. Tari tidak berkeberatan, tapi dengan catatan, Iik tidak boleh
mengompol!
Demi menjaga agar tidak terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan, Tari rela dibangunkan tengah malam guna
mengantar Iik ke kamar mandi.
Sebenarnya Tari tidak pernah tahu
kenapa adik kecilnya mau tidur bersamanya. Padahal ia adalah kakak yang galak
dan banyak aturan.
Selama Iik masih suka
mengompol,
Tari tak pernah mengizinkan Iik meng- injakkan kaki di kamarnya. Bila Iik menampakkan
mukanya di pintu kamar, Tari akan segera mengusir si bungsu.
Namun, sebenarnya Tari sangat
menyayangi Iik. Tari berlaku demikian agar Iik tidak tumbuh menjadi gadis manja
yang mempunyai ketergantungan tinggi kepada orang lain. Pasalnya, semua isi
rumah memanjakan si bontot.
Sebetulnya keberadaan Iik bersamanya
men- datangkan keuntungan sendiri. Iik seolah menjadi alarm hidup baginya. Bila
pulang larut malam, Tari seringkali tertidur dengan kacamata masih bertengger
di hidungnya. Mata Tari minus tiga, jadi ia selalu memakai kacamata di setiap
kesempatan. Ia mulai memakai kacamata ketika duduk di bangku SMP kelas dua.
Semenjak itu, minus matanya terus bertambah besar.
Walau Iik pergi tidur lebih awal, ia
seolah tahu bila Tari tertidur dengan mengenakan kacamata. Malam- malam Tari
akan dibangunkan oleh Iik. Iik mengingatkan agar sang kakak melepas
kacamatanya. Setelah itu, Iik akan tertidur kembali dengan sendirinya. Aneh
memang, tapi begitulah adanya.
Hal serupa juga akan terjadi bila
Tari tertidur sementara ia belum solat Isya. Iik akan membangun- kannya dan
mengingatkannya untuk segera solat.
Iik adalah anak yang menggemaskan. Ia
anak periang dan mudah bergaul dengan siapa saja. Postur tubuhnya yang gempal
menambah kegemasan orang yang melihatnya. Ia sering meniru adegan yang
dilihatnya di TV. Termasuk tari India dan slogan sebuah iklan.
Sama seperti Tari, Iik pun sangat
menyukai susu. Susu formula ukuran lima ratus gram hanya bisa bertahan
dalam
tiga hari. Untuk urusan ini, Tari tahu betul karena ia yang sering diminta mama
untuk membelikan susu.
Iik tumbuh menjadi anak yang cerdas.
Saat Iik menginjak usia TK, Tari sudah memperkenalkan bahasa Inggris pada Iik.
Iik cepat mengingat kata-kata yang dipelajarinya dari sang kakak.
Untunglah Tari mempunyai watak
sanguinis yang cukup dominan. Jadi ia tidak terlalu kesulitan untuk mengajar
anak kecil. Tari mengajar dengan gaya sanguinis. Ceria.
Ketika Iik duduk di bangku Sekolah
Dasar, minat belajar Iik berkembang lebih bagus bila dibandingkan dengan teman-teman
di kelasnya. Iik mempunyai minat belajar yang tinggi.
Rihlah
Hari Minggu. Jam delapan pagi. Tari
bersama Leni, Ira, Ani, dan Yuli sudah berada di tempat pembelian tiket masuk
Dago Pakar. Mereka berempat hendak mengen- durkan otot dan otak selepas ujian.
Yuli berjalan di depan sebagai
penunjuk arah. Mereka menyusuri jalan setapak yang sedikit demi sedikit terus
menanjak. Tari memandang berkeliling. Wuih! Sejuknya. Pepohonan menjulang di
sana-sini. Hijau. Suasana pedesaan sangat kental terasa. Sepanjang jalan Tari
asyik bercengkrama dengan teman-temannya.
Banyak orang yang menyusuri jalan
bersama dengan mereka. Tidak sedikit muda-mudi yang berpasangan di antara para
pengunjung. Tari dan kawan- kawan adalah gadis tanpa pacar. Tanpa “buntut” yang
mengikuti mereka. Karenanya, beberapa orang teman memanggil mereka “gunung es”–karena
sampai saat ini belum ada seorang pun yang berhasil menaklukkan hati para gadis
itu.
Setelah beberapa lama berjalan,
mereka sampai di Gua Belanda. Mereka terus memasuki gua yang hanya diterangi
cahaya remang dari lampu-lampu kecil sepanjang gua. Di dalamnya, gua
bercabang-cabang. Tak ada cahaya yang menerangi cabang-cabang itu. Menurut
rumor, cabang-cabang dalam gua tersebut sering dijadikan tempat “berpacaran”.
Seperti halnya Tari dan kawan-kawan,
kebanyakan para pengunjung hanya mengikuti jalan lurus yang ada dalam gua.
Gua yang mereka lewati tidak seberapa
panjang. Beberapa menit saja mereka sudah sampai di ujung gua yang satunya.
Mereka terus menyusuri jalan setapak. Terus menanjak sedikit demi sedikit.
Setelah hampir dua jam berjalan, mereka bertemu dengan pos penjualan tiket
kembali. Kali ini pos masuk Maribaya.
Pemandangan di sini jauh lebih bagus.
Terbentang sungai yang aliran airnya cukup deras. Air menabrak bebatuan sungai,
menciptakan musiknya tersendiri. Hijau. Sepanjang mata memandang pepohonan
menjulang.
“Oh? Ada air terjun!” seru Tari
kegirangan. Gagah. Gagah sekali. Air jatuh bebas dari ketinggian tanpa
terhalang suatu apapun. Bergemuruh. Menimpa sungai di bawahnya.
Setelah beristirahat, solat, dan
menyantap bekal, mereka bersiap pulang. Mereka tak berlama-lama di sana.
Mereka berjalan kaki kembali selama
beberapa menit meneruskan arah perjalanan tadi. Lalu mereka menemukan angkot
yang mengetem di pintu masuk Maribaya.
Jadi,
tadi masuknya dari pintu belakang ya?
Tanya Tari dalam hati. Logika Tari mulai menangkap ada gelagat yang janggal.
“Yul, itu ada angkot, kenapa tadi
kita berangkat- nya ga pake angkot aja?” tanya Tari mengungkapkan
kecurigaannya.
“Gue ga tau rute angkotnya. Jadi gue
ngikutin rute waktu rihlah di pengajian!” Yuli menjawab cuek.
“Gubrak?” Tari nyengir kuda sambil
menghentikan langkah. Sementara Yuli terus berlalu tanpa menghirau- kan Tari.
Rihlah?
Ya, perih dan lelah. Gumam
Tari dalam hati. Dipandanginya punggung Yuli yang semakin menjauh sambil
menggelengkan kepala.
Konon kabarnya, jarak antara Dago
Pakar dan Maribaya adalah lima kilo meter!
Aura Kebencian
Sore hari. Awan tebal mulai menutup
matahari. Beburung pastinya sudah berlomba kembali ke sarang.
“Tari! Telepon!” Seru mama dari ruang
tengah.
“Siapa Ma?” Tanya Tari sambil merem
laju lari kecilnya.
“Jangan lari-lari atuh! Ga tau. Ditanya dari siapa, cuman
bilang dari ‘temennya’!” Mama menyerahkan gagang telepon. Kemudian berlalu ke
belakang.
“Ya, Halloww… Assalamu’alaikum!” Gaya
menyapa Tari yang khas pasti mudah dikenali. Gaya sanguinis yang teramat kental.
“Wa’alaikum salam. Ini dengan Tari?”
tanya suara di ujung telepon . Tari
mencoba mengenali suara itu. Tapi suara itu tak tersedia dalam file rekaman
suara di otaknya. Ia tak tahu berbicara dengan siapa.
“Iya, saya sendiri. Ini dengan
siapa?” Tari balik bertanya. Tangannya menjangkau pinsil yang ada di dekat
telepon.
Lalu mencoret-coret tumpukan kertas yang ter- geletak di bawah pinsil.
“Ini dengan Lia.” Jawab si penelepon
pendek.
“O…” bibir Tari membulat. Pantas saja
ia tidak kenal, sekarang-sekarang ia kan sangat jarang ber- interaksi dengan
Lia. Lia teman kampusnya. Tapi berbeda kelas.
“Tumben nelpon.” Tangan Tari masih
menoreh- kan karbon dalam pinsil yang ada di genggamannya.
“Langsung aja ya! aku mau tanya sama
kamu.” Nada suara Lia menjadi tidak bersahabat.
Tari mengernyitkan dahi. Tangannya
berhenti mencoret kertas. Ia memasang telinga, siap mendengar- kan kata-kata
Lia.
“Apa bener waktu hari Rabu kamu
ketemuan sama Ahmad?” Tanya Lia menyelidik. Tari kebingungan. Ia mencoba
memutar kembali ingatannya beberapa hari yang lalu sambil bertanya-tanya dalam
hati. Emangnya kenapa kalau ia ketemu dengan Ahmad. Bukankah hal itu sudah
sering ia lakukan? Dan selama ini tak ada yang mempertanyakan hal itu. Ia
memang bertemu dengan Ahmad pada hari MKDU. Berarti benar hari Rabu.
“Iya… emang kenapa?” Tari balas
bertanya.
“Sebenernya Ahmad sudah janji sama
aku. Dia akan nganter aku belanja ke Pasar Baru. Tapi tiba-tiba dia batalin janji,
katanya dia mau ketemu teman SMA-nya. Tapi temen aku lihat Ahmad di perpus
bareng sama cewek yang pake kerudung lebar. Katanya tuh cewek cantik, kecil,
agak-agak bule gitu. Aku pikir itu kamu. Bener kan?” Kalimat Lia semakin tak
bersahabat.
“Iya…” jawab Tari gamang.
“Itu aku…” lanjut Tari kemudian.
Dahinya semakin berkerut.
“Berarti Ahmad bohong sama aku.” Lia mengambil
kesimpulan. Tari hanya diam. “Apa sih yang kalian obrolin?” Tanyanya lagi.
Layaknya polisi yang sedang menginterogasi penjahat. Dahi Tari sudah tidak
dapat dikerutkan lagi. Kerutannya sudah maksimal. Tanda tanya di benak Tari
semakin banyak. Apa maksud Lia se- benarnya?
“Aku nanya kenapa Ahmad ga pernah
muncul lagi di rohis. Trus kita maaf-maafan, bentar lagi kan Ramadhan, saling
tukar cerita, saling tausiyah. Gitu aja.” Tari mencoba bersikap senatural
mungkin. Ia mencoba tersenyum. Tapi, alih-alih senyum yang terkembang, ia malah
nyengir kuda. Sejenak hening menyergap mereka.
“Tari… jujur aja, aku benci kamu!”
tiba-tiba suara Lia memecah kesunyian. Kalimat yang diucapkannya terasa datar
dan dingin. Seketika partikel udara seolah berhenti bergerak. Atmosfer membeku!
Aura kebencian menyebrangi jarak kosan Lia-rumah Tari. Tari tersentak. Apa salah gue? Tanyanya dalam hati.
Ngobrol saja hampir tak pernah. Bagaimana bisa bikin dosa?
“Sebenarnya… aku dan Ahmad pacaran…”
Lia menggantungkan kalimatnya. Sebelum meneruskan kalimatnya, Lia menarik napas
panjang. “Tapi kamu tahu? Yang dia bicarakan cuma kamu, kamu, dan kamu!” Suara
Lia bergetar. Bila saja kalimat itu adalah teks dalam komik, maka ada lima
tanda seru di belakang kata kamu. Sebagai penegasan kemarahan Lia.
“Ahmad selalu bilang, lihat Tari,
lihat kerudung- nya, lihat pakaiannya, lihat cara bicaranya, bla… bla… bla… Dan
karena itu, kita jadi sering bertengkar. Terus terang aku cape berada di bawah
bayang-bayang kamu.” Lia diam sejenak untuk menghela napas. Tari hanya mematung. Ia kehilangan kata-kata. Lidahnya
kelu.
“Kamu tahu apa yang dia lakukan kemarin? Dia
berkata kasar sama aku. Sakit, aku sakit hati!” ada isak yang tertahan.
Tampaknya penat di hati Lia sudah memuncak.
Bahasa Sunda Ahmad jauh lebih halus
dari Tari. Bukannya Tari tidak tahu bahasa Sunda yang halus, namun bahasa yang
dipergunakan sehari-hari di lingkungan keluarganya adalah bahasa loma. Rasanya sangatlah aneh bila Ahmad
sampai berkata kasar. Berarti, ia sedang marah besar.
“Ya udah. Aku cuman mau ngomong gitu
aja.” Klik! Tak disangka telepon ditutup dari sebrang tanpa persetujuan Tari.
Bahkan tanpa ucapan salam. Tari melongo.
“Ada apa sih?” Tari dikejutkan oleh
suara dari belakangnya. Ternyata mama sudah duduk di kursi yang berada di depan
TV. Selama menelepon, Tari mem- belakangi kursi itu.
Sejak
kapan mama ada di sana?
Tanya Tari dalam hati. Akhirnya ia menceritakan semuanya apa adanya.
“Ya sudahlah… kamu jauhi saja Ahmad.
Kamu tuh dari kecil ributnya sama perempuan melulu!” komentar mama diakhiri
dengan tawa renyah. Sementara Tari hanya nyengir.
Matahari sudah tak nampak. Hanya
kemerahannya yang tergambar di ufuk barat. Magrib. Tari bergegas mengambil air
wudu. Bersuci untuk menghadap Sang Khalik.
Selepas solat magrib, Tari masih
berdiam di kamarnya. Ia merebahkan diri. Melepas penat karena aktivitas
seharian. Ia kembali teringat kejadian tadi.
Ia tak habis pikir kenapa bisa begini
kejadiannya. Dulu, Lia dan
dirinya sangat
akur. Bahkan, mereka− bersama Dian dan Erdi, sering
mengadakan pertemuan untuk saling tukar cerita, tausiyah, serta saling mencek hafalan al-Qur’an masing-masing.
Hanya saja kegiatan mereka tak bisa berjalan lama. Setelah hampir satu tahun
bersama-sama, mereka akhirnya terpisah. Sibuk dengan urusan masing-masing.
Sekarang, setelah hampir tiga tahun
tidak saling bertukar cerita, ia mendapat kejutan. Ahmad dan Lia berpacaran!
Dan baru saja Lia “melabrak” Tari. Mengatakan bahwa Tari adalah duri dalam
percintaan mereka.
Emh… benar kata orang, bagi yang
sedang kasmaran, dunia milik berdua saja. Yang lain cuma ngontrak! Jadi, bisa
diusir seenaknya. Orang yang dulu dekat saja, ketika dirasa mengganggu
kenyamanan percintaan, langsung di warning!
Tanpa tedeng aling- aling.
Malam mulai merayapi alam. Tari masih
larut dalam kunyahan pikirannya. Kenapa tadi ia hanya diam saja? Bukannya
menjawab: bukan salahnya bila Ahmad menyuruh Lia merubah penampilan. Bukankah
dulu Kerudung Lia lebar dan bajunya pun longgar? Kenapa sekarang kerudung Lia
mengecil dan bajunya menjadi super ketat? Begitu cepat manusia berubah.
Harusnya ia berteriak kepada Lia
seperti yang ia lakukan dulu setiap kali merasa eksistensinya terancam oleh
Angga, teman sekelasnya di SMU.
Angga selalu mengganggu Tari dan
teman sebangkunya, Mela. Bukan hanya itu, Puput, Ela dan Fernita tak kalah
jahatnya. Mereka selalu menyebut bahwa Tari bukan bagian dari kelas.
Seingatnya hanya Lisa dan Desi yang
tak pernah mencemoohnya. Namun Tari
enggan berselisih dengan
anak
perempuan. Pasalnya, para anak perempuan hanya bisa menyindir saja. Mereka tak
pernah berani berbicara di hadapan Tari langsung.
Saat itu hampir setengah isi kelas
mengucilkan Tari dan Mela. Tak ada yang berani melawan Angga and the gank. Mereka adalah grup favorit
di kelas. Tajir dan borju. Keadaan lebih parah lagi ketika Mela akhirnya pindah
ke Jawa. Ia sendirian menghadapi “penindasan” Angga CS.
Semuanya bermula dari sebuah
kesalahpahaman. Angga menyangka Mela membeberkan rencana Tanni bo- los dari
sekolah. Tanni pergi ke SMP-nya pada saat jam pelajaran berlangsung.
Padahal Mela tak bermaksud begitu.
Wali kelas menanyakan padanya apakah Tanni ada di sekolah ketika pelajaran olah
raga. Dan Mela menjawab iya. Itu saja. Baru beberapa langkah wali kelas
beranjak ke luar kelas, meja Mela dan Tari sudah digebrak Angga. Mereka berdua
tidak diberi kesempatan membela diri. Semenjak itu, Angga dan teman-temannya
mengobarkan peperangan terhadap Tari dan Mela.
Tapi… ah sudahlah! Mungkin ia
sekarang sudah sedikit dewasa. Tak ada gunanya memperpanjang masalah sepele
seperti itu.
Untunglah Tari tak pernah mengikatkan
hati dengan teman-temannya. Tari berinteraksi dengan teman-temannya hanya untuk
memenuhi hukum bahwa manusia adalah makhluk sosial. Saling membutuhkan. Harus
saling tolong menolong. Tari bisa memberi sebanyak yang ia mampu. Tapi jangan
harap Tari memberikan hatinya.
Dua kali berpindah rumah membuat Tari
berkali- kali harus berpisah dengan teman-temannya. Tari belajar untuk tidak terlalu menyayangi orang lain. Tidak
terlalu
mengharapkan
ikatan yang istimewa dengan teman- temannya. Karena suatu saat ikatan yang
pernah dirajutnya akan terurai juga.
Pun ketika Lia, Ahmad,
dan Erdi mengajak meng- umumkan hubungan layaknya saudara, Tari hanya
menghormati mereka ketika menerima
ajakan itu. Hati
Tari kosong dari perasaan menyayangi. Ia takut kecewa
lagi.
Tari melakukan semua itu hanya untuk
melindungi hatinya dari luka-luka yang tidak perlu. Mungkin ini yang
menyebabkan Tari tidak terlalu sakit menerima perlakuan Lia.
Keesokan paginya, Tari sudah duduk di
depan loket pembayaran telepon di BNI kampusnya. Ia tak sendiri. Di kursi
sebelah, Ahmad baru saja mengambil posisi duduk.
“Tari pasti tahu kenapa Aa ajak ke sini.”
Tanya Ahmad sambil memasukkan kunci motor ke dalam saku jaket. Dipandangnya
wajah pucat Tari. Aa, begitulah Ahmad ingin dipanggil olehnya. Bukan hanya ia
sendiri yang memanggilnya demikian. Lia dan Dian juga memanggil Ahmad begitu.
Sebaliknya, Tari dipanggil dengan nama kecilnya oleh Ahmad dan Erdi.
“Kenapa emang A?” Tari malah balik
bertanya. Ia tak mengerti maksud Ahmad.
“Bener Lia nelpon Tari?”
Tari mengerutkan dahi mendengar pertanyaan
Ahmad. “Tahu dari mana?” Lagi-lagi Tari balik bertanya.
“Lia sendiri yang bilang.” Ahmad
terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Emang Lia ngomong apa aja?”
tanya Ahmad penasaran.
Tari memajukan bibirnya. Manyun.
Tadinya Tari tak mau mempermasalahkan telepon dari Lia. Tapi malah Lia sendiri
yang mengadu kepada Ahmad. Orang aneh!
“Lia bilang tentang hubungan kalian. Terus…
dia bilang kalo Aa bohong pada Lia. Itu… waktu kita janjian di perpus. Kata
Lia, Aa bilangnya ketemuan ma temen SMA...”
Jawab Tari sedikit cuek. Ia lalu mengedarkan pandangannya. Satu per satu
pelanggan berdatangan. Petugas loket mulai sibuk melayani mereka.
“Trus ngomong apa lagi?” Ahmad
semakin penasaran.
“Itu aja A!” Tari menatap lurus ke
depan. Tidak ada gunanya mengurai semua percakapannya dengan Lia. Apalagi
masalah Lia yang merasa berdiri di bawah bayang-bayangnya. Ahmad
mengangguk-angguk men- dengar jawaban Tari.
“Iya… Aa emang pacaran sama Lia.”
Ahmad me- nunduk.
“Lia suka marah kalau kita ngobrol.
Bahkan walaupun sekedar say hi…”
Lanjut Ahmad lagi. Ia masih menunduk. Tiba-tiba Ahmad berdiri.
“Nama bapak Aa dipanggil. Bentar ya!”
Ahmad bergegas menuju loket.
Sejurus kemudian Ahmad sudah tegak di
hadapan Tari. Lalu ia duduk lagi di tempat semula. Sejenak mereka tenggelam
dalam diam.
“Tari ga pernah nyangka kalian
pacaran...” Tari memandangi Ahmad. Wajah Tari datar tanpa ekspresi. Tari
menyesal menjadi orang yang terlalu naïf. Ia tidak menyangka banyak juga
aktifis rohis yang sangat “hobi” melakukan kegiatan yang satu ini.
“Aa tahu. Pasti Tari ga akan berpikir
seperti itu.” Jawab Ahmad pelan. “Aa minta maaf atas kejadian kemarin…” Ahmad
memberanikan diri menatap Tari.
“Sudahlah… tak ada yang perlu
dimaafkan…” jawab Tari pelan.
Lagipula
minta yang seharusnya maaf adalah Lia. Bukan yang lain. Bisik Tari dalam hati.
Akhirnya setelah pembicaraan itu,
Tari dan Ahmad berpisah. Walau arah mereka sama, Tari memilih berjalan kaki ke
al-Furqon. Tari menolak dibonceng oleh Ahmad. Ia takut tersebar gosip yang tak
sedap. Lagipula adab pergaulan dalam Islam tidak mengizinkan hal seperti itu.
Tari hanya mau dibonceng oleh
saudaranya. Atau bila tak ada sarana transportasi yang lain, ia hanya mau
dibonceng oleh tukang ojeg. Ia tak pernah mau diboncengi temannya. Bila ada
tukang ojeg perempuan, pastilah Tari akan merasa senang sekali diboncengi
mereka.
Walau adab pergaulan Tari belum
sempurna, ia berusaha keras untuk tidak bersentuhan kulit
dengan kaum Adam. Bukan pekerjaan yang mudah membiasakan hal seperti itu.
Karena tak ada satu pun fasilitas umum yang bisa menunjang penerapan adab pergaulan
menurut Islam.
Mengintip Dunia Nyata
Tari, Eni, dan Eliya melaksanakan PPL
di SMA yang sama. Dulu Eni bersekolah di sana. Sekolah tempat PPL mereka
terletak tidak jauh dari rumah Tari. Mungkin hampir setengah perjalanan dari rumahnya
ke kampus.
Tak terasa Tari sudah sampai di
semester delapan. Tapi Tari dapat memastikan ini bukan semester terkhir dalam
perjalanan kuliahnya. Semester kemarin kuliahnya berantakan. Lubang yang
menganga di hati Tari ternyata sangat mempengaruhi kuliahnya. IP Tari di
semester tujuh hanya satu koma enam lima. IP terburuk sepanjang sejarah
perkuliahannya.
Mengajar di "kelas
sungguhan" ternyata cukup mengasyikkan. Selama ini Tari hanya mengajar
murid privat. Namun, pekerjaan rumah yang harus Tari kerjakan sungguh
merepotkan.
Mempersiapkan kematerian sebelum
mengajar sudah menjadi peraturan tak tertulis bagi setiap guru. Bukan hanya
isi kematerian yang harus dikuasai, metode
untuk
menyampaikan kematerian kepada siswa pun harus dipikirkan.
Apakah kematerian akan disampaikan
melalui ceramah, praktikum, demonstrasi atau tanya jawab? Termasuk pula
mempersiapkan soal-soal yang akan diberikan sebelum dan sesudah kematerian.
Belum lagi memeriksa tugas dan ulangan dua ratus orang anak yang sangat menyita
waktu dan konsentrasi.
Ada satu hal yang tidak Tari sukai
dari persiapan mengajar: membuat rencana pembelajaran setiap kali akan
mengajar. Tari menilai peraturan administrasi yang satu ini tidak begitu
menunjang dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Hanya membuat pekerjaannya
ber- tambah banyak saja.
Tanpa membuat rencana pembelajaran
pun, Tari akan mempersiapkan kematerian sebaik mungkin. Pasalnya, ia tak mau
ditertawakan oleh murid-muridnya karena tidak mempunyai modal yang cukup untuk
mengajar mereka. Apalagi murid-murid yang diajarnya sangat kreatif memberikan
pertanyaan. Bahkan ada satu dua murid yang senang memberikan pertanyaan sulit
hanya untuk melihat kemampuan gurunya. Konyol sekali!
Bagi Tari, seorang guru haruslah
mampu me- nyampaikan kematerian dengan bahasa yang bisa dimengerti. Selain itu,
harus bisa menampilkan sosok yang layak dihormati oleh murid-muridnya.
Menurutnya, seorang guru baru layak disebut guru bila para siswanya bisa
menerima kehadirannya di kelas dengan ringan hati.
Ada beberapa sosok guru yang lekat
dalam ingatannya: Tari selalu ingat kepada seorang guru SD yang membantunya
memakai jas hujan di kala sekolah diguyur air dari langit. Atau seorang guru
yang rela memberi les tambahan di luar jam pelajaran. Gratis!
Beberapa orang guru yang pandai
membuatnya mudah memahami pelajaran yang sedang dibahas. Serta seorang guru
bermental baja. Bu Saly.
Sepintas lalu tak ada yang berbeda
dengan bu Saly−salah seorang guru IPA di SMA Tari. Kecuali dua hal: bu Saly
selalu mengenakan celana panjang kala mengajar dan kulitnya yang lebih cocok
disebut pucat daripada putih. Selebihnya, bu Saly adalah guru yang sempurna
bagi Tari. Cerdas, tegas, berwibawa, dan sangat disiplin.
Hal yang tak kalah mengagumkan adalah
rasa empati yang tinggi−baik terhadap kondisi keuangan murid-muridnya maupun terhadap keadaan alam.
Para muridnya tidak pernah disuruh membeli buku dari bu Saly. Malah mereka disarankan untuk membeli buku bekas.
Ketika ulangan, jawaban cukup ditulis pada selembar kertas. Benar-benar selembar
kertas! Bahkan bila cukup, selembar kertas pun boleh dibagi dua. Bila hal ini
dilakukan oleh seluruh masyarakat dunia, berapa juta pohon yang bisa dihemat
setiap harinya?
Belakangan para murid baru tahu bahwa
bu Saly mengidap leukeumia. Namun mereka
tak pernah men- dapati wajah murung. Alih-alih mendengar bu Saly mengeluh, mereka malah mendapat banyak nasihat yang
berguna.
Menurut Tari, tak mudah mendapat SIM,
“Surat Izin Mengajar” dari siswa. Perlu tekad yang kuat dan latihan yang terus
menerus. Bahkan, PPL lima bulan belum berarti banyak untuk mengasah
keterampilan menjadi guru.
Warna-warni
Hari ini Tari mengajar kelas 2-5,
kelas yang lumayan merepotkan. Penghuninya senang sekali membuat kegaduhan.
Namun untungnya mereka masih mudah diarahkan untuk memperhatikan pelajaran.
Minat belajar mereka cukup tinggi.
Seperti biasa, setelah mengkondisikan
mereka untuk menerima pelajaran, Tari akan menulis kematerian secara global di
papan tulis. Sementara Tari menulis, biasanya masih ada murid-murid yang masih
sibuk dengan urusannya sendiri. Entah pinjam meminjam pulpen, entah mengobrol,
bahkan ada yang menarik-narik tugas temannya karena ia tidak mengerjakan PR.
Itu sudah menjadi pemandangan umum di setiap kelas.
Namun kali ini jumlah murid yang
ribut lebih banyak dari biasanya. Walau belum selesai menulis, Tari
menyempatkan diri untuk membalikkan badan sekedar melihat keadaan mereka.
Ternyata yang terjadi di luar dugaannya.
Sesaat setelah membalikkan
badan, semua
murid
secara refleks menutup mulutnya, padahal Tari belum bicara sama sekali. Hening
seketika menyergap.
Tari menjadi kaget sendiri. Apakah
dirinya tampak sangat menyeramkan? Sehingga mereka langsung ter- diam hanya
karena Tari membalikkan badan. Mungkin benar kata Eni, tatapan matanya
menakutkan. Apalagi bila Tari sedang marah.
Suasana di kelas terasa kaku untuk
sementara waktu. Butuh waktu yang agak lama untuk membuat suasana kembali cair.
Cerita berbeda terjadi di kelas 2-8.
Tari membawa beberapa alat praktikum ke kelas untuk melakukan demonstrasi.
Ketika Tari meminta beberapa sukarelawan untuk demo di depan kelas, hampir
semua murid mengacungkan tangannya. Mereka sangat antusias. Bahkan, ada
beberapa murid yang cemberut karena ia tidak dipilih ke depan.
Hati Tari senang bukan kepalang.
Padahal sebelumnya Tari sempat ragu membawa perangkat alat tersebut ke kelas.
Takut murid-murid tidak memberi respon positif karena menurutnya alat-alat
tersebut tidak terlalu menarik.
Suasana di kelas menjadi sangat
menyenangkan, para murid memperhatikan dengan seksama. Tari menjelaskan
kematerian dengan full senyum. Bahkan
diselingi dengan banyak candaan gaya sanguinis-nya
yang khas.
Ketika ada murid yang memberi celetukan yang membuat seisi kelas gerr, Tari menatapnya dengan wajah
gemas. Secara refleks Tari melayangkan kaki seolah hendak menendang. Setelah
kakinya mendarat kembali, Tari baru tersadar bila ada kerudung merah di
sela-sela kerudung berwarna putih.
Oh boy! Itu kan guru
walinya?
Sudah berapa lama ia
berada di sana? Apakah cukup lama untuk melihat kekonyolannya bersama
anak-anak?
Tari pun menganggukkan kepala sambil
nyengir kuda. Sang guru membalas anggukan Tari. Ada senyum terkulum di
bibirnya.
Aduh…mudah-mudahan
bu Yati tidak memberiku nilai jelek. Gumam
Tari dalam hati.
Selama PPL Tari bisa “menjinakkan”
murid-murid kelas 2-9 yang katanya merupakan kelas ternakal–menurut informasi dari guru PPL yang lain. Baginya
tak ada yang aneh dengan penghuni kelas 2-9.
Mereka mau bekerja sama selama kegiatan
belajar-mengajar berlangsung. Mereka menyimak, bertanya, menjawab, sama halnya
dengan murid di kelas-kelas yang lain. Bahkan, kenakalan yang ada pun hanya
kenakalan remaja yang iseng. Memang, kadang iseng terhadap guru mereka.
Namun Tari tak berhasil membimbing
murid-murid kelas 2-7 untuk “kembali ke jalan yang benar”.
Tari mengajar di kelas 2-7 setelah
istirahat kedua. Kebetulan jam pulang di SMA ini adalah pukul dua, sehingga ada
dua kali istirahat. Sekitar jam makan siang Tari harus masuk ke kelas tersebut.
Setiap kali masuk ke kelas, jumlah
murid yang ada di kelas tak pernah lengkap. Selalu tercecer. Entah itu di
kantin, di masjid, atau bahkan di lapang basket. Setelah diingatkan pun masih
terus terjadi seperti itu.
Jumlah mereka menjadi lengkap setelah
Tari marah besar. Namun di hari-hari selanjutnya, kejadian yang sama terulang
kembali.
Telah habis dayanya menghadapi
mereka. Dari mulai memberi nasihat, motivasi, sampai marah besar, itu tak
banyak merubah mereka.
Usut punya usut,
ternyata
hampir
semua penghuni kelas 2-7 memiliki motivasi belajar yang sangat rendah.
Namun secara keseluruhan Tari merasa
PPL-nya lebih bermakna dibandingkan dengan teman-teman dari jurusan yang lain.
Banyak sekali pengalaman yang ia dapat ketika mengajar para muridnya. Mahasiswa
dari jurusan lain hanya mengajar dua atau tiga kelas saja. Sementara mereka, dari jurusan kimia, mengajar empat
hingga enam kelas.
Aneh?
Dahi Tari sedikit berkerut. Jawaban
murid yang satu ini memang ngawur, tapi beberapa langkah awal sudah hampir
tepat seperti yang ia harapkan. Dilihatnya nama yang tertera di kertas ulangan.
Resno. Tari tidak tahu mana orangnya yang memiliki nama tersebut. Bukan hal
mudah menghapal nama dua ratus siswa dalam waktu tiga bulan. Pertemuan dengan
mereka pun hanya dua kali seminggu.
Biasanya Tari akan lebih mudah
menghapal nama murid yang aktif, yang nilainya sangat kurang, atau murid-murid
yang “bertingkah”. Anak yang satu ini luput dari perhatian Tari.
Keesokan harinya, ia bertanya kepada
murid yang lain perihal pemilik nama Resno. Teman-teman Resno mengatakan bahwa
Resno adalah anak yang aneh. Terlalu pendiam dan kadang tertidur selama
pelajaran ber- langsung. Resno duduk
sebangku dengan Ilham. Nilai
keduanya
selalu jelek. Padahal kelas ini merupakan kelas dengan nilai rata-rata
tertinggi pada pelajaran Kimia. Sedikit sekali murid yang nilainya di bawah
enam.
Suatu saat, Tari mendapati Resno
tertidur di akhir pelajaran. Setelah Tari mengakhiri pertemuan di kelas
tersebut, Tari membangunkan Resno dan mengajaknya mengobrol di luar kelas.
Dari pembicaraannya dengan Resno,
Tari me- ngetahui bahwa ibunya adalah wanita pekerja. Bila mendengar uraian
Resno, Tari menangkap “sinyal” bahwa Resno mengharapkan perhatian dari orang
tuanya. Jadi ia “bertingkah” di sekolah.
Resno bercita-cita menjadi pemain band. Kala itu Tari tidak bisa memberi
banyak nasihat. Ia hanya berharap Resno bisa lebih peduli terhadap pelajaran di
sekolah, karena menjadi pemain band
tidak berarti ia mengabaikan pendidikannya.
Tari tahu, mungkin pembicaraan itu
tak berarti banyak untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan yang terlanjur
mengakar dalam diri Resno. Tapi setidaknya Resno bisa menyadari bahwa ada yang
peduli dengan dirinya.
Suatu hari Resno tidak mengikuti
ulangan Kimia terakhir sebelum ulangan umum. Ia tidak bersekolah karena sakit.
Walau tidak ulangan, Resno tidak menghubungi Tari untuk meminta ulangan
susulan.
Akhirnya malah Tari yang mencari anak
itu di lapang basket. Setelah jam sekolah usai, Tari meminta teman Resno untuk
membawa Resno ke hadapannya.
“Resno, kapan mau ulangan?” Tari
memandang murid berwajah kearab-araban di hadapannya.
“Sekarang aja Bu.” jawab Resno cuek.
“Sekarang? Kalau
Kamis gimana! Biar
kamu bisa
belajar
dulu!” Tari mengerutkan dahi.
Anak
ini! Cuek sekali!
Tari berkata-kata dalam hati.
“Ah, sama saja Bu. Sekarang atau
nanti. Sama- sama ga akan belajar…” wajah Resno tampak innocent. Sementara Tari hanya bisa menggelengkan kepala.
“Ya sudah, kita ulangan di lab saja.”
Tari tak punya pilihan lain. Daripada nilai Resno bolong, mending Tari
mengadakan ulangan dadakan sekarang. Pasalnya Tari tak yakin bisa menemukan
Resno di lain hari.
Selama Resno mengerjakan ulangan,
Tari berdiri di belakang Resno. Resno mengerjakan ulangan dengan serius. Ia
menjawab soal yang dihadapinya dengan cara yang sama persis dengan yang
dijelaskan Tari tempo hari. Resno menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat
cepat.
Jumlah soal ulangan yang dibuat Tari
hanya sepuluh. Ini lebih bersifat “ulangan kecil” karena yang diulangankan
hanya dua sub bab saja.
“Sudah Bu!” Resno berdiri sambil
meraih kertas ulangan yang tergeletak di meja. “Boleh keluar Bu?” tanya Resno
sambil menyerahkan hasil pekerjaannya.
“Ya.” jawab Tari pendek sambil
menerima kertas ulangan yang disodorkan Resno.
Setelah memasukkan pulpen ke dalam
tasnya, Resno langsung meninggalkan laboratorium tanpa basa- basi lagi.
Sekarang yang tinggal di lab hanyalah Tari. Perlahan Tari duduk di bangku kayu
tanpa sandaran. Ia lalu mengeluarkan pulpen merah dari tempat pinsil.
Tari langsung memeriksa hasil
pekerjaan Resno. Tak perlu waktu lama untuk mengetahui nilai ulangan muridnya
yang satu ini.
Dari sepuluh soal, Resno berhasil
mengerjakan tujuh soal dengan benar. Tari tersenyum. Tepat seperti dugaannya.
Resno adalah anak yang cerdas.
Tanpa belajar pun, ia sanggup
mengerjakan ulangan dengan cukup baik. Namun sayang, ke- cerdasannya seolah
terkubur dalam sikap cuek yang ditunjukkan Resno.
Potensi
yang tak terberdayakan.
Bisik Tari dalam hati.
Sayang Tari tak bisa berbuat banyak
untuk bisa menggali potensi Resno lebih banyak lagi. Setelah ulangan umum, ia
harus meninggalkan sekolah ini. Masa PPL-nya sudah berakhir.
Laboratorium Darurat
Rasa malas mengiringi langkah kaki
Tari. Ia hendak pergi ke laboratorium di kampusnya. Cerahnya pagi tidak bisa
menggantikan mendung yang menggelayuti hati Tari. Semilir angin pun tak sanggup
mengusir awan hitam yang menutupi benaknya. Tari kehabisan ide setelah
penelitian skripsi yang ia lakukan gagal.
Tari menghela napas panjang. Mencoba
memenuhi rongga dada dengan udara sebanyak mungkin.
Selain penelitian skripsi, Tari pun
masih harus memikirkan nasib empat mata kuliah yang ia kontrak bersamaan dengan
skripsi. Semua mata kuliah itu ia kontrak kembali untuk memperbaiki nilai-nilai
sebelum- nya yang sangat jelek. D. Selain itu, ia pun mempunyai seorang murid
privat. Jadi Tari tidak bisa fokus hanya pada skripsi saja. Konsentrasinya
terpecah.
Kaki Tari menginjak anak tangga satu
per satu. Laboratorium tempat ia dan Eni menguji coba prosedur praktikum–yang
dibuatnya sendiri, berada di lantai dua.
Ketika Tari meninggalkan anak tangga
yang terakhir, suasana hatinya belum juga membaik. Pun ketika ia sudah sampai
di ujung lorong. Ia merasa hari-hari yang dilaluinya sangat menyebalkan.
Tari membuka gembok kecil yang
menggantung di pintu salah satu ruangan. Sebelum masuk, Tari menyapu seluruh
ruangan dengan pandangannya. Semrawut. Membuat suasana hatinya semakin buruk.
Hampir setiap sudut ruangan penuh oleh lemari dan meja yang dipadati
botol-botol. Sedikit sekali ruang untuk bergerak.
Tempat ini lebih layak disebut gudang
daripada laboratorium. Bukan hanya karena kondisinya yang tidak nyaman, namun
ruangan ini pun tidak dilengkapi lemari asam dan wastafel. Sehingga untuk
mencuci peralatan, Tari harus berjalan ke ujung lorong yang satunya lagi.
Wastafel terletak di dekat tangga. Di dalam toilet.
Tari tidak tahu mengapa dosen
pembimbingnya–pak Yana, menyuruhnya
menggunakan ruangan ini. Padahal biasanya para mahasiswa yang sedang melakukan
penelitian skripsi menggunakan laboratorium di gedung MIPA. Bahkan teman
seangkatannya dengan bebas keluar masuk laboratorium untuk mengerjakan tugas
akhir mereka. Apa yang sebenarnya terjadi?
Eni mengikuti Tari dari belakang.
Syukurlah Tari tak harus mengulang penelitian sendiri. Eni dengan setia menemaninya.
Padahal penelitian Eni sudah berhasil. Bahkan, ia ikut memikirkan bahan
penelitian Tari yang baru. Akhirnya malah Eni yang mengusulkan penelitian laju
reaksi.
Tari terpaksa menggunakan
laboratorium darurat tersebut. Ia tak bisa berlama-lama menunggu. Berpacu
dengan waktu. Terlambat sedikit, judul penelitian harus diganti lagi. Penelitian skripsi bergantung pada kurikulum
di
sekolah. Bergantung kepada materi pelajaran di kelas. Materi pelajaran yang
sudah terlewat tidak mungkin diulangi kembali.
Hari ini mereka datang ke
laboratorium untuk mengambil beberapa peralatan. Rupanya nasib baik masih
berpihak pada Tari, kemarin guru di sekolah−tempatnya PPL, memberi izin kepada
Tari untuk mempergunakan laboratorium sekolah. Bukan hanya peralatan yang bisa ia
pakai, zat kimia pun bisa diambil sesuka hati. Gratis!
Tari hanya tinggal membawa 1,5 liter
aquades yang diberikan oleh laboran di kampus. Sebenarnya zat kimia yang ia
gunakan sangat sedikit sekali. Hanya 250 mg Natrium tiosulfat–bahkan tidak
sampai satu gram, dan 20 mL HCl pekat. Namun walau zat yang ia pakai sangat
sedikit, Tari tak mungkin membeli zat-zat tersebut. Biasanya pembelian minimal
zat kimia di toko-toko dalam satuan 500 gram.
Setelah melakukan test drive–meminjam istilah para
pembalap, selama beberapa waktu, prosedur praktikum laju reaksi dalam skala
kecil berhasil diselesaikan.
Save by the Bell
Deg! Sejenak jantung Tari seolah
berhenti berdetak. Setelah jantungnya kembali memompa darah, Tari merasakan
degupannya dua kali lebih cepat. Hal ini biasanya ia alami bila melihat teman
lelaki yang disukainya. Darah muda. Bedanya, yang ia lihat sekarang adalah para
dosen penguji. Hari ini jadwal ujian sidang skripsi Tari.
Tari memasang senyum−termanis yang ia
punya, sambil mempersilahkan dosen pembimbing dan para dosen penguji memasuki
ruang sidang lebih dulu. Baru Tari mengikuti mereka dari belakang. Rasanya kaki
Tari tak menjejak tanah. Seperti melayang. Padahal sebelum bertemu dengan para
dosen, Tari baik-baik saja. Mungkin demam panggung.
Seharusnya mendengar nama para dosen
penguji saja membuat bulu kuduk berdiri. Merinding. Desi pun tampak cemas
ketika pertama kali memberi tahu nama- nama dosen yang akan
menguji Tari. Namun saat itu Tari
hanya
menanggapinya dengan dingin. Hatinya baal mendengar kabar tersebut. Telah
banyak yang ia lalui di kampus ini, satu kejadian tak banyak berarti.
Perjalanannya di kampus ini akan segera berakhir. Hanya tinggal satu langkah
lagi.
Setelah para dosen duduk di kursinya
masing- masing, dosen pembimbing Tari–pak
Yana, membacakan peraturan yang berlaku di ruang sidang. Tari diberi
kesempatan mempresentasikan skripsinya selama sepuluh hingga lima belas menit.
Selanjutnya, masing-masing dosen penguji mengajukan pertanyaan selama kurang
lebih lima belas menit.
Selama pembacaan tata tertib, Tari
mencoba memperbaiki napas yang sedikit tersengal akibat detak jantungnya yang
tidak teratur. Sidang pun dimulai setelah Tari paham semua peraturan yang
dibacakan.
Sesi pertama berlangsung tanpa
hambatan. Kata- kata mengalir lancar dari mulut Tari. Lidahnya tak mengenal
kata kelu. Skripsi ini sudah “dieraminya” selama satu tahun. Tari hampir hafal
kata-kata yang tertulis di dalamnya.
Sesi kedua dimulai oleh pertanyaan
pak Adi. Sebelum mengajukan pertanyaannya, pak Adi me- lemparkan senyuman pada
Tari. Memperlihatkan lesung di kedua pipinya dan mata sipitnya yang semakin
menyempit di balik kaca mata. Pak Adi tidak tampak seperti dosen “killer”. Memang ia tidak mempunyai sifat
keras. Bahkan, senyuman selalu terkembang di bibirnya.
Ia killer dalam urusan nilai. Standar penilaian tinggi dan tidak ada
ampun bagi kesalahan pemahaman mahasiswanya. Namun, sejujurnya Tari tidak
keberatan dengan standar nilai yang diterapkan pak Adi–walau Tari harus
mengulang mata kuliahnya untuk mendapat nilai B. Sudah selayaknya para calon
guru memiliki pemahaman kematerian yang bagus.
“Kenapa anda memilih bahasan laju
reaksi untuk penelitian skripsi anda?” pandangannya teduh. Di usianya yang
tidak lagi muda, pak Adi tampak bersahaja.
Pfff… untung dosen pembimbingnya
berbaik hati memberi bocoran jawaban atas pertanyaan semacam ini.
“Ini berkaitan dengan keterbatasan
kemampuan saya selaku mahasiswa Pak! Saya merasa bahasan ini lebih mudah untuk
dijadikan bahan penelitian saya.” sebelum melanjutkan kata-kata, Tari menghela
napas dalam. Sisa kekagetan tadi masih berbekas.
“Selain itu, saya juga harus
menyesuaikan penelitian dengan kurikulum yang berlaku di sekolah.” Tari
mengakhiri jawaban dengan senyuman. Dilihatnya pak Adi mengangguk-anggukkan
kepala.
“Dalam kelebihan metode praktikum
kecil ini anda menyebutkan bahwa penggunaan bahan menjadi lebih sedikit dari
praktikum biasa. Bila pertimbangannya adalah bahan, kenapa anda tidak
menggunakan metode demonstrasi saja?” pak Adi memandang Tari sambil mengulum
senyum.
“Dalam metode demonstrasi, siswa
tidak terlibat langsung dalam percobaan. Selain itu, perubahan yang terjadi
tidak dapat diamati oleh seluruh siswa. Sedangkan dalam metode praktikum, siswa
melakukan percobaan sendiri, sehingga mereka mempunyai pengalaman menggunakan
alat-alat dan bahan. Mereka pun dapat mengamati perubahan yang terjadi dengan
jelas. Begitu Pak…” cengiran kuda mengakhiri kalimat Tari. Sulit baginya
menghilangkan gaya sanguinis yang
sudah terlanjur mendarah daging. Bahkan di saat penting seperti ini, masih
muncul juga.
“Dalam penelitian, anda hanya
melakukan satu kali percobaan, apakah itu cukup untuk dijadikan dasar
pengambilan kesimpulan?” Sekarang pak Adi tersenyum. Lebar.
Sebelum menjawab pertanyaan pak Adi,
Tari menghela napas panjang kembali. Ia tidak mengira bila
pertanyaan-pertanyaan dari pak Adi sama sekali tidak menyulitkan.
“Secara ilmiah, penarikan kesimpulan
tidak cukup hanya dilihat dari satu kali percobaan saja. Diperlukan banyak
percobaan untuk mengambil sebuah kesimpulan. Namun untuk siswa SMA pengambilan
kesimpulan dapat dilakukan dari satu percobaan, karena di SMA tujuan praktikum
hanya untuk memperkenalkan apa itu praktikum.”
Pak Adi mengangguk-ngangguk. Senyum
masih terkembang di bibirnya. Setelah puas mengajukan pertanyaan, pak Adi
menghentikan tanya jawab.
“Ya, sudah!” pak Adi melemparkan
pandangan ke arah dosen pembimbing Tari. Tari merasa sangat lega. Ujian dari
satu dosen telah ia lewati. Sekarang giliran pak Deri untuk mengujinya.
“Alat-alat yang digunakan dalam
praktikum sangat kecil ya?” pak Deri terdiam sesaat sebelum menyambung
kalimatnya. “Apakah itu tidak mengganggu siswa dalam bekerja? Apa perubahannya
bisa diamati?” ditatapnya Tari dengan lekat.
Tabung reaksi yang digunakan dalam
penelitian Tari memang sangat kecil. Hanya sebesar kelingking.
Dalam prosedur aslinya, alat yang
digunakan adalah gelas kimia 100 mL. Sedang dalam prosedur yang dibuat Tari,
digunakan tabung reaksi 5 mL. Dua puluh kali lebih kecil dari
ukuran semula. Namun
menghilangnya
tanda
silang yang diletakkan di dasar tabung−karena tertutup endapan belerang, masih
dapat diamati.
“Sama sekali tidak menyulitkan Pak!
Perubahan- nya
pun dapat diamati dengan jelas.” Tari menjawab pertanyaan pak Deri dengan
sangat percaya diri.
Pertanyaan berikutnya berlangsung
dengan sangat alot. Jawaban yang Tari berikan selalu melenceng dari harapan pak
Deri. Setelah agak lama berjibaku dengan pertanyaan tersebut, Tari pun
menyerah.
“Maaf pak, tapi saya tidak mengerti
apa pertanyaan bapak…” akhirnya Tari mengungkapkan penyebab berbelit-belitnya
jawaban yang ia berikan. Tari tak ingin dianggap tidak becus menjawab
pertanyaan. Dengan resiko, pak Deri akan merasa tidak nyaman atas sikapnya.
Namun Tari mengambil resiko itu.
Syukurlah pak Deri berlapang dada atas pernyataannya. Pak Deri mengakhiri
pengujiannya dengan tersenyum.
Mudah-mudahan
kejadian ini tidak mempengaruhi nilai sidangku. Bisik Tari dalam hati.
Selanjutnya, Tari harus berhadapan
dengan bu Yani. Bu Yani merupakan pembantai bagi para mahasiswa. Selain daya
analisisnya yang tajam, ia mempunyai kepribadian yang kuat. Tegas, disiplin,
dan objektif menjadi ciri khasnya.
Namun, berhadapan dengan bu Yani
tidak membuat Tari gentar. Tari bersama dengannya selama tiga semester. Satu
semester untuk kuliah regular. Satu semester untuk mengulang kuliah di
kelasnya–Tari mendapat nilai D darinya dan
mengulang kuliah untuk mendapat A. Satu semester lagi karena bu Yani
menjadi pembimbing seminar kimia. Jadi, sedikit banyak Tari memahami karakter
bu Yani.
“Penelitian anda adalah praktikum
skala kecil, namun apakah benar massa bahan-bahan yang anda gunakan memenuhi
batasan yang telah ditentukan? dalam prosedur
yang anda buat, digunakan satuan volum. Bila larutannya pekat, volum sedikit
pun massanya bisa besar, kan?“ mata bu Yani yang setajam elang menatap Tari
dingin.
“Saya sudah menghitung semuanya Bu.
Massanya memenuhi syarat dalam praktikum skala kecil.”
Bu Yani mengangguk-angguk. Mimiknya
datar tanpa ekspresi. Itu yang sering membuat para mahasiswa merinding.
“Kalau begitu, nanti anda tuliskan
perbandingan massa yang digunakan dalam praktikum makro dan skala kecilnya!”
“Baik Bu!” Tari mengiyakan usulan bu
Yani.
Masih tanpa ekspresi, bu Yani
melanjutkan pertanyaan. “Menurut anda, bagaiman cara menentukan hukum laju
reaksi?”
Tari sudah menduga bu Yani akan
menanyakan ini. Kemarin Tari menghabiskan waktu seharian untuk memprediksi
pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontar- kan para penguji.
Karena sebelumnya Tari sudah
dibimbing oleh bu Yani, ia jadi tahu gaya berpikir bu Yani. Bu Yani selalu
menanyakan bagaimana istilah-istilah yang ditulis dalam makalah bisa didapat.
Entah tentang percobaannya maupun penurunan rumusnya.
Tari tersenyum. Hambar. Terbayang
penurunan rumus yang harus ia tuliskan. Banyak sekali.
“Saya tuliskan bu?” Sebenarnya Tari
menginginkan jawaban tidak dari bu Yani.
“Iya. Silahkan!” Bu Yani mengulum
senyum.
“Di bor Bu?” Tingkah Tari sedikit kikuk.
Harapan- nya meleset.
Bu Yani mengangguk. Senyumnya semakin
lebar. Senyum kemenangan.
Eit…aku
belum kalah! Seru
Tari dalam hati.
Semalam Tari sudah belajar penurunan
rumus hukum laju. Amunisiku cukup lengkap
kok! Seru Tari lagi. Masih dalam hati.
Perlahan Tari mendekati green board. Papan tulis berwarna hijau. Ia mengambil kapur
yang tegeletak di dalam penampung debu papan tulis. Tari sempat melirik dosen
pembimbingnya. Pak Yana tampak harap-harap cemas. Mereka tidak pernah membahas
pertanyaan ini selama bimbingan.
Bismillah! Perlahan Tari menorehkan kapur di
atas papan tulis. Hurup demi hurup ia tuliskan. Hampir habis setengah papan
tulis, tapi penurunan rumus belum juga selesai.
“Ya, waktunya habis!” suara pak Yana
sedikit mengagetkan Tari. Sudah berakhir?
Tanya Tari dalam hati. Cepat sekali satu jam berlalu. Tari berbalik. Kembali
menghadap kepada para dosen. Tari tak kuasa mem- bendung senyum.
“Save
by the bell!” seru bu Yani sambil tersenyum. Tari mengangguk. Ada rasa yang
tak terlukiskan dengan kata-kata. Senang dan haru campur aduk menjadi satu.
Pak Yana lantas menyuruh Tari duduk
di hadapan para dosen. Mereka akan mendiskusikan perbaikan draf skripsi.
“Saya bingung dengan daftar pustaka
yang anda buat. Di dalam skripsi dituliskan tahun 1996, tapi di daftar
pustakanya tahun 2000. Mana yang benar? Banyak yang seperti itu.” Bu Yani
membuka diskusi.
Tari kaget bukan kepalang mendengar
perkataan bu Yani. Eni berbaik hati menawarkan jasanya untuk membuatkan daftar
pustaka untuknya. Mungkin Eni ingin membantu meringankan pekerjaannya. Pasalnya
Tari tidak memiliki komputer sendiri. Sehingga ia harus “bergentayangan” dari
rental komputer yang satu ke rental yang lain.
Lebih parahnya lagi, draf skripsi
mereka baru disetujui oleh pak Yana seminggu yang lalu. Banyak perbaikan yang
harus dilakukan. Padahal draf sudah harus diberikan kepada para penguji tiga
hari sebelum sidang.
Karena fokus penelitian skripsi
mereka sama-sama praktikum skala kecil, buku yang mereka pakai pun sama. Jadi
Tari tidak memeriksa kembali daftar pustaka yang dibuat Eni. Ternyata, buku
yang mereka pakai berbeda edisi. Sehingga tahun pembuatannya pun berbeda.
Sebelum menjawab, Tari mengumpulkan
keberani- an untuk berterus terang. Tari menarik napas dalam.
“Saya nge-print daftar pustaka teman saya Bu…” jawaban Tari mengambang. Ia
menunggu reaksi para dosen.
Para dosen serentak tersenyum sesaat
setelah mendengar jawaban jujur Tari. Sementara bu Yani hanya menggelengkan
kepalanya.
Di saat yang penting, bisa-bisanya
Tari melakukan kekonyolan semacam itu.
“Nanti diperbaiki ya!” akhirnya bu
Yani ikut tersenyum juga. Tari merasa sangat lega.
Terjadi sedikit diskusi mengenai
perbaikan draf skripsi. Tari lalu diusir secara halus oleh pak Yana.
Setelah membereskan transparansi dan
meng-ambil draf skripsi dari para dosen, Tari pun segera berlalu dari ruang
sidang.
Tari tak melihat seorang teman pun di
lantai lima ini. Ia mempercepat langkah, Tari ingin cepat sampai di kosan Neti.
Tari akan menunggu tibanya waktu peng- umuman kelulusan di sana. Pengumuman
dilangsungkan di jurusan kimia nanti sore.
Baru beberapa langkah keluar dari
lift, Ahmad dan Erdi sudah menyapa Tari. Baru sebentar berbincang, pak Adi
datang menghampiri mereka.
“Penampilan kamu tadi bagus!” puji
pak Adi tulus. Pak Adi jarang sekali memuji mahasiswanya. Pujian itu membuat
Tari senang bukan kepalang.
“Oh? Terima kasih Pak!” Tari dibuat
salah tingkah karenanya. Pak Adi melemparkan senyum manisnya sambil mengangguk
dan ia pun berlalu.
“Wah! Hebat Tari!” komentar Erdi.
Tari hanya bisa tersenyum menanggapi pujian Erdi. Tari tak pandai menerima
pujian. Lagipula ia merasa semuanya bisa berjalan lancar berkat pertolongan
Alloh. Bukan semata- mata usahanya sendiri. Setelah berpamitan kepada keduanya,
Tari bergegas meneruskan perjalanan.
Ketika pengumuman kelulusan tiba,
Tari tak dapat membendung air matanya. Setelah semua yang ia alami, akhirnya
Tari bisa lulus juga. Tari lulus dengan yudisium sangat memuaskan. Tidak
terlalu buruk mengingat segala hal yang telah ia lalui selama berkuliah di
kampus ini.
Salon Umi
Pagi-pagi benar Tari sudah terduduk
di depan meja belajar. Lip stick
merah muda, pelembab wajah, bedak, dan eye
liner tergeletak di atasnya.
Sekali lagi Tari lihat wajahnya di
cermin. Tari tertawa dalam hati. Bibirnya yang senantiasa pucat kini terpulas Lip stick merah muda. Matanya yang sipit
sedikit terlihat lebih besar karena efek eye
liner yang ia pakai.
Hari ini Tari diwisuda. Sehingga ia
“menempelkan” sedikit make up di
wajahnya. Teman-teman Tari mungkin sekarang sedang melakukan hal yang sama
juga. Bahkan mungkin mereka menyengajakan diri pergi ke salon.
Minimal, meminta bantuan saudaranya
untuk mempercantik wajah mereka. Tari memutuskan melakukannya sendiri saja.
Bahkan tanpa bantuan mama. Tari berdandan di salon umi–salon milik ibu sendiri, begitu kata mama kepada
Tari. Semua perlengkapan make up
memang milik mama. Hanya pelembab saja yang merupakan kepunyaan Tari.
Tari mengambil posisi berdiri.
Dipakainya kain milik mama. Lalu ia kenakan kerudung yang baru dibeli minggu
kemarin. Tak ada kemewahan dalam pakaiannya. Bahkan Tari tak memakai kebaya.
Hanya blus putih.
Akhirnya
aku lulus juga.
Gumam Tari dalam hati. Bapak bekerja keras banting tulang untuk memberi anak-
anaknya pendidikan yang tinggi. Selain itu, bapak selalu berusaha untuk memberi
penghidupan yang layak: rumah tempat bernaung, makanan enak yang bergizi, serta
pakaian yang pantas.
Bapak tidak mempunyai pangkat tinggi.
Bapak hanya lulusan SMP. Namun Tari yakin, dibandingkan dengan kebanyakan
teman-temannya, kehidupan ke- luarga bapak lebih baik. Mungkin jauh lebih baik.
Siang hari bapak bekerja sampai jam
dua–namun belakangan jadi jam empat. Setelah tidur siang sebentar, bapak
dibantu mama, Tari, dan kedua saudaranya menyiapkan benda-benda filateli yang
hendak dijual. Mulai dari perangko mint,
sampai perangko used, SHP, booklet, souvenir sheet, kartu pos, cap pos,
sampai katalog perangko. Pokoknya apapun yang laku di pasaran, tersedia di
rumah mereka.
Bapak mendapat barang dagangan dari
para kolektor yang menjual koleksinya kepada bapak. Selain itu, ada juga yang
didapat dari sesama pedagang. Bahkan kadang-kadang, bapak mendapatkan barang
dari tukang loak. Demi memburu benda filateli, tak jarang bapak harus keluar
rumah di malam hari.
Pedagang filateli hanya menyediakan
benda filateli yang sudah tidak lagi dijual di kantor pos. Biasanya, benda-benda
filateli yang habis masa berlakunya akan ditarik dari peredaran. Benda-benda
seperti itulah yang menjadi buruan para kolektor.
Harga benda filateli mengacu pada
katalog. Namun seringkali tidak sepenuhnya sama dengan harga yang tertera dalam
katalog. Harga sebenarnya hanya beberapa persennya saja. Kebanyakan bergantung
pada melimpah atau tidaknya benda tersebut di pasaran. Benda filateli yang
melimpah tidak berharga mahal walaupun benda tersebut sudah berumur tua.
Bisnis filateli telah menjadi urat
nadi perekonomian keluarga Tari selama hampir tiga puluh tahun. Namun, seiring
berjalannya waktu, bisnis ini jadi tak semanis dulu. Bapak tersisih dari kancah
persaingan. Para pedagang tidak lagi menjual dan membeli barang kepada bapak.
Bahkan ada juga yang menjegal pembeli di tengah jalan. Padahal beberapa
pedagang adalah “murid” bapak. Ternyata bisnis tak mengenal kata “teman”.
Bapak pernah mengalami kejayaan dalam
bisnis ini. Bahkan setelah bapak pensiun, selama beberapa waktu ia mempunyai counter di pusat kota. Namun, tak lama
kemudian, bapak terlempar ke jalanan.
Kini bapak berjualan di kaki lima. Di
atas mobil tua. Tua, bukan antik. Bapak berjualan di seberang sebuah
kantor−tempatnya dulu bekerja.
Setelah merasa semuanya OK, Tari pun
keluar kamar. Bapak, mama, dan si kecil Iik sudah bersiap. Mereka yang akan
mengantar Tari menghadiri acara wisuda. Sebenarnya Tari tidak terlalu senang
datang ke acara perayaan-perayaan seperti ini. Tapi, ini adalah wisudanya,
tidak lucu bila Tari tidak menghadirinya.
Kejar Daku Kau Kujitak!
Tari melangkah pelan menuju toilet.
Ia tak bisa bergegas. Kain yang dipakainya tidak memberikan ruang yang cukup
untuk melangkah lebar.
Hmp!
Sampai juga di toilet.
Gumam Tari dalam hati. Ia merasa geraknya sangat terbatas. Seharian ini ia
harus berpakaian layaknya mojang priangan.
Tari mengeluarkan sebuah tube
berwarna merah muda dari tas kecilnya. Setelah mengeluarkan isinya sebuku jari,
ia pun membusakan sabun muka tersebut. Lalu ia mencuci wajahnya.
Setelah pekerjaan mencuci muka
selesai, Tari berganti pakaian. Pakaian adat berubah menjadi pakaian mengajar.
Di hari wisudanya, ia tidak mengambil “cuti”. Hari ini ada jadwal mengajar
privat di Antapani. Kakak beradik sekaligus. Sebelum keluar dari toilet, Tari
memastikan tiada lagi riasan di wajahnya.
Keluarga Tari sudah pulang lebih
dulu. Tari akan memakai angkot ke
rumah muridnya. Sekarang
tangan
kiri
kanan Tari penuh dengan bawaan. Toga dan baju adat memenuhi tas plastik yang
dibawanya dari rumah. Ia pun bergegas menuju jalan raya.
Seharusnya pakaian ini dititipkan
saja di mobil bapak. Tentunya sekarang ia tidak harus kerepotan sendiri. Kadang-kadang ide memang datangnya ter-
lambat. Keluh Tari dalam hati.
Bicara tentang terlambat, Tari pun
terlambat menyadari bahwa Lia–yang pernah melabraknya, tidak suka bila ia
berbicara dengan Ahmad. Sementara tadi, ia dan Ahmad asyik mengobrolkan
aktifitas yang sedang dan akan mereka jalani nanti. Mereka sebenarnya tidak
meng- obrol sendiri. Ada Lia juga di sana. Namun Lia lebih banyak diam.
Masya Alloh! Jangan-jangan sepulang
wisuda akan terjadi perang bintang di antara dua sejoli itu: piring terbang,
gelas melayang? Tari tersenyum kecil mem- bayangkannya. Kok bisa ia sampai lupa
kalau Lia pernah mengobarkan perang kepadanya? Pantas saja selama mengobrol Lia
tampak sedikit kesal.
“Pulang?” suara seseorang yang amat
dikenalnya mengagetkan Tari. Serta merta Tari menghentikan langkahnya.
Ups!
Hatori! Teriak Tari
dalam hati. Hatori bukanlah nama sesungguhnya. Itu adalah julukan yang diberikan
Leni pada kakak kelasnya itu. Umur Hatori terpaut sekitar lima tahun di atas
umur Tari. Hatori berbeda jurusan dengan Tari. Entah apa yang mendasari Leni
memberikan julukan seperti itu. Hatori adalah tokoh ninja dalam sebuah film
serial kartun. Mungkin karena ukuran tubuhnya yang sama-sama mungil sehingga
Leni menyebutnya demikian. Atau karena akhiran namanya adalah “ri”?
“Oh? Iya…” jawab Tari sekenanya. Ia
mencoba mengemas rasa kagetnya dalam hati. Ia lalu meneruskan langkah yang
terhenti. Ia seolah tak menghiraukan keberadaan Hatori.
“Boleh Ikut?” Hatori mengikuti
langkah Tari.
“Enggak!” Tari serius dengan
ucapannya. Mimiknya datar. Tanpa sesungging senyum pun di wajahnya. Masih
terbayang kejadian tempo hari. Hatori tiba-tiba muncul di sekolah tempat Tari
PPL. Hal itu membuatnya trauma. Jadi ia tak mau berlaku manis. Ia tak mau
memberi kesan bahwa ia memberi peluang kepada Hatori untuk mendekatinya. Moto
Tari adalah: kejar daku kau kujitak.
Ternyata hal yang ditakutkan Tari
benar-benar terjadi. Hatori terus mengikutinya sampai tempat pemberhentian
angkot.
Tari kembali menghentikan langkahnya.
Pan- dangan mata Tari menajam. Setajam belati. Tari seperti ingin merobek-robek
sosok di hadapannya dengan pandangannya. Telunjuk kanan Tari teracung. Sementara
tangan kirinya menggantikan tugas tangan kanan membawa tas plastik.
“Pergi!” dalam teks komik, akan ada
lima tanda seru dalam perkataan Tari. Sebagai penegas kesungguhan ucapannya.
Tari tidak suka dipaksa.
“Tidak, saya tidak akan pergi. Saya
ingin ketemu orang tua Tari. Saya ingin tahu pendapat mereka tentang lamaran
saya!” Hatori terdiam sejenak.
“Ini saat terakhir untuk melakukan
itu. Mungkin kita ga pernah ketemu lagi.” Hatori pernah mengutarakan maksudnya
menikahi Tari. Tari menolaknya mentah- mentah. Namun Hatori begitu gigih
berjuang men- dapatkan cinta Tari. Bahkan terkesan agresif.
“Orang tua saya menyerahkan
sepenuhnya keputusan untuk memilih jodoh kepada saya.” Nada bicara Tari tegas.
Ada penekanan pada beberapa suku kata.
“Lagipula, sekarang saya ga akan
langsung pulang, saya akan ngajar dulu!” Tari menjadi sangat emosi. Ia merasa
keputusannya tidak dihargai oleh Hatori. Sampai- sampai Hatori mau datang
langsung kepada orang tuanya. Mengabaikan penolakannya.
Bagi Tari pernikahan bukan melulu urusan
cinta. Ia lebih menginginkan suami yang memiliki prinsip hidup yang sama.
Bersedia menyetujui keyakinan yang ia miliki dan mendukung semua kegiatan yang
ia lakukan. Ia tak mendapati hal tersebut pada diri Hatori.
Kalau saja Hatori sekarang berlutut di
hadapannya dan membawa sekeranjang bunga sekalipun, hal itu tak akan mengubah
apa-apa. Apapun yang akan dilakukan Hatori, tak akan membuat Tari bergeming
dari keputusannya. Yang ia inginkan hanyalah Hatori berhenti mengejarnya.
Hatori tidak tahu berhadapan dengan
siapa. Ia tidak tahu betapa mengerikannya dirinya. Tari bukan tipe wanita lemah lembut yang bisa mengemas
kata ketika menyampaikan penolakan. Jadi Tari tak ingin terus- terusan
bersitegang dengan Hatori. Ia tak ingin menyakiti hati siapa pun.
Tari bersitegang cukup lama dengan
Hatori. Setelah merasa sia-sia berbicara dengannya, Tari berlalu. Ia menyetop
angkot yang lewat di hadapannya. Tanpa basa-basi ia langsung naik. Hatori
mengikutinya, menum- pang angkot yang
sama.
Ketika harus berhenti dan berganti
tumpangan dengan ojeg, Tari tetap tidak
mengindahkan keberadaan
Hatori.
Sesampainya di depan sebuah rumah besar, Tari menghentikan ojeg yang
ditumpanginya. Begitupun Hatori.
Tari memijit bel di balik pintu
gerbang yang tinggi. Sejurus kemudian, datang seorang anak lelaki.
“Eh, Bu!” sang anak menyapanya sambil
membuka kunci gembok.
“Assalamualaikum!” Tari mengucap
salam.
“Waalaikum salam…” gerbang dibuka
oleh sang anak.
“Maaf terlambat ya! Tadi ada
halangan.” Tari tersenyum. Manis.
“Ga apa-apa. Masuk Bu!” si anak
mempersilahkan Tari ke dalam. Ia mendahului Tari berjalan menyusuri pekarangan
yang digunakan sebagai garasi.
Sebelum masuk, Tari berbalik. Hatori
berdiri mematung di belakangnya. Seolah sedang memikirkan langkah apa yang akan
diambilnya.
“Akang yang pergi atau saya yang
pulang?” Tari menatap Hatori tajam. Sikap Tari dingin. Membekukan partikel
udara di sekitarnya.
“Biar saya yang pulang.” Hatori pun
menyerah dan berlalu pergi. Ia tak punya pilihan lain.
Betul kata Hatori, setelah kejadian
itu mereka tak pernah bertemu lagi.
Tuna Nurani
Tari baru saja beranjak sekitar
sepuluh langkah dari mobil bapak ketika ia tak sengaja mendengar perbincang- an
para calo dan seorang pedagang koran.
“Kata kita mah, minta ganti rugi ajah. Ngapain kayak gitu!” seru salah seorang
di antara mereka sambil menunjuk ke arah mobil yang terjebak di jalanan yang
macet. Cicaheum selalu macet pada jam-jam berangkat sekolah dan kerja, serta
pada jam-jam pulang keduanya. Volum kendaraan yang semakin banyak di jam-jam
tersebut ditambah keluar masuk bus dari dan ke terminal menyebabkan kemacetan
panjang.
Mereka tidak tahu Tari adalah anak
pengendara mobil yang mereka bicarakan. Di pintu belakang mobil bapak tertulis
KORBAN DAMRI. Tidak lupa dicantumkan plat nomor bus tersebut. Mobil bapak
terserempet bus Damri beberapa waktu yang lalu. Sudah tahu me- nyerempet, si
sopir tidak mencoba menghentikan laju busnya, malah meneruskan aksi
ugal-ugalannya.
Alhasil, pintu sebelah kiri mobil bapak
penyok. Setelah sedikit bersitegang di jalan, bapak meminta alamat si sopir.
Ketika datang ke rumahnya, bapak mendapati manusia yang tidak layak disebut
manusia. Ketika ditanya alasan kenapa ia tidak menghentikan laju bisnya, dengan
ringan ia mengatakan. “Mobil tua ini…” si sopir mengejek mobil bapak. Padahal
mungkin ia tidak mempunyai mobil sama sekali. Rumahnya pun tidak bisa disebut
bagus. Rumahnya terletak di gang yang sangat sempit. Bagaimana bisa ia berlagak
sombong seperti itu?
Setelah itu si sopir menyarankan agar
bapak menghubungi kantor Damri. Pihak kantor Damri sebenarnya akan mengganti
kerusakan mobil bapak. Tapi bapak menolak. Entah apa yang ada di pikiran bapak
saat itu. Padahal perbaikan mobil menelan biaya yang cukup besar.
Tari pun berlalu diam-diam
meninggalkan mereka yang masih terus menjelek-jelekkan pengendara Carry abu-abu. Tari menghela napas.
Apakah mereka tak sadar, dalam kejadian itu, keselamatan bapak yang jadi
taruhannya? Mobil tua lawan bus Damri bukanlah pertarungan yang seimbang.
Apakah sebuah kecelakaan adalah hal yang wajar bagi mereka sehingga dengan uang
semuanya bisa jadi beres? Di mana nurani mereka semua berada?
Tari terus berjalan menjauhi mereka.
Ia baru berhenti setelah berada sekitar dua puluh meter dari posisi mereka.
Sampai sosok orang-orang yang tuna nurani itu terhalang oleh kios-kios
sepanjang terminal.
Bahasa Golok
Puih!
Jalanan Bandung di sore hari macet sekali! Keluh Tari dalam hati.
Terlebih, ia kini berada di terminal
Cicaheum. Mobil, motor, bus DAMRI, bus antar kota, semuanya merayap pelan di
atas aspal. Sesekali terlihat kepulan asap hitam pekat yang berasal dari
knalpot bus DAMRI.
Seiring dengan semakin membengkaknya
jumlah motor dan mobil pribadi, kemacetan di kota Bandung semakin parah.
Seiring dengan itu pula, perlahan tapi pasti, angkutan umum kehilangan
penumpang.
Sambil menutup hidung dengan sapu
tangan handuk, Tari menyusuri trotoar sepanjang terminal. Ia harus berjalan dengan
hati-hati karena ia tak bisa leluasa bergerak. Sesekali ia harus menghentikan
langkah. Guna menghindari tabrakan dengan pejalan kaki yang lain atau dengan
para calo.
Seperti biasa, Tari akan berjalan
tegap sambil memusatkan pandangannya ke
arah depan. Namun tiba-
tiba, mata kecil Tari menangkap
kilauan cahaya yang berkelebat ke arah atas. Hanya berjarak beberapa langkah
dari posisinya sekarang. Ia mengikuti kilauan cahaya itu dengan indera
penglihatnya sambil terus berjalan. Sebuah benda tipis panjang teracung di
udara.
Sebelum sempat mengenali benda yang
dilihatnya, Tari sudah mengalihkan pandangan ke arah depan sambil terus
berlalu. Dahi Tari berkerut-kerut. Ia mencoba mencerna penggalan kejadian yang
dialaminya.
Baru saja Tari beranjak sekitar tiga
atau empat langkah dari sosok yang mengacungkan benda aneh tersebut, Tari
dikejutkan oleh teriakan seorang ibu yeng berada beberapa langkah di hadapan
Tari.
“Aaaa… Itu! Itu!” sang ibu menunjuk
ke arah Tari datang. Dengan serta merta Tari berbalik dan mencoba mengikuti
arah telunjuk si ibu.
Seketika sekujur tubuh Tari terasa
kaku. Mulutnya ternganga. Suaranya tercekat di tenggorokan. Tari melihat
seorang lelaki tambun berkepala plontos duduk berselonjor kaki di depan sebuah
kios. Tubuhnya ber- sandar pada sekeranjang buah-buahan. Tangan si lelaki
memegangi leher. Dari sela-sela jemari merembes cairan berwarna merah. Darah
segar.
Di hadapan si lelaki berdiri lelaki
lain yang memegang benda tipis panjang. Samurai.
Si ibu yang tadi berteriak kini
merangsek ke depan. Hendak mendekati kedua lelaki tersebut. Secara refleks,
Tari menangkap si ibu dan memeluknya. Tari lalu menyeret si ibu menjauh. Tubuh
si ibu sedikit gemetar.
“Ibu pulang! Ibu pulang!” seru Tari.
Sambil terus memeluk tubuh si ibu,
Tari memandang berkeliling. Sore itu tidak polisi berjaga di terminal.
Sementara orang-orang di sekitar tempat itu tak
ada yang berani mendekat. Terlalu
berbahaya. Setelah si ibu cukup tenang, Tari melepaskan pelukannya.
“Pulang bu…” bujuk Tari. Si ibu hanya
me- mandangi wajah Tari. Tak ada sepatah kata pun yang diucapkannya.
Tari lalu mencegat angkot yang
mendekati trotoar. Tanpa pikir panjang, Tari langsung meloncat ke dalam angkot.
Setelah beberapa menit, Tari baru
menyadari kalau ia pun gemetar, detak jantungnya tak beraturan, tubuhnya lemas.
Ia menghela napas panjang beberapa kali. Menenangkan diri.
Apa
yang sedang terjadi pada masyarkat ini? Tanya Tari dalam hati. Ia tak habis pikir. Apakah bahasa verbal sudah tidak ampuh lagi
untuk menyelesaikan segala permasalahan? Sehingga digunakan bahasa golok untuk
mengambil alih bahasa verbal? Sepanjang perjalanan pulang, Tari sibuk
dengan pikirannya sendiri.
Potret Kemiskinan
Hmp!
Panas sekali siang ini.
Keluh Tari dalam hati. Rasanya semakin
hari cuaca di kota kembang ini semakin tidak bersahabat. Keadaannya jauh
berbeda dengan sepuluh tahun ke belakang. Dulu, Bandung sangatlah sejuk. Di
rumahnya yang terletak di dataran rendah saja masih sering terlihat kabut di
pagi hari. Hari baru akan terasa panas bila jam sudah menunjukkan pukul dua
belas siang. Tapi tak pernah sepanas ini.
“Kiri!!!” Tari memberhentikan laju angkot yang
ditumpanginya. Lalu bergegas turun dan membayar ongkos.
Tari memandang berkeliling. Hanya
jajaran pertokoan dalam sapuan matanya. Ia sedang memastikan apakah ia berhenti
di tempat yang benar. Oh, iya, itu dia gang dia cari.
Setelah memastikan keadaan aman,
Tari segera menyebrang jalan. Ia lalu
memasuki salah satu gang yang cukup besar. Gang itu bisa dilalui oleh sebuah
mobil.
Beberapa meter dari jalan raya, gang
mulai terlihat menyempit. Hanya bisa dilalui becak. Setelah sekitar lima menit
berjalan, gang kembali menyempit. Kali ini hanya bisa dilalui oleh motor.
Ia terus menyusuri gang sempit itu.
Keadaan mulai tak nyaman. Di sisi kiri kanan gang bertebaran sampah. Bekas
pembungkus jajanan anak-anak.
Tari melirik jam di tangan kirinya.
Sudah setengah empat. Ia belum sempat solat Asar. Tari pun bergegas. Ia
mempercepat langkah. Tak berapa lama, ia pun sampai di tempat tujuan.
Ia terdampar di tempat ini karena
permintaan dari guru bahasa Arabnya. Kang Epul. Ia akan mengadakan Bimbel di
kampungnya. Dibutuhkan beberapa guru untuk mengajar di sana.
Tari tidak sendiri. Ia bersama tiga
orang lainnya akan mengajar di sana. Tari dan ketiga pengajar yang lain
melakukan pembagian tugas. Sesuai dengan jurusan yang diambil Tari sewaktu
kuliah, ia mengajar Kimia. Pengajar yang lain mengajar Matematika, Fisika, dan
bahasa Inggris.
Ijab qobul antara para pengajar
dengan pengurus masjid adalah: semua kegiatan yang dilakukan bersifat sukarela.
Tidak ada imbalan yang diterima oleh para pengajar.
Tari tak enak hati menolak permintaan
tersebut. Pasalnya, ia berhutang budi kepada kang Epul dan teman- temannya.
Hampir setahun ini ia belajar bahasa Arab kepada mereka. Gratis!
Awalnya, a Wisnu yang menggagas
diadakannya kursus bahasa Arab di masjid al-Ikhlas. Pada awal kesepakatan, para
peserta kursus diwajibkan membayar iuran bulanan. Namun,
wacana uang bulanan
itu seolah menguap entah ke mana.
Sampai detik ini Tari tak pernah membayar sepeser pun.
Mulanya peserta kursus ada sekitar
empat belas orang. Tapi dari hari ke hari jumlahnya semakin menyusut. Bahkan
sekarang hanya empat orang yang tersisa. Mereka belajar dua kali seminggu. Hari
Rabu dan Minggu. Rabu mereka belajar di malam hari. Selepas Isya. Sedang di
hari Minggu mereka bisa belajar pada pagi hari. Jam delapan. Tari mulai belajar
bahasa Arab pada semester akhir perkuliahannya.
Tari memandang masjid dihadapannya.
Bangunan masjid yang terletak di pemukiman padat penduduk tersebut tampak lebih
tinggi dari bangunan yang lainnya. Begitu pula dengan madrasah yang terletak di seberang masjid. Walau tidak setinggi
masjid, bangunan madrasah pun lebih
tinggi dari rumah-rumah penduduk di sekitar- nya. Masjid dan madrasah terpisah oleh lahan kosong.
Menurut salah seorang muridnya,
pemukiman itu kerap diterjang banjir. Banjir terparah bahkan bisa men- capai
ketinggian pinggang orang dewasa.
Pemukiman itu dilalui oleh sebuah
sungai kecil. Sungai tersebut sangat dangkal. Sisi kiri kanannya dipenuhi
sampah. Air di dalamnya hitam pekat dan mengeluarkan aroma tak sedap.
Tari tidak langsung ke masjid. Ia
hendak ke kamar mandi. Sejenak ia kebingungan. Ia baru tahu letak kamar mandi
setelah ditunjukkan oleh seorang anak kecil.
Ada tiga kamar mandi berjajar di
sana. Dengan sebuah sumur di sebelah kamar mandi paling kanan. Lengkap dengan
katrol untuk menimba air dari dalam sumur. Bukan hanya Tari yang berada di
sana. Ada beberapa orang yang juga hendak mempergunakan kamar mandi.
Ada yang membawa peralatan mandi, ada
yang membawa cucian, ada juga yang tidak membawa apa-apa.
Ini
kamar mandi umum ya? Berapa orang yang mempergunakannya? Berapa rumah yang
tidak memiliki kamar mandi? Tari bertanya-tanya dalam hati.
“Neng, mau ke kamar mandi?” seorang
bapak yang sedang memegang tali katrol bertanya kepada Tari.
“Oh? Eh? Iya! Iya!” Tari gelagapan.
Ia terlalu sibuk dengan hatinya. Ia tak menyangka akan ada orang yang
menegurnya. Ternyata ada kamar mandi yang baru saja kosong.
“Masuk aja! Biar airnya saya yang
narik!” sang bapak menawarkan jasa.
“Ah, ga usah Pak! Biar saya aja!”
Tari tak enak hati bila harus merepotkan orang lain. Lagipula, ia pun tahu
caranya menimba air kok!
“Ga apa-apa Neng! Masuk aja!” sang
bapak mulai menarik air dari dalam sumur.
Tari tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak
mungkin berlama-lama menolak tawaran sang bapak. Antrian sudah memanjang.
“Nuhun
atuh Pak!” akhirnya Tari mengalah dan
masuk ke dalam kamar mandi.
Selepas solat, Tari masih terdiam di
dalam masjid. Ia menunggu murid-muridnya datang.
“Assalamualaikum!”
“Assalamualaikum!” Ada sekitar empat
anak perempuan menyeruak masuk ke dalam masjid sambil mengucap salam. Mereka
lalu mendekati Tari malu-malu.
“Waalaikum salam!” Tari menjawab
salam mereka sambil tersenyum.
Lalu, satu per satu anak-anak itu
menyalami dan mencium tangan Tari.
“Eh, tangannya harum!” seru anak yang terakhir
menyalami Tari.
“Mana?”
“Mana?” teman-temannya berebut meraih
tangan Tari. Berusaha menciumnya kembali.
“Iya harum!” teman-temannya
mengiyakan. Tari terhenyak. Baru kali ini ada yang mengatakan hand and body lotion yang dipakainya
harum. Padahal ia memakai lotion
dengan parfum yang sangat lembut. Tari tak tahan dengan wewangian yang tajam.
Ia akan segera disergap pusing bila mencium wewangian seperti itu. Lagipula lotion-nya sudah terbasuh air wudhu.
Tari jadi tertarik untuk mengamati
penampilan anak-anak tersebut. Pakaian yang mereka kenakan sudah tidak jelas
lagi corak dan warnanya. Sudah pudar. Warna kulit mereka menghitam terbakar
sinar sang surya. Rambut-rambut jagung mereka pun bau matahari. Tak heran bila
wewangian menjadi barang mewah di sini.
“Teh, kata teh Ani belajarnya di madrasah aja.” Salah seorang anak
membawa kabar.
“Oh gitu? Makasih ya!” Tari lalu
melipat mukenah yang baru saja dipakainya solat. Diraihnya tas yang berada di
depan tempatnya bersujud.
Tas Tari layaknya kantong Doraemon.
Segala ada. Ada bekal minum, makan siang, payung, serta kaos kaki ganti. Kalau
saja jaket bisa muat ke dalam tas, sudah pasti dimasukkan juga. Namun Tari
hanya bisa menjinjing jaketnya.
Ketika hendak memasukkan mukenah ke
dalam tas, seorang anak mencegahnya.
“Teh, mukenahnya biar saya yang
bawa!” pinta- nya. Sejenak Tari tertegun. Heran. Lalu ia tersenyum dan
mengabulkan permintaan sang anak.
“Boleh!” kata Tari sambil menyerahkan
mukenahnya kepada si anak. Si anak langsung mencium mukenah yang diterimanya.
“Harum!” serunya. Demi melihat
kelakuan si pembawa mukenah, anak yang lain berebut mengambil alas sujud yang
dipakai Tari. Anak yang mendapatkannya meminta izin untuk membawa alas sujud
tersebut. Si anak pun langsung mencium alas sujud yang didapatnya. Ia
mengatakan bila alas sujud tersebut juga harum. Anak-anak yang tidak mendapat apa-apa
celingukan.
“Saya bawa tasnya aja!” seru seorang
anak.
“Saya pegang tangannya aja!” si anak
pun langsung menciumi tangan Tari.
Tari lalu bangkit dari duduknya. Ada
rasa tak nyaman di hati Tari. Seperti ada yang mengiris hatinya. Pedih.
Tempat ini hanya berjarak ratusan
meter dari jalan raya. Tempat hiruk pikuk perdagangan di toko-toko berlangsung.
Tapi kondisi tempat ini sangat meng- hawatirkan.
Berlima mereka menuju madrasah. Bergerombol. Sesampainya di madrasah, semua barang Tari
dikembalikan.
Tari tidak lama mengajar Bimbel di
sana. Pengurus masjid yang memberhentikan kegiatannya. Katanya mereka tidak
punya dana lagi untuk membayar Tari.
Walau kesepakatan awal adalah guru
yang mengajar di sana sukarela, namun Tari tetap diberi “uang transpor”. Cukup
untuk ongkos bolak-balik rumah-madrasah.
Padahal Tari sudah mengatakan bahwa
tak dibayar pun ia masih tetap mau mengajar. Karena ia sudah terikat ijab qobul
awal. Namun pengurus masjid berkeras
dengan
dalih
Tari pergi ke sana pun memerlukan ongkos. Rumah Tari memang cukup jauh dari
tempatnya mengajar.
Sebenarnya, yang akhirnya benar-benar
mengajar di sana hanyalah Tari. Selain mengajar kimia, ia pun merangkap
mengajar matematika dan bahasa Inggris. Pengajar yang lain menghilang bahkan
sejak pertemuan kedua.
Setelah berhenti mengajar di Bimbel,
Tari pun tidak dapat meneruskan kursus bahasa Arabnya. Murid yang tersisa hanya
ia seorang. Tak mungkin ia belajar bahasa Arab sendiri, karena gurunya adalah
laki-laki.
Beberapa bulan setelah itu, Tari
mendapat kabar bahwa kakak Ani–salah
seorang muridnya, meninggal karena penyakit paru-paru yang dideritanya.
Tari pernah satu atau dua kali
berkunjung ke rumah Ani. Rumahnya terletak di belakang madrasah. Di gang yang sangat sempit, hanya bisa dilalui sepeda
saja. Sebelum memasuki rumah, Tari harus melalui tanggul tembok setinggi lutut.
Rumah Ani tidak bisa disebut besar.
Hanya terdiri dari tiga ruangan kecil dan sebuah ruangan yang agak luas yang
dijadikan dapur dan kamar mandi sekaligus. Ruang tamu dan ruang makan hanyalah
sebuah ruangan yang disekat lemari. Tak ada kursi, apalagi meja. Ruang itu
hanya bisa memuat empat orang saja. Itu pun harus duduk berdempetan. Terdapat
dua kamar tidur di rumah tersebut.
Sirkulasi udaranya sangat buruk.
Sinar matahari bahkan tak dapat menerobos ruang-ruang dalam rumah. Kamar-kamar
dibiarkan gelap tanpa ventilasi yang memadai. Terjangan banjir menyisakan
lembab yang kentara. Mungkin ini yang menjadi penyebab penyakit bisa bersarang
di sana.
Ironis. Tari harus melihat potret
kemiskinan di tengah derap pembangunan yang semakin laju. Di Paris van Java ini, mall-mall baru terus
bermunculan. Belum lagi resto dan kafé yang semakin menjamur. Memperlengkap
daftar kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Dunia macam apa yang
didiaminya kini?
Ujung Tombak
“Ada murid, kelas tiga. Minta
pemantapan buat Ujian Nasional.” Ela terdiam sejenak. “SMA tiga!” Ela melanjutkan kata-katanya
sambil nyengir kuda.
“Oww…!” Tari, Nur, Asih, dan Wida
terpekik hampir berbarengan. Siapa yang tidak tahu reputasi SMA tiga? SMA
negeri terfavorit di Bandung.
“Siapa yang akan ngajar?” tanya Ela
diiringi tawa cekikikan. Ia tahu teman-temannya pasti kebingungan. Tak satu pun
dari mereka pernah bersekolah di SMA negeri paling top tersebut.
Setelah beberapa lama mereka
tenggelam dalam hening, tiba-tiba Tari terpekik.
“Tidak! Tidak, tidak, tidak!” Tari
menggelengkan kepala cepat. Kedua tangannya diangkat setinggi bahu.
Semua pandangan teman-temannya
tertuju pada Tari. Sebagai isyarat penunjukan Tari sebagai pengajar anak
tersebut.
“Ayo, siapa lagi Teh?” Wida angkat
bicara.
“Iya Teh! Teteh aja yang ngajar…” teman
yang lain mendukung Wida.
“Ah… Kalian mah gitu deh! Giliran yang susah- susah aja, pasti aku yang harus
ngadepin! Ibarat tombak, aku tuh ditaro di ujungnya… Pasti ngadepin musuh
duluan!” Tari memajukan bibirnya. Manyun. “Kenapa ga Teh Wida aja? Ato Teh
Asih?” lanjut Tari lagi.
Semenjak ia bergabung dalam biro
privat yang dikelola teman-temannya itu, ia
beberapa kali mendapat murid yang “berbobot”. Bahkan ketika mendapat
telepon dari seorang ibu yang meminta pengajar ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)
pun, Tari yang harus menghadapi.
Sebenarnya Tari sudah menjelaskan
kepada orang tua anak tersebut, bahwa biro privat mereka tidak memiliki guru
yang bisa menangani ABK. Tapi sang ibu keukeuh
meminta Tari mencoba mengajar putranya. Alhasil, dengan modal nekat, Tari
mengabulkan perminta- an sang ibu.
Untungnya IQ muridnya tinggi, malah
jauh di atas rata- rata anak seusianya. Hanya saja ia mengalami sedikit
gangguan konsentrasi dan emosi. Jadi, asal Tari sabar, muridnya bisa diajak
bekerja sama dengan baik.
“Hehe kita kan mendukung dari
belakang!” Wida menggoda Tari.
“Ya sudahlah!” Tari mendengus kesal.
Sudah terbayang betapa merepotkan hari-hari yang akan ia hadapi. Mengajar
pemantapan artinya Tari harus meng- ulas materi pelajaran dari kelas satu
sampai kelas tiga. Namun, akhirnya Tari menyanggupi juga.
Tak ada salahnya mencoba pikir Tari.
Apapun yang akan terjadi, terjadilah!
Ternyata Tari tidak terlalu mengalami
banyak kesulitan ketika mengajar
anak tersebut. Tari
bisa me-
nguasai
kematerian yang akan disampaikan kepada muridnya dengan cukup baik. Dan karena
muridnya cerdas, ia dapat dengan mudah memahami penjelasan Tari.
Hasilnya, sang murid bisa lulus SMA
dengan nilai yang sangat memuaskan.
Ditolak
“Dengan Bu Mentari?” suara di
seberang telepon menanyakan apakah ia menghubungi orang yang tepat.
“Iya, saya sendiri…” Tari
membenarkan. Sang penelepon lalu memperkenalkan diri. Ia adalah staf personalia
dari sebuah Bimbel ternama di kota Bandung.
“Mengenai psikotes besok, Bu Mentari
ga usah datang dulu. Nanti kami akan menghubungi Ibu kembali.”
“Oh? Gitu ya? Baik. Terima kasih Bu
informasinya.”
Setelah pembicaraan diakhiri, Tari
meletakkan gagang telepon perlahan. Ia lalu masuk ke dalam kamar dan merebahkan
diri di atas tempat tidur.
Dipandanginya langit-langit kamar.
Tampak ke-ning Tari sedikit berkerut. Ada tanda tanya besar dalam benaknya. Ia
merasakan ada sesuatu yang aneh. Namun ia tak berpikir macam-macam, mungkin hanya sebuah pe- nundaan saja.
Hiburnya pada diri sendiri.
Hari demi hari berlalu. Tak ada kabar
yang Tari te-rima dari Bimbel tersebut. Tanda tanya di
kepala Tari ber-
tambah
banyak. Apa gerangan yang tengah terjadi?
Setelah merunut kejadian-kejadian
dalam proses penerimaan guru di Bimbel tersebut, Tari mendapat jawaban atas
pertanyaannya. Pasti karena data psikotes
yang lalu. Bisiknya dalam hati.
Tari sempat melamar menjadi guru di
Bimbel tersebut sebelumnya. Saat itu, ia bisa melalui beberapa ujian saringan
yang diadakan di sana. Ujian tertulis, wawancara, micro teaching, dan ujian mengajar siswa secara langsung. Namun ia
tidak lolos psikotes.
Ketika temannya yang telah mengajar
di Bimbel tersebut menyemangati Tari untuk melamar kembali, ia pun mengikuti
saran temannya. Temannya mengatakan, ia harus terus mencoba karena kesempatan
untuk diterima selalu ada walaupun sudah ditolak.
Setelah Tari mendapat penolakan untuk
kedua kalinya–bahkan ia tidak diberi kesempatan menjalani psikotes kembali, ia
menjadi mengerti bahwa jawaban- jawaban yang ia tuliskan dalam psikotes yang
menjadi sebab semua penolakan itu.
Kesempatan untuk Semua Orang
“Gimana Tar, yang di bimbel tea, keterima ga?” tanya Eni penasaran.
Mata sipitnya memandangi Tari lekat.
“Engga En…” Tari menggeleng lemah.
“Orang sakit ga bisa ngajar di sana…” lanjut Tari. Sedikit tak ber- semangat.
“Maksudnya?” Eni mengerutkan dahi.
Tanda tak mengerti ucapan Tari.
“Kayaknya penyakit aku yang jadi
biang keladi… Pas psikotes pertama, ada format riwayat penyakit. Aku gak punya
pilihan lain selain ngisi format itu apa adanya. Aku tuliskan kalau aku sakit jantung.
Setelah psikotes, ga ada kabar apa-apa lagi. Artinya, aku ga keterima kan?”
Tari berhenti sejenak. Ia mengambil napas dalam. Ada segumpal kekesalan di
hatinya. “Eh kemaren pas ngelamar yang ke dua kali, psikotesnya tiba-tiba dibatalin
ma
bimbelnya sendiri. Ga tahu kenapa. Kayaknya sih, gara-gara data psikotes yang
pertama.” Tari memajukan bibirnya. Manyun. Ia melemparkan pandangan. Lurus ke
depan.
“Loh? Kok gitu sih? Orang itu kan gak
akan sakit selamanya?” nada suara Eni meninggi.
Tari lalu memandang wajah Eni sambil
tersenyum. Hambar. “Entahlah, kalau mereka mau guru-guru yang sehat, mereka
akan mendapatkannya.” Tari enggan terus memikirkan sebab musabab ia “ditendang”
dari Bimbel tersebut tanpa penjelasan. Ia ingin mengambil kesimpulan sederhana
saja.
Beberapa waktu kemudian, Tari
melayangkan la- maran kerja ke sebuah Sekolah Dasar Islam. Sebuah full day school.
Dari dua ratus lima puluh pelamar,
hanya akan diterima lima orang sebagai pengajar di sekolah tersebut. Dari awal,
sudah ada ujian saringan lewat pembuatan makalah dengan tema pendidikan. Hanya
pelamar yang makalahnya memenuhi syarat saja yang bisa mengikuti psikotes.
Psikotes yang diterapkan pun benar-benar menguras konsentrasi. Tesnya merupakan
gabungan dari tiga jenis psikotes yang pernah Tari dapatkan di tempat lain.
Setelah itu, baru diadakan tes
membaca al-Quran. Celakanya, tidak hanya disuruh membaca, para pelamar diminta
untuk menterjemahkan ayat-ayat yang dibaca- nya.
Tari mencoba menterjemahkan ayat-ayat
tersebut dengan pemahaman bahasa Arabnya yang sangat terbatas. Walau terjemahan
Tari berantakan, namun dengan bantuan sang penguji, akhirnya ia bisa menangkap
garis besar ayat-ayat tersebut.
Ujian selanjutnya adalah mengajar
siswa kelas enam. Semua ujian bisa
dilalui Tari dengan baik. Terakhir, ada wawancara dengan pihak yayasan.
Tari terpaksa mengatakan bahwa ia
sakit jantung. Setelah mengetahui kondisi fisiknya, pihak yayasan menunda
pernyataan diterima atau tidaknya lamaran Tari. Mereka akan berunding terlebih
dulu. Setelah dua hari, pihak sekolah memanggilnya kembali. Mereka bisa
menerima keadaan Tari apa adanya.
Tapi perjalanan hidup tak selamanya
mulus. Ternyata informasi yang diterima oleh Tari salah. Ia tidak melihat
sendiri pengumuman lowongan kerja yang dimuat di koran. Menurut temannya, posisi yang ditawarkan oleh
sekolah adalah guru mata pelajaran. Padahal pihak sekolah membutuhkan guru
kelas. Oleh karenanya, Tari harus berada di sekolah seharian. Dari jam delapan
pagi sampai jam empat sore. Hal itu membuat Tari tidak mengambil kesempatan
mengajar di sekolah tersebut.
Ia tak mau menghabiskan waktunya
hanya untuk bekerja. Tugas guru kelas sangat banyak. Guru kelas mengajar
beberapa mata pelajaran, itu artinya ia harus menyiapkan beberapa bahan ajar
setiap harinya. Belum lagi persiapan administrasinya–yang sangat tidak disukai
Tari, akan menjadi sangat banyak. Ia pun masih harus memeriksa PR serta ulangan
para siswa.
Namun Tari tidak kecewa dengan
kejadian yang menimpanya tersebut. Setidaknya ia bisa membuktikan pada dirinya
sendiri bahwa ia bisa melampaui prestasi orang-orang “normal”. Ia pun bisa
melihat kenyataan bahwa masih ada orang yang menilai manusia tidak hanya dari
sisi untung rugi materi–uang, saja.
Sekolah Aneh
“Bangunan sekolah yang aneh!” Begitu
komentar Tari ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempatnya mengajar. Tak
ada pagar dan gerbang sebagai pembatas antara "dunia sekolah" dengan
"dunia luar". Bagian samping kanan sekolah langsung bersambung dengan
trotoar yang dijadikan bengkel dan lapak pedagang kaki lima. Bagian samping
kiri berbatasan dengan mushola yang diperuntukkan untuk masyarakat umum. Sedang
bagian depan dan belakangnya berbatasan dengan gang−yang juga milik umum.
Bangunan sekolah tersebut terdiri
dari dua lantai. Ada tiga ruangan di lantai pertama. Dua ruangan di lantai
dasar disewakan kepada sekolah farmasi. Satu ruangan lagi dipakai oleh yang
empunya gedung sebagai kantor SMP. Sedang seluruh ruangan di lantai atas
dijadikan ruang kelas untuk siswa SMP.
Ruangan yang disewa oleh sekolah
farmasi disulap menjadi beberapa
ruangan. Satu ruangan
disekat-sekat menjadi ruang kepala sekolah, ruang guru serta TU.
Sementara ruangan yang satu lagi dijadikan ruangan multi fungsi tanpa sekat.
Ruangan itu menjadi kelas sekaligus laboratorium serta garasi sepeda.
Tari mulai mengajar di sekolah
farmasi pada pertengahan semester pertama. Sekolah tersebut baru dibuka
beberapa bulan yang lalu. Ia dimintai tolong oleh seorang temannya untuk
menggantikan guru kimia yang mengundurkan diri. Banyak guru yang hengkang dari
sana.
Mungkin honor yang tidak layak yang
me- nyebabkan para guru memilih angkat kaki dari sekolah. Keuangan sekolah
sangatlah minim.
Selain itu, kurikulum pun masih
acak-acakan. Hal ini membingungkan para guru dalam mengelola pelajaran yang
harus disampaikan kepada siswa.
Kondisi sekolah tempat Tari mengajar
sudah sangat buruk. Tari tak bisa membayangkan kondisi sekolah yang lebih buruk
lagi. Tapi ternyata, sekolah farmasi tersebut masih jauh lebih baik daripada
sekolah tetangganya. Di SMP tetangga, hampir tidak pernah terlihat ada guru
yang datang. Siswanya masuk jam delapan pagi, istirahat jam sembilan–sampai jam
sepuluh, lalu pulang jam setengah dua belas. Kondisi SMP tersebut bukan lagi
buruk, tapi mengerikan.
Kimia merupakan pelajaran yang cukup
kompleks. Untuk memahaminya diperlukan kemampuan meng- gunakan logika, hafalan,
dan pemahaman. Sehingga tidak banyak siswa yang dapat mengerti dengan sekali
pen- jelasan saja. Biasanya, siswa yang tidak paham enggan datang ke meja guru
untuk meminta penjelasan kembali. Untuk mengatasinya, Tari harus berkeliling
setelah menerangkan kematerian di depan kelas.
Seharusnya mengajar delapan siswa
meringankan tugasnya sebagai guru. Tari tak harus berkeliling ke banyak bangku.
Cukup mengelompokkan mereka masing- masing empat orang dan menerangkan kembali
secara berkelompok. Biasanya mereka sudah memisahkan diri sebagai kelompok
"Adam" dan "Hawa".
Namun, keadaan sekolah dan para
siswanya berbeda dengan sekolah pada umumnya. Siswa yang masuk tidak melalui
proses saringan yang ketat. Hasilnya, hampir semua siswa tidak mempunyai dasar
pemahaman kematerian yang bagus.
Hal ini membuat Tari harus mengulas
beberapa hal yang bukan tugasnya sebagai guru kimia. Terutama mengenai cara
perhitungan matematika. Bahkan yang sangat sederhana sekalipun. Seperti
penjumlahan desimal dan pecahan. Selain itu, hampir semua siswa memiliki
semangat belajar yang rendah. Mungkin rendahnya motivasi belajar para siswa
berhubungan juga dengan kondisi sekolah yang menghawatirkan.
Fasilitas yang tersedia di sekolah
sangat terbatas. Bahan dan alat-alat untuk praktikum jauh dari kata layak.
Padahal praktikum merupakan “nyawa” bagi sekolah farmasi. Belum lagi kondisi
gurunya yang bergantian tidak datang mengajar. Bahkan kadangkala satu hari
penuh tidak ada guru yang hadir.
Ketika pertama kali datang, Tari
bingung bagaimana caranya menyampaikan kematerian. Lebih dari satu semester Tari
mencoba beradaptasi dengan kondisi sekolah dan para siswa. Saat-saat yang
sulit. Setiap kali diadakan ulangan, hanya satu dua siswa yang bisa mencapai
nilai di atas enam.
Alhasil, Tari sering menyampaikan
keluhan di rapat guru mengenai kondisi kelas tersebut. Tari mengharapkan masukan dari guru-guru lain yang
lebih dulu mengajar di sana. Tari takut tidak sukses membuat para siswa
memahami kematerian yang ia sampaikan. Tapi ternyata, semua guru mengeluhkan
hal yang persis sama dengannya.
Mengetahui hal tersebut Tari menjadi
sedikit lega. Bukan karena banyak teman yang senasib dengannya. Tapi lebih
karena ia merasa ketidakpahaman murid- muridnya bukan salahnya sepenuhnya.
Artinya, kondisi siswa tidak prima ketika menerima pelajaran. Oleh karena itu,
setelah para siswa naik ke kelas sebelas, Tari mulai menerapkan pola mengajar
yang menuntut kerja keras.
Sebelum pelajaran dimulai, Tari
sering meng- adakan quiz untuk
mengevaluasi pelajaran yang telah ia sampaikan sebelumnya. Selama pelajaran
berlangsung, Tari banyak melontarkan pertanyaan. Belum lagi “oleh- oleh” tugas
yang harus dikerjakan di rumah. Semua itu memaksa murid-murinya untuk terus
belajar. Minimal membuka buku. Tapi disamping itu, Tari selalu memberi semangat
kepada mereka.
Semester sebelumnya, Tari tak berani
memberi tekanan yang tinggi terhadap para siswa. Ia tak begitu paham kondisi
siswa SMK. Tari takut, beban yang ia berikan terlalu berat karena siswa SMK
farmasi mendapat lima pelajaran tambahan selain pelajaran umum di SMA. Ada ilmu
resep, farmakologi, farmakognosi, Undang- undang Kesehatan, dan Ilmu Kesehatan
Masyarakat.
Ternyata, kerja keras para siswa
setimpal dengan hasil yang diperoleh. Nilai rapot sebagian besar siswa yang
diajar oleh Tari di atas enam tanpa remedial. Padahal sebelumnya hampir seluruh
siswa harus mengikuti remedial untuk memperbaiki nilai rapot. Tari bangga
dengan hasil yang
mereka peroleh. Ternyata
mereka memiliki potensi untuk bisa maju. Hanya saja mereka baru dapat
melejit ketika diberi tekanan.
Di tahun kedua, sekolah belum
mengalami banyak perubahan. Kehadiran guru-guru masih jadi masalah yang cukup
pelik. Masih saja ada guru yang sering bolos mengajar. Guru yang rajin datang
hanya beberapa orang saja. Sekolah belum bisa memberi tindakan yang tegas kepada
guru-guru yang sering bolos mengajar. Hal ini masih berkaitan dengan masalah
keuangan sekolah. Honor yang diberikan kepada para guru masih belum mencapai
kata layak.
Sepenggal Kebohongan
“Oke, yang tidak mendapat kertas
ulangan, ikut ibu ke bawah!” Tari
menutup pelajaran dengan membagi- kan hasil ulangan pelajaran yang lalu.
Ada beberapa anak yang tidak menerima
hasil ulangan. Kini mereka berduyun-duyun turun dari lantai dua. Mengikuti Tari.
“Ada apa Bu?” tanya bu Wati−salah
seorang crew TU, yang sedang duduk di
meja piket. Ia keheranan melihat para siswa berbondong-bondong masuk ke ruang
tamu.
“Biasa… pada nyontek!” jawab Tari
setengah berbisik. Mendengar hal tersebut, bu Wati hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepala.
Tari menggiring mereka ke ruang
kepala sekolah. Kepala sekolah jarang berada di tempat, jadi ruangannya selalu
kosong. Lagipula sekolah tak punya ruangan lain yang kosong.
Ruang yang sempit itu kini penuh
sesak. Beberapa siswa duduk
di sofa, yang lainnya hanya bisa berdiri. Se- dang Tari duduk di kursi
kepala sekolah yang berada di hadapan sofa.
Tanpa banyak kata, Tari membagikan
kertas ulangan yang sudah disatukan dengan klip dua-dua. Ada empat kertas
dengan klip. Berarti ada delapan kertas ulangan. Tari menyatukan kertas-kertas
tersebut berdasarkan jawaban yang mempunyai alur berpikir yang persis sama.
Setelah semua anak melihat hasil pekerjaan mereka. Tari pun angkat bicara.
“Kalian tahu, kenapa saya kumpulkan
di sini?”
“Ga tahu Bu!” ujar beberapa anak.
Koor. Sebagian lagi menggeleng ragu-ragu setelah saling lirik satu sama lain.
Tari memandangi mereka satu per satu. Pandangan- nya berhenti pada dua anak
perempuan. Riri dan Atik.
“Atik dan Riri, kenapa jawaban kalian
sama?”
“Ga tahu Bu! Da saya mah ngerjain
sendiri!” Tak diduga Atik bersuara lantang membela diri.
Tari kaget dibuatnya. Apakah ia tidak
pernah diajarkan bagaimana cara berbicara dengan orang yang lebih tua?
Setidaknya ia memperkecil volum suaranya.
Demi mendengar perkataan teman
sebangkunya, Riri langsung membundarkan matanya dan memandangi wajah Atik.
“Ari
kamu, kamu kan yang lihat ke saya!” tampak segunung kekesalan di wajah Riri.
“Enggak Bu, saya nggak nyontek…”
wajah Riri memelas. Air mulai menggenangi kelopak matanya.
Tari memandangi mereka berdua tanpa
ekspresi.
Salah
satu dari dua anak ini berbohong.
Gumam Tari dalam hati.
Ia tak hendak menjatuhkan vonis
bersalah kepada salah satu dari keduanya. Tari tak tahu siapa yang mencontek,
siapa yang memberi contekan.
Ketika mengalami hal yang serupa,
Tari pernah salah menentukan mana anak yang mencontek. Jadi Tari takut
mengulangi kesalahan yang sama.
Tari pun tahu rasanya diperlakukan
dengan tidak adil. Seorang dosen pernah memotong nilai ujiannya begitu saja.
Tari dituduh mencontek. Hal itu sangat menyakitkan.
“Jadi, siapa yang mencontek?” tanya
Tari dengan tenang.
“Atik, kamu kan yang nyontek sama
saya?“ Riri terlihat sangat kesal. Ia berusaha mengemas tangis. Sejenak hening
menyergap.
“Iya Bu. Saya yang nyontek…” ujar
Atik memecah sunyi. Ia menunduk dalam. Tari hanya mengangkat alis sebagai
reaksi terhadap pengakuan Atik.
Berulang kali Tari mengingatkan
murid-muridnya untuk tidak mencontek. Tidak hanya mengingatkan, ia terus
memotivasi mereka agar bisa percaya diri ketika mengerjakan ulangan−itu artinya
mereka harus belajar dengan lebih giat lagi. Dan Tari yakin, guru yang lain pun
melakukan hal yang sama. Tapi rasanya perkataan mereka tidak pernah digubris.
Bahkan pengawasan yang mereka lakukan
ketika ulangan sangat ketat. Para guru selalu berkeliling kelas selama ulangan.
Tapi selalu saja kecolongan. Bagaimana bila pengawasan tidak ketat? Mungkin
hampir seisi kelas akan ia jemur di
lapangan upacara!
“Riki kenapa jawabanmu sama dengan
Ari?” Tari beralih kepada siswa yang lain.
“Ga tahu Bu, saya kerja sendiri.”
Jawab Riki tanpa terbersit rasa bersalah di wajahnya.
Tari pun tersenyum mendengar jawaban
tersebut. Senyum yang menakutkan. Tari menatap mereka tajam.
“Kalau tidak kerja sama, mana bisa
jawaban kalian sama persis. Bahkan letak kesalahannya pun sama?” Tari menghela
napas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kalian jangan bohong sama ibu. Sudah
ketahuan kok, kalian saling contek!” Tari terdiam sejenak. “Ya sudahlah. Saya
tidak ingin melihat ada yang mencontek lagi. Kalian harus ulangan lagi.
Semuanya! Kalau masih ada yang men- contek juga, saya kasih nol! Sekarang
kalian masuk kelas lagi!” Setelah berpamitan, mereka keluar dari ruang kepala
sekolah satu per satu. Muka mereka kuyu.
Sejenak Tari termenung. Apakah
mencontek sudah menjadi gaya hidup? Di setiap jenjang pendidikan yang
dilaluinya, selalu ia temui praktek semacam ini.
Bahkan Tari pun pernah melakukannya
sewaktu duduk di bangku kelas tiga SMP. Setiap ulangan pelajaran X–mata
pelajaran yang sangat tidak disukai Tari, ia dan teman sebangkunya, Eli, selalu
berunding. Eli anak yang pintar. Mereka sama-sama tidak belajar sebelum
ulangan. Alhasil, nilai mereka selalu bertahan di angka enam. Tak pernah lebih.
Hampir semua murid melakukan praktek pencontekan dalam pelajaran itu. Namun,
sang guru seolah tak peduli dengan kelakuan murid-muridnya. Ia hanya duduk diam
di kursinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan
mencontek pun banyak diterapkan. Plagiat terhadap karya seni yang sering
terjadi.
Apakah contek-mencontek sudah setua
umur manusia? Sehingga begitu sulit diberantas?
Efek Jera
Di sela-sela waktu mengajar, Tari
menyempatkan diri menengok keadaan kelas sepuluh, tiga orang siswa tidak tampak
di bangkunya. Ternyata kelas mereka kosong selama beberapa jam. Tidak ada guru
yang mengajar.
“Mana yang lain?” tanya Tari sambil
memandang berkeliling.
Jumlah siswa kelas sepuluh hanya
sembilan orang, hilang satu saja akan segera ketahuan.
Mulanya mereka terdiam dan hanya
saling me- mandang. Setelah beberapa saat, seorang anak membuka mulut. Katanya
ketiga temannya sedang ke asrama putra.
Asrama yang dimaksud adalah sebuah
rumah kecil yang disewa oleh sekolah untuk dijadikan tempat tinggal beberapa
orang siswa. Asrama putra dan putri terletak di rumah yang berbeda. Asrama
putra hanya terhalang beberapa rumah dari sekolah. Sedang asrama putri letaknya cukup
jauh. Tak semua siswa tinggal di asrama. Yang tinggal
di sana hanya anak-anak yang berasal dari luar Bandung atau yang letak rumahnya
jauh dari sekolah.
”Hmm… panggil mereka ke sini! Bilang,
bu Tari marah gitu!” Setelah beberapa menit, tiga siswa datang tergesa menemui
Tari di ruang guru.
“Duduk!” wajah Tari dingin tanpa
ekspresi. Sudah menjadi kesenangannya mengobrak-abrik mental para siswa yang
kelakuannya nyeleneh. Dua siswa hanya
tertunduk setelah mengambil posisi duduk. Sementara siswa yang satunya lagi
menunjukkan ekspresi tak bersalah. Dia berani memandang Tari dengan sangat
tenang. Tari mengamati penampilan si kalem. Mulai dari celana panjangnya,
bajunya, sampai potongan rambut- nya. Anak
ini preman. Pikir Tari.
“Dari mana kalian?” tanya Tari dengan
suara datar. Ditatapnya wajah mereka satu per satu.
“Asrama Bu.” Mereka menjawab hampir
ber- barengan.
“Habis ngapain di sana?”
“Makan mie Bu. Lapar.” Si anak asrama
mewakili temannya memberikan jawaban. Wajahnya tegang.
“Makan mie?” dahi Tari berkerut.
Ternyata benar kata para crew TU,
walaupun kecerdasan siswa kelas sepuluh lebih bagus dari kakak kelasnya, namun
kedisiplinan mereka lebih rendah. Siswa kelas sebelas tidak akan berani
meninggalkan sekolah tanpa izin terlebih dahulu kepada TU. Padahal mereka bisa
pergi begitu saja karena banyak jalan keluar dari lingkungan sekolah.
Sebelum menanggapi kelakuan mereka
lebih lanjut, Tari menarik napas dalam-dalam. Harus ada hukuman yang memberikan
efek jera atas pelanggaran yang mereka lakukan.
“Dengar! Kalian adalah siswa di
sekolah ini. Selama jam sekolah, kalian menjadi tanggung jawab sekolah. Mana
bisa kalian pergi tanpa minta izin dulu?” irama suara Tari lambat namun tegas.
Ada penekanan pada beberapa suku kata. Tak ada nada tinggi dalam kalimatnya.
“Kalau kalian tidak minta izin, kami
tidak tahu kalian ada di mana, sedang apa. Kalau ada apa-apa, bagaimana?” Tari
terdiam sejenak. Dipandanginya lagi wajah mereka satu-satu. Dua anak semakin
tegang. Si kalem tampak sedang berpikir.
“Dengan kejadian ini, kalian sadar
telah melakukan kesalahan?” Tari menatap si kalem. Si kalem akhirnya menunduk
juga.
“Iya Bu.” mereka menjawab pelan.
Koor.
“Syukurlah kalau begitu. Tapi setiap
kesalahan harus ada hukumannya. Sekarang, pilih hukuman kalian!” Tari hanya pura-pura
berbaik hati menyuruh mereka untuk memilih hukuman. Sejenak ketiga murid Tari
saling pandang. Lalu mereka berunding dengan suara pelan.
“Scot
jam saja Bu!” si anak asrama mengusulkan satu macam hukuman.
“Enak saja! Ga mau ah! Push up saja! Kalian kuat berapa seri?”
Tari menggoda mereka sekali lagi. Lagi-lagi mereka saling pandang.
“Satu seri aja Bu.” Si wajah kalem
yang angkat bicara.
“Satu seri? Enggak! Dua seri!” bantah
Tari sengit.
“Atuh
Bu…” si kacamata keberatan dengan hukuman yang diajukan.
“Kalau kalian membantah, hukumannya
akan semakin bertambah. Dua setengah seri!” Tari tersenyum. Sinis. Kemenangan
negosiasi ada di tangannya. Dan akan selalu
berada di tangannya.
Kini ketiganya hanya
bisa
menatap Tari dengan
pandangan memelas. Tampaknya mereka ingin mengajukan protes lagi, tapi tak
berani.
“Ya, kalian push up-nya di ruang kepala sekolah saja!” Tari menggiring ketiga
muridnya masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar.
“Ayo turun! Ambil posisi! Push up dua puluh lima kali!” Tari
memberi aba-aba. Dengan muka kuyu tidak bersemangat, satu per satu mereka turun
mengambil posisi push up. Sementara
Tari berdiri berpangku tangan di samping mereka. Senyum masih terkembang di
bibirnya. Senyum yang menakutkan. Begitu komentar Trio Wek Wek–tiga murid
privat yang diajar oleh Tari bersamaan dalam satu kelompok belajar.
“Ibu yang menghitung, kalau kalian
tidak kompak, hitungan tidak akan bertambah. Hitungan akan tetap sampai kalian
kembali kompak!” Sudah saatnya ada yang memberi pelajaran kepada mereka. Selama
ini tak ada yang benar-benar tegas kepada para siswa.
“Oke! Satu!” Tari memulai
hitungannya.
Dua anak sudah turun, sedang yang
satu lagi belum.
“Satu!” Tari mengulang hitungan
sesuai dengan perjanjian. Akhirnya dengan susah payah mereka sampai juga ke
hitungan dua puluh lima. Tentunya dengan beberapa kali pengulangan.
Masih dengan tangan bersilang di
depan dada, Tari menyuruh ketiga muridnya berdiri.
“Ya sudah, kalian masuk kelas lagi!”
mimik wajah Tari dingin.
“Makasih Bu…” satu per satu mereka meninggal-
kan ruang kepala sekolah. Raut kelelahan tergambar jelas di wajah mereka.
Ketiga murid Tari bergegas kembali ke
kelasnya.
Setelah ketiga muridnya menghilang
dari pandangan, Tari pun keluar meninggalkan ruangan kepala sekolah. Ia harus
mengajar kembali.
Dalam perjalanan menuju kelas, Tari
bertemu dengan pak Edi. Sang wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
“Pak, maaf, tadi anak-anak kelas dua
saya suruh push up.” Tari meminta
maaf karena ia merasa melakukan tindakan di luar wewenangnya. Tari bukan
petugas piket. Bahkan ia tidak mengajar di kelas sepuluh.
“Loh, kenapa Bu?” pak Edi mengerutkan
dahi.
“Itu, pada kabur ke asrama.”
“Oh… ga apa-apa Bu. Malah bagus!” pak
Edi mengakhiri komentarnya dengan tersenyum.
Pembagian tugas di sekolah ini serba
tak jelas. Jadi terkadang ada tumpang tindih tugas di antara para penghuni
sekolah.
“Kalau gitu, saya lega. Ya udah, saya
ngajar dulu ya Pak!”
“Oh, mangga, mangga.” Pak Edi
mempersilahkan Tari melanjutkan perjalanannya.
Dalam hati Tari berharap tak ada lagi
pelanggaran serupa yang dilakukan oleh murid-muridnya.
Aryo
Met
milad yang ke-25. Wah, milad perak ya! Tari tersenyum.
Temannya yang satu ini adalah teman yang paling baik se-dunia. Mereka berada
satu kelas di SMP. Mendapat pesan singkat darinya mengingatkan Tari saat- saat
bersekolah dulu.
Keluarga Tari pindah rumah lagi
ketika Tari duduk di bangku SMP kelas satu. Semester akhir. Namun Tari tetap
bersekolah di tempat yang sama. Jarak rumah yang baru ke sekolah cukup jauh.
Bila ditempuh dengan mobil, butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di
sekolah. Namun Beda lagi bila ditempuh dengan sepeda, Tari tak tahu berapa
waktu yang dibutuhkan.
Kebetulan rumah Tari yang baru
berdekatan dengan rumah Aryo. Ia tinggal bersama dengan bibinya. Aryo bersepeda
ke sekolah setiap hari. Ketika Tari tinggal di rumah yang dulu, Tari juga
bersepeda ke sekolah. Bersama dua orang
temannya, menyusuri jalan
tikus untuk memperpendek jarak tempuh dan menghindari jalan raya.
Tari tertawa kecil. Terbayang ketika ia
bersepeda ke sekolah. Ia memakai celana panjang di balik rok–yang juga panjang.
Tasnya hanyalah tas selempang. Bukan tas punggung. Sehingga Tari harus
“menjinjing” tas di stang sepeda. Tampak merepotkan sekali.
Di rumah bibi Aryo tumbuh pohon
jambu. Setiap berbuah, Tari selalu kebagian jatah untuk mencicipi jambu-jambu
yang manis itu. Kadang Aryo membawanya ke sekolah, kadang juga mengantarkannya
ke rumah Tari.
Ketika Tari duduk di bangku SMA, Aryo
bersekolah di STM. Sekolah Aryo berdekatan dengan sekolahnya. Kadang mereka
mengadakan janji untuk pergi sekolah bersama-sama. Karena letak sekolah mereka
jauh, Aryo tidak lagi bersepeda. Mereka bertemu di terminal. Hal yang lebih
lucu lagi, sepanjang perjalanan mereka akan asyik mengobrol. Ada saja bahan
pembicaraan yang mereka obrolkan.
Tari tak merasa canggung pergi
bersama Aryo karena Tari sudah terbiasa berteman dengan laki-laki.
Kadang-kadang Tari lebih suka mengobrol dengan mereka daripada dengan teman
perempuannya. Dengan kaum Adam, Tari tak harus mengobrol tentang fashion, lagu- lagu yang sedang hits,
film-film yang sedang diputar di bioskop, atau gosip selebritis. Tari memang
sedikit ketinggalan zaman dibandingkan dengan remaja putri seusianya.
Di kala sebagian temannya mengisi
waktu luang mereka dengan shopping,
Tari lebih suka menghabiskan waktu dengan tinggal di rumah. Ia lebih suka menonton televisi atau membaca majalah dan
buku. Atau kadang ia hanya mengobrol dengan teman-temannya.
Oke,
makasih. Tari
mengirim pesan balasan untuk Aryo.
Untung wajah mereka tidak mirip.
Kalau saja iya, mungkin mereka akan disangka kakak beradik. Selain kepada Tari,
Aryo juga rajin mengirim pesan singkat sebagai ucapan selamat ulang tahun
kepada teman-teman yang lain.
Kebetulan Aryo pun kuliah di UPI. Dia
mengambil jurusan tekhnik. Tapi mereka tak pernah berangkat bersama lagi. Aryo
memilih tinggal di kamar kosnya, di Gerlong.
Belakangan Aryo bergabung dengan
sebuah organisasi da’wah. Tari sempat segan. Takut ia berubah. Menjadi jaim.
Jaga Imej. Tapi ternyata ia tetap Aryo, temannya yang dulu. Yang berubah
hanyalah ia tak pernah lagi berkunjung ke rumah Tari.
Terjebak dalam Situasi Sulit
Di tahun ketiga mengajar di sekolah
farmasi, Tari ditawari untuk masuk ke dalam manajemen sekolah. Asalnya hanya
sebagai pegawai Tata Usaha, namun karena kepala TU tiba-tiba harus bed rest karena kehamilannya yang beresiko, Tari terpaksa harus meng- gantikan
posisi kepala TU.
Tari mulai terlibat dalam manajemen
sekolah pada saat penerimaan siswa baru. Saat itu sekolah sedang
gencar-gencarnya melakukan promosi.
Selama masa penerimaan siswa baru,
hampir setiap hari pihak yayasan, kepala sekolah, dan crew TU bekerja lembur. Tidak jarang mereka pulang lebih dari waktu
maghrib. Terlebih ketika masa penerimaan siswa akan berakhir. Mereka bisa
pulang dari sekolah jam delapan atau sembilan malam.
Ternyata kerja keras mereka terbayar
oleh imbalan yang setimpal. Siswa yang masuk ke sekolah tersebut lebih dari
lima puluh orang.
Pihak sekolah menaruh harapan besar dengan banyaknya siswa yang masuk tahun
ini: persoalan keuangan sekolah bisa terselesaikan.
Tapi harapan mereka tinggal
angan-angan. Ter- nyata siswa yang mendaftar hampir semuanya berasal dari
golongan ekonomi lemah. Setiap bulannya selalu saja ada yang menunggak SPP.
Bahkan jumlahnya cukup banyak. Tak sedikit juga yang menunggak SPP selama
beberapa bulan. Lebih parahnya lagi, Dana Sumbangan Pendidikan dan uang
praktikum yang harusnya diangsur setiap bulan ikut macet juga.
Alhasil, kondisi keuangan sekolah
tetap saja buruk. Hal ini berdampak langsung terhadap pembiayaan operasional
sekolah. Pengadaan alat dan bahan-bahan praktikum tidak bisa dilaksanakan
sesuai dengan rencana. Honor para guru dan staf pun tak jarang terlambat diberikan. Selain itu, honor yang
diberikan pun masih jauh dari kata memadai.
Oleh karena itu, pergantian formasi
guru masih sering terjadi. Tentunya karena masih saja ada guru yang hengkang
dari sekolah. Kekosongan pengajar di kelas pun tak bisa dihindarkan.
Untuk mencegah kaburnya para siswa,
diadakan piket guru. Selama ini tugas piket diserahkan kepada TU. Beberapa guru
diminta bantuannya untuk piket. Untungnya ada beberapa guru yang bersedia
padahal mereka tidak diberi honor tambahan.
Namun, walau sudah ada guru piket,
masih saja ada siswa yang kabur. Kondisi kelas tanpa guru selalu menjadi sebab
utama kaburnya para siswa. Selain itu, wilayah sekolah yang tidak dibatasi oleh
pagar mem- permudah siswa melakukan aksinya.
Pernah pada suatu hari, guru yang
seharusnya mengajar kelas sepuluh
belum juga datang.
Padahal, ia seharusnya sudah mengajar lima belas
menit yang lalu. Otomatis para siswa yang sejak pagi mengalami kekosongan
beberapa pelajaran pun berhamburan keluar. Sebagian sudah siap kabur. Demi
melihat kondisi seperti itu, bu Nur–salah seorang pegawai TU, dengan kesalnya
malah menyuruh mereka semua pulang. Kebetulan saat itu adalah jam terakhir.
Tak berapa lama kemudian, sang guru
datang. Ia langsung naik ke lantai dua. Namun, ia segera turun kembali dan
menuju ruang TU. Raut kebingungan tergambar jelas di wajahnya.
“Anak-anak pada ke mana ya Bu?” tanya
sang guru kepada staf TU.
“Sudah saya suruh pulang!” bu Nur
menjawab dengan datar tanpa rasa bersalah. Sang guru tak bisa berkata apa-apa.
Ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bukan hanya kondisi keuangan yang
krisis, manajemen sekolah pun mengalami hal yang sama. Manajemen terkena dampak
dari krisis keuangan juga. Tari sangat paham kondisi keuangan karena ia yang
mengurusi kas sekolah.
Pada banyak kondisi, staf TU menerima
tugas yang jauh lebih banyak dari yang seharusnya. Bahkan sering kali harus
mengerjakan tugas para “pejabat” di atasnya. Wakil kepala sekolah hanyalah nama
yang dipajang untuk memenuhi struktur organisasi sekolah.
Bahkan di akhir-akhir tahun ketiga,
pegawai TU kadang bekerja sendirian di sekolah. Bu Nur, pak Rudi, Tari, dan bu
Wati seolah-olah menjadi pemilik bersama sekolah tersebut. Staf TU menjadi ikut
sibuk mengurusi manajemen sekolah. Menerima tamu-tamu dari Dinas Pendidikan,
menerima orang tua siswa, menghadapi siswa yang membolos, bahkan Tari juga sempat memberikan
pelajaran tambahan bahasa Inggris kepada kelas dua belas. Mereka akan
menghadapi UN, tapi tak ada seorang guru pun yang bisa memberikan pelajaran
tambahan bahasa Inggris. Akhirnya dengan modal nekat, Tari mengambil tanggung
jawab itu.
The Power
of Computer
“Arrgg …!!!” Tari menggeram kesal. Ia
tak sempat menyimpan data yang ia tik ketika komputer yang dipakainya tiba-tiba
mati. Padahal Tari sedang diburu waktu. Pekerjaan pun sedang menumpuk.
“Kenapa Bu Tari?” bu Wati menghampiri
Tari. Dilihatnya komputer yang baru saja me-restart.
“Mati ya!” bu Wati tersenyum. Ia pun
kadang mengalami hal serupa. Semua staf TU pernah mengalami hal yang sama.
“Komputernya sudah saatnya dilem
biru! Dilempar beli yang baru!” dengus Tari kesal. Bu wati hanya tertawa kecil.
Komputer-komputer di sekolah memang sudah “jadul”. Sudah tua. Sehingga sudah
mengalami beberapa kerusakan. Sering tiba-tiba me-restart sendiri. Printer yang ada pun tidak kalah “antiknya”.
Sama-sama sering tidak berfungsi.
Hal lain yang sering membuat naik
darah adalah daya listrik di
gedung sekolah sangat kecil, hanya
900 Watt. Sedangkan pemakaiannya harus berbagi dengan bengkel di samping
sekolah. Sehingga listrik sering mati karena kelebihan daya pakai.
“Makanya ntar mah di-save terus Bu!”
saran bu Wati. Tari hanya memajukan bibir sebagai komentar atas saran
rekan kerjanya itu.
“Ah Bu Tari, jangan marah-marah terus
atuh! Ingat, the power of computer!” bu Ana yang sedari tadi sibuk dengan
pekerjaannya menyela pembicaraan mereka. Ternyata ia diam-diam mendengarkan
perbincangan Tari dengan bu Wati. Bu Ana lalu menghampiri mereka berdua. Ia
mengelus-elus komputer yang sedang dipakai Tari.
“Oh iya ya!” Tari segera tersadar.
Hatinya tiba-tiba menjadi luluh. Semua kekesalan menguap begitu saja.
“The
power of computer!” Tari tertawa kecil sambil ikut mengelus komputer yang
telah membuatnya kesal. Di kalangan crew TU sedang mewabah bacaan the Power of Water. Di mana air bisa
menyimpan energi yang manusia kirimkan kepadanya. Air yang sama akan
menunjukkan reaksi yang berbeda ketika diberikan sugesti yang berbeda pula.
Air yang diberikan sugesti positif,
sugesti yang membahagiakan, molekul-molekulnya akan membentuk kristal yang jauh
lebih baik daripada air yang diberikan sugesti negatif.
Crew TU mengaitkan hal yang sama dengan
komputer-komputer di sekolah. Pasalnya, bila mereka sedang terburu-buru dan
merasa kesal, komputer seringkali berulah.
Akhirnya semua staf TU tertawa
bersama-sama.
Diputuskan
Suatu hari bu Wati tergesa menemui
Tari di ruang TU. Ia tampak tegang.
“Bu Tari, ada orang dari PLN. Katanya
listrik mau dicabut!” ada kekhawatiran tergambar di wajah bu Wati ketika
menyampaikan berita tersebut.
“Apa?” Tari tak kalah tegang dengan
si pembawa kabar. Dengan segera Tari keluar menemui petugas PLN yang dimaksud.
Ternyata sang petugas telah berada di lantai atas. Tempat meteran listrik
berada. Setengah berlari Tari menyusulnya ke atas.
“Pak? Ada apa ya?” di sela napas
tersengal Tari memaksakan diri tersenyum. Tari pura-pura tidak tahu menahu
permasalahan yang sedang terjadi.
“Ini Bu, listriknya mau diputuskan.
Sudah ter- lambat bayar...” sang petugas yang tampak letih itu menerangkan
duduk perkaranya.
Telat
bayar? Tanya Tari
dalam hati. Tari tak tahu urusan
bayar-membayar listrik karena
sudah ada orang
yang
menanganinya. Pak Edi. Tari hanya tinggal memberi uang saja. Walau keuangan
sangat terbatas, pembayaran sewa gedung sekolah dan asrama serta tagihan listrik
selalu diprioritaskan. Terlebih sekarang ada empat ruangan yang disewa oleh
sekolah. Sekolah juga menyewa dua ruangan di lantai atas.
Pekerjaan Tari sangat banyak,
sehingga laporan keuangan pun seringkali terbengkalai. Kadang Tari tidak sempat
memeriksa kembali kelancaran pembayaran tiga hal tersebut.
Kemana perginya pak Edi? Akhir-akhir
ini ia sering sekali menghilang dari sekolah. Kenapa ia sampai tidak mengurus
tagihan rekening listrik bulan kemarin? Padahal ia tak harus pergi sendiri ke
loket PLN, ia hanya membayar kepada pemilik gedung. Rumah pemilik gedung pun
tak jauh. Hanya beberapa meter dari sekolah.
“Di mana meterannya ya Bu?” sang
petugas lalu mencari-cari letak meteran listrik. Letak meteran listrik memang
tersembunyi. Di belakang ruangan kelas. Dengan terpaksa Tari menunjukkan letak
meteran tersebut.
Sambil menghela napas panjang, Tari
mengumpul- kan keberanian dan menekan emosinya.
“Maaf Pak... Apa ada keringanan untuk
kami?” Tari memasang wajah memelas. Memohon belas kasih.
Sang petugas urung mengeluarkan
peralatan dari tasnya. Ia tampak memikirkan sesuatu. Setelah beberapa saat, ia
pun bersuara.
“Boleh... Tapi besok tagihannya harus
segera dilunasi ya!” akhirnya hati sang petugas luluh.
“Baik Pak! Akan saya lunasi besok!
Terima kasih banyak Pak! Terima kasih...” Tari membungkukkan badan beberapa
kali. Layaknya para aktor di film Korea ketika mengucapkan terima kasih.
Sebelum berlalu, sang petugas
mengingatkan Tari kembali untuk melunasi tagihan listrik besok. Setelah ia
pergi, Tari bergegas ke rumah sang empunya gedung. Membayar tagihan listrik.
Akhirnya listrik di sekolah tidak
jadi diputuskan.
Setelah kejadian itu, pada suatu hari
Tari punya kesempatan untuk menunjukkan kesalahan pak Edi di depan pengurus
yayasan. Bukan karena dendam, tapi Tari hanya ingin memberikan pelajaran
padanya. Tari hanya ingin menunjukkan bahwa tindakan pak Edi bisa merugikan
orang lain. Sudah saatnya pak Edi belajar untuk lebih bertanggung jawab.
Waktu itu pihak yayasan meminta
laporan kehadiran siswa dan guru secara mendadak kepada pak Edi. Tentu saja ia
kebingungan. Sudah dua minggu ia tak mendapatkan laporan itu karena jarang
berada disekolah.
Tepat seperti dugaan Tari, ia
langsung meminta laporan itu kepada staf TU. Ternyata tak ada satupun crew TU yang mengetahui keberadaan rekap
data tersebut. Pak Edi pun mencoba mencari sendiri di lemari arsip. Namun ia
tak menemukannya.
Tari membiarkan pak Edi kebingungan
selama beberapa menit. Lalu dengan santainya Tari berjalan menuju lemari arsip
dan mengambil map dalam salah satu file
holder. Laporan kehadiran itu berada di tempatnya. Hanya saja, pak Edi
terlalu tergesa-gesa mencarinya. Sehingga ia melewatkan arsip tersebut. Tari
langsung memberikan arsip tersebut pada
staf yayasan.
Untungnya pak Edi tidak dendam kepada
Tari karena kejadian tersebut.
Kuasa Penuh
Seperti biasa, Tari datang paling
awal untuk membukakan pintu kantor TU. Tari menjadi kuncen di sekolah ini. Para staf TU yang lain kadang datang jam
setengah delapan. Tari baru saja membuka lemari ketika ia mendengar ada yang
memberi salam di pintu depan.
“Waalaikum salam!” Tari tersenyum.
Tumben
pak Hasan datang sepagi ini. Biasanya ia sering terlambat ketika mengajar.
Lagipula ia tidak punya jadwal mengajar pagi. Tari berkata-kata dalam hati.
“Eh, bu Tari, saya disuruh beli
telepon!” pak Hasan segera menyampaikan maksudnya datang sepagi ini.
Sejenak Tari terdiam sambil
mengerutkan dahi. Pesawat telepon sudah beberapa hari ini tidak berfungsi.
Rusak. Staf TU kesulitan menghubungi guru-guru untuk mengkonfirmasi kehadiran
mereka. Kadang guru ter- lambat memberi tugas bila tidak hadir atau terlambat
datang. Jadi bu Wati harus rajin menelepon bila para guru sudah sedikit
terlambat berada di sekolah. Untuk menjaga agar kelas tidak kosong. Tanpa kegiatan. Para guru pun
kesulitan menghubungi sekolah.
“Berapa Pak?” tanya Tari mulai tidak
bersahabat. Ia enggan dimintai uang.
“Enam ratus Bu!” jawab pak Hasan
santai. Ia tak tahu kondisi kas sekolah saat ini. Uang yang ada di dalamnya
tidak layak untuk menjalankan sebuah sekolah.
“Enam ratus ribu? Enggak ada Pak!”
jawab Tari cepat. Nada suaranya sedikit ketus.
“Kata pak Kepsek minta di bu Tari?”
“Ga ada Pak! Lagian, saya ga peduli
siapa yang minta. Mau kepsek kek, ketua yayasan kek, menteri pendidikan kek,
bahkan presiden sekali pun! Pokoknya saya ga bisa ngasih uang segitu!” Tari
berkata dengan tegas. Gamblang tanpa tedeng aling-aling. Bila ia mem- berikan
uang sejumlah itu, sekolah hanya mempunyai sedikit sekali sisa uang di kas.
Pak Hasan tampak kebingungan. Ia
seperti ingin mengutarakan sesuatu tapi tak jadi diungkapkan. Sedang Tari tak
bergeming dengan pendiriannya. Kali ini Tari berkuasa penuh atas keuangan
sekolah. Tari tak mau lagi kebingungan karena kekurangan uang untuk biaya
operasional. Ia ingin pihak yayasan mengusahakan uang dari sumber lain. Bukan
dari kas sekolah yang sudah morat-marit.
Setelah yakin tidak akan mendapat
uang yang diminta. Pak Hasan pun berpamitan.
Beberapa waktu kemudian, pak Hasan
membawa pesawat telepon yang baru. Tari tidak tahu dari mana uang untuk
membelinya. Tari sudah mengundurkan diri dari tugasnya dalam manajemen sekolah
di akhir tahun pelajaran. Kesehatannya mulai menurun. Ia sudah tak sanggup lagi
memikul tugas yang teramat berat.
Awal dari Sebuah Cerita
Pff…
Badanku rasanya tak berbentuk.
keluh Tari sambil memukul-mukul pundaknya perlahan. Pegal menjalari setiap
persendian. Kepala pun terasa sakit. Sudah tiga hari Tari demam tinggi. Obat
dari dokter belum sanggup meredakan sakitnya.
Sekalian pergi ke dokter, Tari menanyakan
perihal wajahnya yang hampir tiga bulan ke belakang terserang banyak sekali
jerawat.
Biasanya ia tak mempunyai banyak jerawat–karena kulit wajahnya sangat kering.
Hanya satu dua saja yang kadang muncul bila Tari lalai membersihkan wajah atau
ketika menjelang haid.
Tari sudah memakai obat jerawat yang
dijual bebas. Tapi, setelah mengering, jerawat tumbuh kembali dengan suburnya.
Bak cendawan di musim hujan.
Setelah mengamati jerawat di wajah
Tari, dokter menyarankan Tari memakai susu pembersih, bukan sabun wajah.
Hari ini Tari memutuskan untuk
berisitirahat saja di rumah. Dua hari kemarin ia masih memaksakan diri pergi ke
sekolah.
Menjelang malam, badan Tari semakin
tidak nyaman. Bahkan ia selalu memuntahkan kembali makanan yang sempat masuk ke
dalam perutnya. Demi melihat keadaan Tari, bapak dan Aa langsung melarikan Tari
ke rumah sakit Ujung Berung. Tari langsung dibawa ke UGD, Unit Gawat Darurat.
“Demamnya sudah berapa hari?” Tanya
seorang dokter muda sebelum memeriksa Tari.
“Tiga hari Dok!” jawab Tari pendek.
Ia merasa tangannya pegal sekali. Seorang perawat mengikat tangan kiri Tari
pada bagian atas siku setelah ia mengambil sampel darah. Ia mengikat tangan
Tari dengan alat yang terbuat dari karet. Seperti ikat pinggang anak- anak.
Setelah itu, ia meninggalkan Tari.
Setelah sang dokter memeriksa Tari
dengan stetoskopnya, ia pun mengamati lengan Tari. Lalu sang dokter keluar dari
ruang UGD. Beberapa saat kemudian masuklah perawat tadi. Ia membuka ikatan pada
lengan Tari. Lega. Darahnya kembali mengalir dengan lancar.
Setelah itu, cukup lama Tari
dibiarkan terkapar di kasur pemeriksaan. Tari mengedarkan pandangan. Bapak dan
Aa entah berada di mana. Di tempat yang agak jauh, ia melihat ada pasien lain,
seorang pemuda. Ia ditunggui oleh seorang wanita paruh baya. Si pemuda tampak
kepayahan. Napasnya tersengal.
Tiba-tiba bapak datang. Sendiri.
“Harus dirawat, kena DB!” keluh bapak sambil mendekati tempat pembaringan Tari.
Bapak menatap Tari sayu. Tergurat kesedihan di wajahnya. Tari hanya bisa diam.
Mentafakuri wajah letih bapak.
Ini kali ketiga Tari harus dirawat.
Ini pun kali kedua Tari terserang DB. Demam berdarah. Penyakit yang disebabkan
karena ulah si nyamuk nakal.
Serangan pertama terjadi ketika Tari
masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu semua biaya ditanggung oleh tempat
bapak bekerja. Namun sekarang Tari tidak mendapat jaminan kesehatan karena
sudah lulus kuliah dan umurnya sudah 26 tahun.
“Tapi semua ruangan penuh, kita ke
al-Islam saja.” Lanjut bapak sambil menolong Tari bangun dari posisi tidur dan
membimbingnya menuruni kasur pemeriksaan. Bapak lalu memapah Tari kembali ke
mobil. Sementara Aa baru saja beres mengurus hasil lab.
Ternyata al-Islam tidak bisa menerima
pasien baru. Ketika mereka tiba di sana, sedang terjadi gangguan listrik di
UGD. Katanya ada ledakan pada salah satu alat listrik. Akhirnya atas saran
petugas jaga, Tari dibawa ke rumah sakit lain yang letaknya tidak terlalu jauh
dari al-Islam.
Tari mendapat perawatan intensif di
sana. Setiap hari sampel darahnya diambil untuk memeriksa jumlah trombosit. Itu
artinya, setiap hari jari jemari Tari ber- gantian merasakan tusukan jarum
tajam.
Perbaikan kondisi tubuh Tari sedikit
lebih lambat dari pasien lain yang sama-sama terkena DB. Baru setelah delapan
hari, jumlah trombositnya mulai menunjukkan kenaikan sehingga Tari pun
diperbolehkan pulang.
Beberapa jam semenjak kepulangan dari
rumah sakit, kondisi Tari kembali melemah. Tak ada satupun makanan yang bisa
masuk ke dalam perutnya. Semuanya akan dimuntahkan kembali. Tidak terkecuali
air.
Setelah menunggu semalaman, alih-alih
membaik, kondisi Tari semakin memburuk. Lemas menjalari tubuh Tari. Rasanya
ia sudah tak
punya tenaga lagi.
Bahkan
untuk
duduk sekalipun. Bibir, lidah, dan mulutnya melepuh. Lebih dari dua belas jam
Tari tak mendapat asupan air dan makanan.
Tari pun dilarikan kembali ke rumah
sakit tempatnya dirawat. Setiba di UGD, perawat malah menyuruh Tari dibawa ke
klinik penyakit dalam dengan alasan Tari adalah pasien rawat jalan. Ia bahkan
tak memanggil dokter jaga. Ketika bapak menyebutkan kondisi Tari yang sudah
sangat lemah, ia tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Akhirnya−dengan rasa kesal, bapak
membawa Tari menggunakan kursi roda ke klinik penyakit dalam yang letaknya agak
jauh dari UGD. Setelah menunggu lama, akhirnya Tari bisa mendapatkan
pemeriksaan dokter juga.
“Coba buka mulutnya!”
Dokter yang sudah berumur itu
menggelengkan kepalanya ketika melihat kondisi mulut Tari. Ia menghampiri meja,
lalu menuliskan sesuatu.
“Diinfus lagi ya!”
“Dok, sudah bosen diinfus terus!”
keluh Tari pada sang dokter.
“Habisnya kamu kan ga bisa makan.”
bujuk sang dokter.
Akhirnya Tari hanya bisa mengangguk
pelan sebagai tanda setuju. Setelah itu bapak menolong Tari turun dari ranjang.
Agak sulit baginya untuk naik turun ke atas ranjang. Tari sudah tak punya
tenaga lagi. Bapak memapah Tari ke atas kursi roda lalu membawanya keluar ruang
periksa. Bapak menyuruh Tari menunggu. Bapak akan mengurus administrasi rawat
inap.
Setelah cukup lama, bapak datang
bersama seorang perawat. Mereka membawa Tari ke ruang inap. Ternyata itu adalah
kamar yang ia tempati sebelumnya.
Sesampainya di kamar, Tari dibiarkan
terkapar sendirian. Tari sudah sangat kelaparan, tapi ia tak berani menyentuh
makanan karena sudah dapat dipastikan semua yang disantapnya akan dimuntahkan
kembali. Akhirnya Tari hanya diam. Menatapi langit-langit kamar.
Menjelang tengah hari, dua orang
perawat datang. Mereka menginfus Tari dan menyuntikkan dua macam obat melalui
selang infus. Obat berwarna kuning dan yang tidak berwarna. Ternyata
berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, Tari terjangkiti virus hepatitis A.
Setelah mendapat suntikan, Tari bisa
menikmati makanannya. Tak ada sedikit pun makanan yang termuntahkan. Belakangan
Tari baru tahu bahwa obat- obat suntikan itu berharga ratusan ribu satu
ampulnya. Tari mendapat suntikan beberapa kali sehari. Berapa banyak uang yang
harus dikeluarkan oleh Bapak?
Selain mahal, obat itu pun sulit
didapat. Kebetulan rumah sakit tempat Tari dirawat tidak mempunyai persediaan
obat yang banyak. Akhirnya keluarga Tari harus berkeliling mencari obat
tersebut di rumah sakit lain.
Tari disuntik selama tiga hari.
Setelah itu, ia mendapat “jamu” impor. Tari menyebutnya demikian karena semua
arahan dalam kemasan obat rasa jeruk itu menggunakan bahasa Inggris. Obat itu
berbentuk serbuk dan dikemas dalam sachet
sekali minum. Meminumnya harus diseduh,
sama seperti meminum jamu. Obat ini pun sulit didapatkan. Persediaan di rumah
sakit juga terbatas. Lagi-lagi keluarga Tari harus berkeliling mencarinya di
rumah sakit lain.
Makasih!
Para penjenguk sudah lama berpamitan.
Sekarang tinggal Tari sendiri. Sebetulnya tidak benar-benar sendiri. Ada enam
orang dalam satu ruangan kelas tiga. Perbandingan yang masih layak untuk ukuran
kamar yang cukup besar ini.
Kadang ada tambahan satu penghuni di
ujung ruangan. Di setiap ruangan tersedia kamar mandi pasien. Masing-masing dua
buah.
Sekitar jam delapan malam, datang
seorang perawat membawa cairan suntikan. Perawat yang ramah. Baru kali ini Tari
melihatnya. Setelah memohon izin menyuntikkan cairan obat ke selang infus Tari,
ia pun mulai beraksi.
“Teh, sekolah di mana?” sang perawat
mencoba mencairkan suasana. Sementara tangannya terus bekerja.
“Emh… aku udah lulus!” Tari menjawab
sambil mengulum senyum. Ia menebak, pertanyaan selanjutnya akan salah juga.
“Oh, kuliah ya? Kuliah di mana?” sang
perawat tampak sedikit kaget. Namun ia kembali bertanya.
Tuh
kan! Betul dugaanku.
Pasti sang perawat tidak melihat papan
kecil yang digantungkan di tempat tidurku ya! Di sana tertulis umurku, dua
puluh dua tahun. Dan itupun salah, umurku sudah dua puluh enam tahun! Tari
berkata-kata sambil tersenyum sendiri. Dalam hati.
“Saya sudah lulus” Tari tersenyum
lebar. Sang perawat tampak terkejut lalu tertawa kekeh
“Oh? Jadi, kerja? kerja di mana?”.
“Saya ngajar!” jawab Tari pendek.
“Ibu guru ya! Pantas baca-baca buku
terus!”
Tari melirik tempat tidurnya. Organizer dan beberapa helai kertas tergeletak begitu saja. Tari sedang menulis
sesuatu untuk diusulkan pada rapat guru yang katanya akan diadakan hari Kamis.
Ia pastinya tidak akan ikut rapat. Sekarang saja, hari Senin, Tari masih
terkapar di rumah sakit. Usul ini akan ia titipkan pada temannya yang nanti
datang ke rumah sakit.
Tari tertawa kekeh menjawab celetukan
sang perawat.
“Nah, udah selesai.” Ia menarik suntikan
dari selang infus. Tari merasakan tangannya linu pada tempat ditusukannya jarum
infus. Mungkin jarum infus sedikit tertarik. Ketika jarum suntik ditusukkan ke
selang infus pun, Tari merasakan hal yang sama. Tampaknya jarum infus sedikit
tertekan masuk ke dalam pembuluh darah.
Kondisi ini masih lebih baik daripada
ketika Tari dirawat sewaktu SMA dulu. Waktu itu cairan pekat disuntikkan lewat
kulit. Sebanyak enam belas kali dalam empat hari. Sehari empat kali suntikan.
Sepulang dari rumah sakit, Tari merasakan linu setiap kali duduk. Setelah lebih
dari satu bulan, rasa linu baru hilang.
Sang perawat dengan cekatan
membereskan baki yang berisi alat suntik. Ia pun pamit. Baru saja Tari membuka
mulut untuk mengucapkan terima kasih, sang perawat mendahuluinya.
“Makasih!” ia tertawa kecil. Sejenak
Tari tertegun. Kok malah dia yang mengucapkan kata-kata sakti itu? Lalu Tari
tersadar, jangan-jangan ia menjadi pusat pembicaraan di ruang perawat. Pasalnya
di ruangan itu hanya Tari dan keluarganya yang selalu mengucapkan terima kasih.
Kepada bapak yang membersihkan lantai, pengirim makanan, dokter, maupun
perawat. Sedang ucapan terima kasih dari mulut para pasien atau keluarga yang
lain jarang terdengar.
Tari tertawa gelak melihat kelakuan
sang perawat. Lalu ia membidik sang perawat dengan tangan kanannya. Tangan kiri
Tari tertancapi jarum infus, tak leluasa digerakkan. Akan lebih mantap bila
Tari bisa meng- gunakan dua tangan untuk membidiknya.
Kejanggalan
Selama Tari dirawat di rumah sakit,
keluarganya bergantian menjaga Tari. Sepulang kerja, Aa dan Mumu datang ke
rumah sakit. Mereka bergantian menginap. Pagi harinya mama datang menggantikan
mereka dan membawa baju bersih. Begitu setiap hari.
Selama Tari terkapar di tempat tidur,
Tari dapat merasakan kasih sayang yang tak pernah terucapkan oleh lisan mereka.
Hanya dari sorot mata, tingkah laku serta gerak tubuh mereka Tari bisa
menangkap “sinyal” kasih sayang itu.
Setelah dirawat empat hari, Tari
diperbolehkan pulang. Namun, di rumah pun Tari masih merepotkan mama. Mama
harus memasak makanan yang berbeda karena Tari
masih harus menjalani diet rendah lemak. Untuk meringankan pekerjaan
mama, Tari sering dibelikan nasi tim yang sudah jadi.
Setelah keluar dari rumah sakit, Tari
masih diberi resep jamu impor. Selama mengkonsumsi obat tersebut di rumah sakit, Tari tidak merasakan hal
yang aneh pada tubuhnya. Tapi setelah pulang ke rumah, badannya mulai bereaksi
tidak normal terhadap obat itu.
Beberapa saat setelah mengkonsumsi
obat, pinggang atas bagian belakang terasa pegal dan panas. Untuk mengatasi
gejala tersebut, Tari minum segelas air putih sebelum minum obat dan setiap
hari minum sedikitnya delapan gelas. Namun, gejala tersebut tidak juga hilang.
Selain itu, jadwal buang air besar pun menjadi sangat tidak teratur. Bahkan
sampai empat hari sekali. Padahal sebelumnya ia tak pernah mengalami sembelit.
Pernah Tari mengkonsultasikan gejala
tersebut kepada dokter. Ia hanya menjawab dengan ringan, Tari harus
memperbanyak minum. Setelah dijelaskan bahwa Tari sudah melakukan antisipasi
itu. Ia hanya tersenyum. Tari pun menyebutkan bahwa ia pernah terkena batu
ginjal dan infeksi saluran kencing.
“Ga apa-apa, obatnya diminum terus.”
saran sang dokter.
Sesuai saran dokter, Tari terus
mengkonsumsi obat tersebut. Setelah lebih dari dua puluh bungkus, dokter baru
menghentikan resep obat itu.
Namun, setelah menghabiskan jamu
begitu banyak, keanehan mulai terjadi. Jadwal ke kamar mandi untuk buang air
kecil menjadi sangat sering. Kurang dari satu jam sekali. Saat itu Tari tak
terlalu meributkan hal tersebut.
Setelah beristirahat selama seminggu
di rumah, Tari pun memulai aktifitasnya kembali. Mengajar di sekolah dan
memberikan les privat.
Kali ini Tari datang ke sekolah hanya
sebagai guru. Bukan lagi kepala TU. Selepas pengunduran dirinya, pihak
yayasan mendatangkan tiga
orang guru baru
untuk mengisi posisi-posisi kosong dalam manajemen dan seorang staf TU.
***
Hanya selang
beberapa hari setelah Tari keluar dari rumah sakit, jerawat yang tumbuh subur di wajahnya beberapa waktu yang lalu menghilang
secara ajaib dari wajah Tari.
Mungkin jerawat adalah penanda liver Tari sedang terganggu. Berarti, livernya
sudah lama sakit. Jauh sebelum Tari terkena DB.
Tambahan Pengetahuan
Tari tersenyum melihat pengumuman
yang ditempelkan olehnya
tempo hari. Pengumuman yang berwarna-warni itu terpampang di jendela laboratorium sehingga terlihat jelas
oleh orang-orang yang akan memasuki “area sekolah”.
Kemudian Tari
melangkahkan kaki melangkahkan kaki menuju tangga yang hanya berjarak sekitar
dua meter dari tempatnya berdiri. Ia meniti anak tangga satu demi satu dengan
semangat. Hari ini adalah hari pertama ia mengajar di kelas X.
Tak perlu waktu
lama bagi Tari untuk sampai di lantai dua. Sekejap mata saja ia sudah berada di
depan pintu kelas XB. Suara gaduh
terdengar dari dalam kelas. Tari mengintip keadaan kelas melalui sela pintu
yang sedikit terbuka. Kebetulan, seorang siswa yang berada di barisan paling
depan memergoki kegiatan Tari. Ia segera memperingatkan teman-temannya untuk
menghentikan kegaduhan yang mereka ciptakan.
Seorang anak
lain yang duduk di bangku yang paling dekat dengan pintu tergopoh membukakan
pintu.
“Assalamualaikum!”
Tari melangkahkan kakinya ke dalam kelas sambil mengucapkan salam.
“waalaikum
salam...” Para siswa menjawab salam dengan nada suara yang berbeda-beda. Lebih
terdengar sebagai guamaman masal.
Setelah menaruh
buku-buku bawaannya di atas meja guru, Tari segera mengambil posisi di depan
kelas. Membagi jajaran bangku-bangku menjadi dua bagian yang sama banyak.
“Bagaimana
liburan kalian? Menyenangkan?”
Tari membuka
pertemuan dengan sapaan yang terasa sangat basi olehnya sendiri. Ia tak memperkenalkan
diri layaknya guru-guru lain yang baru mengajar di suatu kelas. Tari tak merasa
harus membuka pertemuan dengan memperkenalkan dirinya kepada para siswa. Para
staf TU jauh lebih populer daripada beberapa guru. Bahkan orang tua para siswa
lebih mengenal para staf TU dibandingkan beberapa “pejabat” sekolah.
“Kurang lama
liburannya Bu!” seorang siswa men- jawab pertanyaan Tari dengan sebuah
celetukan. Beberapa siswa mengiyakan pendapat temannya. Suara riuh rendah pun
diperdengarkan.
Tari hanya tertawa
kecil menanggapi celetukan tersebut. Ia hapal betul bila semangat belajar
sebagian besar siswanya sangat rendah. Tanpa banyak basa-basi lagi, Tari
memulai pelajaran.
“Oke, kalian
bawa tugas yang ibu berikan?”
“Bawa Bu!” para
siswa menjawab koor.
“Ya, siapkan
tugasnya di atas meja!”
Sambil menunggu
para siswa menyiapkan tugas- nya, Tari melemparkan pandangan ke seluruh kelas.
Tampaknya setiap bangku sudah mempunyai set tugasnya masing-masing.
Pengumuman
Siswa kelas XA dan XB diwajibkan membawa:
![]() ![]() ![]() ![]()
Dibawa hari Selasa, 24 Juli
2007
NB: setiap bangku menyiapkan satu set perlengkapan
Bandung, 20 Juli 2007
![]()
Guru Bid. Stud. Kimia
|
“Terus,
Tambahan Pengetahuan
Ternyata mengajar di sekolah farmasi
membuat pengetahuan Tari bertambah banyak. Walau kebanyakan materi pelajaran di
sekolah farmasi berisi tentang obat dengan bahan kimia sintetis, namun di sini
Tari mulai mengenal obat herbal.
Selain dari buku-buku yang ada di
perpustakaan sekolah, sumber pengetahuannya berasal dari diskusi dengan
guru-guru yang mengajar kefarmasian.
Ternyata beberapa dari mereka justru
memper- dalam ilmu tentang obat-obatan yang didapat dari bahan alami.
Sebenarnya, jauh-jauh hari sebelum
Tari mengenal dunia pengobatan herbal, Tari sudah mengurangi peng- gunaan
obat-obatan kimia. Penyumbatan pembuluh darah dan serangan pada jantungnya
membuat Tari harus minum banyak sekali obat dalam jangka waktu yang cukup lama.
Oleh karena itu, Tari berusaha membatasi obat
kimia yang masuk
ke dalam tubuhnya.
Ia tak mau mendapat sakit yang
baru karena dampak pemakaian obat-obatan kimia itu.
Untuk sakit ringan seperti flu, Tari
sama sekali tak pernah mengkonsumsi obat. Minum air putih secukupnya dan
“membongkar muatan” di hidungnya sesering mungkin, cukup ampuh mengusir flu.
Biasanya, dalam seminggu flu sudah hilang. Begitu pula dengan pusing atau sakit
kepala. Tari hanya menambah porsi istirahat sedikit lebih banyak. Biasanya
dalam tiga hari Tari sudah bisa pulih kembali.
Namun, bila harus mengkonsumsi obat,
Tari mencoba meminum obat yang tidak memperberat kerja jantung. Biasanya Tari
mengkonsumsi obat flu anak-anak untuk mengatasi demam dan sakit kepala yang tak
tertahankan.
Bila Tari pergi ke dokter dan
mendapatkan antibiotik, Tari minta resep antibiotik setengah dosis orang
dewasa. Jantungnya selalu berdebar bila meng- konsumsi antibiotik satu dosis
penuh.
Dari informasi-informasi yang ia
peroleh, Tari mengambil satu kesimpulan: pengobatan herbal lebih bersifat
membantu tubuh untuk memperbaiki dirinya sendiri. Entah dengan meningkatkan
imunitas tubuh ataupun dengan merangsang pertumbuhan sel-sel tubuh yang baru.
Oleh karena itu, pengobatannya lebih
bersifat general. Satu obat herbal tidak hanya dapat mengobati satu penyakit.
Namun walaupun general, obat herbal
juga bekerja secara spesifik. Obat herbal bekerja pada bagian tubuh yang paling
memerlukan perbaikan. Ia pun hanya membunuhi organisme merugikan yang ada dalam
tubuh. Sedangkan organisme yang baik tidak ikut dimusnahkan.
Karena cara kerja obat yang seperti
itu, dalam kacamata pengobatan herbal, hampir semua penyakit dapat diobati.
Bahkan penyakit degeneratif–macam diabetes, dan kanker pun dapat disembuhkan.
Dan hal yang paling menarik dari obat tersebut adalah, hampir tidak ada efek
samping untuk pemakaian jangka panjang.
Cara kerja obat herbal jauh berbeda
dengan obat kimia sintetis. Obat kimia hanya dikhususkan untuk satu penyakit
saja.
Perbedaan cara kerja kedua jenis obat
tersebut sangat terlihat pada antibiotik dan obat kemoterapi. Antibiotik akan
memborbardir tidak hanya mikro- organisme yang jahat, mikroorganisme baik pun
seringkali ikut dibunuh. Cara kerja obat kemoterapi sama saja dengan
antibiotik. Seringkali, bukan hanya sel-sel kanker yang dibasmi, sel-sel sehat
di sekitar sel kanker pun bisa ikut mati.
Pemakaian obat kimia sintetis dalam
jangka panjang hampir bisa dipastikan akan menimbulkan gangguan pada organ
tubuh. Biasanya organ yang terganggu–pada beberapa kasus bahkan rusak, adalah
lambung, liver, dan ginjal.
Setelah mendapatkan banyak informasi,
Tari pun mulai mengkonsumsi obat-obatan herbal. Satu hal yang menjadi catatan
Tari dalam mengkonsumsi obat-obatan tersebut adalah, mencari pabrik yang bisa
dipercaya. Ditandai dengan terdaftar di Dinas Kesehatan dan mendapat sertifikat
halal.
Ada perubahan yang ia rasakan setelah
mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Badan Tari yang selalu terasa lemas, menjadi
sedikit lebih segar. Setelah mendapat
hasil yang positif, Tari mulai membuka kasus klep jantungnya yang
sudah lama ditutup.
Setelah Tari memutuskan untuk tidak menjalani
operasi, ia bertekad meneruskan hidup apa adanya. Ia tak pernah melihat ke
belakang untuk mengkaji ulang keputusannya. Pun, ketika teman Tari menawarkan
bantuan biaya operasi lewat yayasan yang didirikannya.
Tari berburu informasi di internet.
Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan jantungnya. Ternyata tidak ada
informasi yang sama persis dengan kasus yang ia alami. Namun, berdasarkan beberapa
informasi tentang jantung bocor dan penyumbatan pembuluh darah, Tari mencoba
mengambil sebuah kesimpulan: kemungkinan besar, sebagian jaringan otot
jantungnya mengalami infark atau
kematian. Sama seperti yang terjadi pada penderita stroke. Yang berbeda
hanyalah tempatnya. Stroke terjadi karena adanya kematian sebagian jaringan
otak.
Penderita stroke yang mendapat
penanganan tepat dapat kembali sehat. Berarti jaringan yang mati bisa tumbuh
lagi. Artinya, jantungnya pun bisa sembuh kembali. Tanpa operasi!
Berbekal keyakinan itu, Tari mulai
mencari obat- obatan herbal yang bisa merangsang pertumbuhan sel-sel tubuh yang
baru.
Beberapa obat ia jajal, namun belum
membuahkan perubahan yang berarti. Tari terus mencoba. Mencari obat mana yang
paling bagus untuk kesembuhan jantungnya.
Sampai akhirnya, datang Sari membawa
produk suplemen herbal dari sebuah MLM. Produk suplemen yang ia tawarkan bermacam-macam. Selain suplemen
yang berasal dari tumbuhan, ada juga yang bahannya di- dapatkan dari hewan.
Tari pun memilih dua produk, yang
berasal dari daun alfalfa dan ekstrak teripang.
Bagi Tari, harga obat-obatan tersebut
sangatlah mahal. Tabungannya yang tak seberapa terkuras habis. Sampai-sampai
rekening tabungan Tari pun ditutup karena ia tak sanggup lagi menabung. Namun
hasilnya setimpal.
Beberapa bulan setelah mengkonsumsi
produk tersebut, terjadi perubahan yang sangat nyata. Kelelahan yang selalu
menggelayuti tubuhnya berhasil ia singkirkan. Kondisi jantung Tari mengalami
perbaikan yang sungguh luar biasa. Napasnya terasa lebih ringan.
Tari baru merasakan kembali bagaimana
rasanya sehat yang sesungguhnya setelah−hampir setiap hari, selama delapan
tahun bergelut dengan rasa sesak dan nyeri di dada.
Namun ada efek lain dari suplemen
yang ia minum tersebut. Tari tak pernah menduga sebelumnya. Suara berderik di
lutut kanan yang sudah dialaminya bertahun- tahun, hilang sama sekali.
Selain itu, rambutnya yang rontok
habis-habisan setelah serangan hepatitis A pun mulai tumbuh dengan subur
kembali.
Sesekali jantung Tari masih mengalami
masalah. Tapi masa pemulihan dari kondisi drop sangat cepat. Hanya dalam
hitungan hari. Padahal sebelumnya, bila jantungnya drop, butuh waktu
berminggu-minggu untuk pulih. Bahkan bisa melebihi hitungan satu bulan.
Dulu, yang dimaksud dengan pulih
adalah rasa menusuk pada dada dan punggung menghilang, namun sedikit sesak
masih tersisa. Badan pun tetap tidak terasa bugar.
Suplemen yang berasal dari daun
alfalfa mempunyai struktur yang mirip dengan darah, sehingga mudah diserap
tubuh. Ekstrak teripang
yang kandungan
proteinnya
tinggi pun dikemas dalam bentuk jus sehingga lebih mudah dicerna. Keduanya
menstimulus tubuh untuk beregenerasi, membentuk jaringan-jaringan baru. Mirip
cicak yang bisa menumbuhkan kembali ekornya yang telah putus. Selain itu,
suplemen-suplemen itu bisa mendorong keluar racun-racun yang bertumpuk dalam
tubuh.
Pangeran Berkuda Putih
Malam telah larut ketika Tari selesai
mengajar Kiki. Seorang anak hebat dengan otak menuju jenius. Tari mengajarnya
bukan karena Tari lebih pintar. Tapi karena Tari lebih dulu tahu darinya.
Seperti biasa, sang mama akan
mengajak mengobrol. Tidak hanya tentang perkembangan pembelajaran Kiki dan
adiknya, Nisa. Banyak hal menjadi topik pembicaraan mereka. Seperti malam ini,
bu Mari−mama dari dua murid privat Tari, datang bersama kakaknya. Setelah
mengobrol ke sana kemari, tiba-tiba perbincangan menjadi serius.
“Bu Tari, cepet nikah atuh!
Nunggu apa lagi?” bu Mari dengan semangat memprovokasi Tari untuk segera
menikah. Tari hanya bisa tersenyum untuk menjawab pertanyaan sang provokator.
“Bu Tari teh pengen yang kayak
gimana? Emh… mau yang tinggi kali?” ini lagi, bu Ida, kakak bu Mari tak kalah
gesit dengan adiknya.
Lagi-lagi Tari hanya bisa tersenyum.
Namun, demi mendengar perkataan bu Ida, terbitlah air mata Tari.
Ibu-ibu
yang kusayang, tolong jangan salah menilaiku. aku tak menetapkan standar yang
tinggi untuk kriteria calon suami. Cukup bertanggung jawab dan sanggup
membimbingku menempuhi kehidupan ini dengan cara yang Alloh ridhoi. Tari berkata-kata dalam hati. Itu saja
mimpi dari jiwa sederhananya. Berlebihankah?
“Bu Tari, pasti ada yang suka sama bu
Tari kan?” Lanjut bu Ida lagi. Tari kebingungan menjawab pertanyaan itu.
Sejenak Tari terdiam. Akhirnya Tari mengangguk. Erdi. Seorang temannya yang
sudah mengejarnya sejak dari semester pertama. Cinta pada pandangan pertama, aku
Erdi padanya. Bagaimana bisa cinta seperti itu bertahan hingga
bertahun-tahun?
Berkali-kali Tari menolak niat baik
Erdi. Sekali Tari menolak dengan halus, kedua masih dengan cara halus juga.
Selanjutnya, kesabaran Tari sudah habis. Sikapnya menjadi sangat tidak
bersahabat. Tari marah karena Erdi tidak bersikap realistis. Berulang kali Tari
menyarankan agar ia mencari perempuan lain. Erdi bukan lelaki yang ia cari.
Tapi Erdi tetap keukeuh dengan
pendiriannya. Tari pun tidak kalah keukeuh
menolaknya. Bagi Tari, satu keputusan yang telah terucap, pantang diubah lagi.
Hubungan mereka pun menjadi renggang,
padahal dulu mereka berteman baik. Sampai perkuliahan berakhir pun ia masih
saja menghubungi Tari. Menanyakan apakah ada tempat untuknya di hati Tari.
Walau hubungan mereka mulai membaik di akhir perkuliahan, Tari tak bisa
bersikap wajar seperti tidak terjadi apa-apa. Tari selalu menjaga jarak
dengannya. Jauh-jauh.
“Coba hubungi dia lagi ya…
Barangkali ada salah, minta maaflah…” bu Ida mencoba memberi solusi.
Menanggapi kalimat terakhir pun Tari
hanya bisa tersenyum. Getir. Mata Tari sudah berkaca-kaca. Namun Tari berusaha
keras agar butiran bening itu tidak meleleh menuruni pipinya. Tari berhasil.
Sampai berpamitan pulang pun, air mata hanya sanggup menggenangi kelopak
matanya.
Umur Tari sudah genap dua puluh enam
tahun, tapi ia selalu lupa usianya yang sebenarnya. Padahal ia telah
menghabiskan seperempat abad bertualang di atas bumi ini. Pekerjaan sebagai
guru privat membuatnya selalu merasa awet muda.
Tari berusaha menyesuaikan diri untuk
bisa berada dalam dunia yang sama dengan murid-muridnya. Tapi hal itu tak
menyulitkan Tari. Tari punya banyak sisi sanguinis. Setiap hari berinteraksi
dengan para murid membuatnya gape
menggunakan bahasa yang berlaku dalam dunia mereka. Baik bahasa lisan maupun
bahasa tubuh.
Tak hanya itu, pakaian Tari
seringkali sangat mencerminkan watak sanguinis sejati yang kekanak- kanakan.
Sepatu coklat muda dengan hiasan tiga buah bunga di atasnya. Tas sport shock pink setia terselempang di pundaknya. Jam tangan dengan warna
senada melingkari pergelangan tangan. Pun ketika akhirnya Tari mengajar di
sekolah, penampilannya tak banyak berubah.
Pada dasarnya Tari tak punya target
untuk segera menikah, walau dulu ketika masih kuliah sempat ingin menikah di
usia dua puluh lima tahun. Tapi seiring berjalannya waktu, secara mental Tari
tak pernah merasa siap untuk menikah. Ia belum mau menyesuaikan diri dengan
orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Mengaturnya dan mencampuri
urusannya.
Tapi
yang terpenting, ia belum sanggup memikul tanggung jawab
sebagai seorang istri.
Lagipula orang- tuanya tidak meminta Tari segera menikah. Bahkan
menyinggung masalah pernikahan pun tidak pernah.
Namun, Tari bukanlah wanita tanpa
hati. Hatinya pun tidak terbuat dari batu yang baal tak punya rasa. Ketika
menghadiri pesta pernikahan teman-temannya, kadang terbersit pertanyaan: kapan
tiba gilirannya?
Kata Yuli, dia dan Tari adalah wanita
yang terlalu mandiri dan superior. Seolah tak memerlukan orang lain. Watak
koleris dan melankolis berpadu begitu sempurna dalam diri mereka. Sehingga para
lelaki enggan melirik mereka. Tari akui, seringkali
ia tidak bisa mempercayai siapa pun kecuali dirinya. Tapi waktu itu ia
berkilah, ia mempunyai banyak sisi sanguinis, jadi rasanya Tari tak
semenyeramkan itu.
Namun sekarang Tari sadar, mungkin
Yuli benar. Mungkin para ikhwan merasa tidak nyaman dengan wataknya yang
membingungkan. Di satu sisi Tari adalah wanita childish yang periang. Di sisi lain Tari sangat tertutup, kaku dan
tidak bisa ditawar untuk banyak urusan. Sehingga para aktifis itu tak sudi
menjadikan Tari sebagai pendamping hidupnya.
Atau mereka enggan memilih Tari
karena ia penyakitan? Entahlah, Tari tak yakin dengan dugaannya. Tapi Tari tak
mau berlarut-larut memikirkannya. Umurnya masih dua puluh enam tahun. Bila
berumur panjang, perjalanannya masih amat jauh. Mungkin bila sudah saatnya,
akan ada pangeran berkuda putih yang mau menerimanya apa adanya.
Sekarang, Tari hanya ingin menikmati
masa lajang. Mengisinya dengan cara yang ia suka. Kalau akhirnya tak ada
seorang ikhwan pun yang datang, mungkin sudah nasib Tari menjalani hidup sendiri.
Ia selalu mensugesti diri untuk siap menghadapi segala kemungkinan itu.
Walau ia terancam masuk IJO LUMUT club–Ikatan Jomblo Lucu dan Imut, Tari
tak mau mengganti kriteria pangeran idamannya. Rasanya standar yang ia terapkan
tak terlalu tinggi. Malah sudah mencapai batas minimal. Jadi untuk apa ia
menggantinya? Atau malah menurunkan standar? Tari lebih suka mengubur mimpinya
dalam- dalam daripada harus menggantikannya dengan yang lain.
Tari sudah bersiap-siap dari sekarang
untuk menjadi jojoba−jomblo-jomblo bahagia, bila hal terpahit itu menimpanya
kelak.
Ternyata,
Pangeran dengan BMW
“Bagaimana Teh?”
Suara itu membuyarkan lamunan Tari.
Tari menengok ke arah suara berasal. Seorang lelaki berperawakan tinggi dan
kurus sedang menatapnya. Menunggu jawaban.
Ia adalah seorang kenalan Tari.
Seorang sales buku. Mereka bertemu di sekolah tempat Tari mengajar.
Tari menghela napas. Berat. Sejenak
ia pandangi lelaki yang duduk terpisah lebih dari satu meter di sebelah kiri
tempatnya duduk kini.
Dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Sepatu sport, celana jeans, jaket
kulit, serta sebuah tas kecil ter- selempang di bahunya. Hanya itu yang bisa
ditangkap Tari dalam alam sadarnya. Selebihnya Tari sibuk bertanya-tanya dalam
hati.
Benarkah
semua ini? Ataukah hanya mimpi? Bila ia tahu semuanya, akankah ia tetap pada
pendiriannya? Seribu
tanya berdengung-dengung di telinga Tari.
“Kondisi saya seperti ini, saya punya
banyak kekurangan. Akang bener-bener mau sama saya?” akhirnya setelah beberapa
saat Tari angkat bicara. Nada suaranya tak bersahabat. Judes. Mungkin ini yang
menyebabkan seorang ikhwan pernah mengurungkan niatnya berta’aruf dengannya.
Lalu Tari terdiam.
Tari melemparkan pandangan lurus ke
depan. Sore ini banyak anak-anak bermain futsal. Selain karena keributan yang
mereka ciptakan, jarak tempat Tari dan sang ikhwan duduk pun terpisah cukup
jauh. Sehingga keduanya harus sama-sama meninggikan suara.
“Memangnya kekurangan teteh apa
saja?” sang ikhwan tampak mencoba mensikapi pernyataan Tari dengan bijak.
Pff…
belum tahu dia! Seru
Tari dalam hati.
“Pertama, temperamen saya tinggi.
Saya mudah marah. Kedua, saya keras kepala. Ketiga, saya penyakitan.” Suara
Tari bergetar menjawab pertanyaan sang ikhwan. Terlebih ketika menyebutkan poin
terakhir. Pandangan Tari masih lurus ke depan. Tari gamang.
“Saya sakit jantung, baru saja
terkena hepatitis A dan ginjal saya pernah bermasalah. Juga ada penyumbat- an pembuluh
darah di kaki saya.” sang ikhwan tidak tahu riwayat kesehatan Tari karena
mereka tak pernah mengobrol banyak. Bertemu pun sangat jarang.
Tari mengalihkan pandangan. Ia ingin
menangkap ekspresi wajah ikhwan di pinggirnya ketika mendengar semua pemaparannya.
Tari menduga akan mendapati dahi yang berkerut maksimal atau bahkan mulut yang
ternganga. Namun, Tari salah. Ia tak mendapati mimik itu.
Ikhwan tersebut hanya
mengangguk-anggukkan kepala. Entah apa yang ada dalam kunyahan pikirannya, ia
tampak tenang. Justru malah Tari sendiri yang terkejut ketika ia tiba-tiba
menanyakan nama lengkap Tari, seolah tak tertarik untuk mendengar penjelasan
mengenai kondisi fisiknya dan mengalihkan pembicaraan.
“O iya Teh, nama lengkap Teteh
siapa?”
Tari sempat ragu menjawabnya.
“Mentari Indah Kartika… Di rumah,
saya dipanggil Tari.” Tari terdiam sejenak. Kekagetannya masih bersisa. “Kalo
akang?” Tari cepat menguasai diri.
“Rijal Abdillah.”
Beberapa saat kemudian, benteng
pertahanan Tari mengendur. Suasana mulai mencair. Partikel atmosfer melepas
ikatannya satu sama lain. Mereka pun bisa bergerak bebas lagi. Pembicaraan
mulai terasa nyaman. Obrolan mereka pun sampai pada pertanyaan tentang sifat
orang tua masing-masing.
“Saya adalah copy-an sempurna dari bapak saya.”
jawab Tari dengan tenang. Tari dan bapak memiliki sifat yang hampir
mirip. Keras kepala dan cenderung otoriter.
Walau sifatnya ini ramai
diperbincangkan, namun Tari tak pernah menyesal mempunyai sifat seperti ini. Ia
pun tak punya niatan untuk berubah. Hidupnya tidak seperti kebanyakan orang.
Hanya dengan seperti itu Tari bisa bertahan. Tetap tegak berdiri menjalani
hidup.
Pertemuan sore itu diakhiri dengan
janji yang diberikan Rijal. Ia akan datang ke rumah Tari dua minggu lagi untuk
membicarakan niatnya kepada bapak Tari.
Selama dua minggu Tari menunggu
keseriusan niat Rijal. Bila ia serius dan mau menerima keadaan Tari, ia akan
datang ke rumahnya. Bila tidak,
ia tak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah.
Ternyata, Rijal datang menepati
janji. Ia datang ke rumah Tari dengan mengendarai BMW. Bebek Merah Warnanya.
Bapak terlihat termenung menerima kedatangan Rijal. Tanpa ekspresi kegembiran,
bapak berbincang dengan Rijal. Tari paham perasaan bapak. Bapak bukannya tidak
gembira. Hanya saja, putri–kecil kesayangan, bapak dilamar oleh seorang sales
buku yang tidak mempunyai jaminan asuransi kesehatan. Sedang Tari secara
berkala memerlukan pelayanan medis. Selain itu, penghasilan Rijal pun tidak
terlalu besar.
Tapi bapak tidak menolak niat baik
Rijal. Bapak menyerahkan segala keputusan pada Tari. Karena yang akan menjalani
semuanya adalah Tari.
Dua minggu setelah itu, orang tua
Rijal datang ke rumah Tari untuk membicarakan perihal acara lamaran. Dua minggu
setelahnya, acara lamaran dilangsungkan. Tujuh bulan kemudian pernikahan mereka
pun digelar. Tari menikah di usia dua puluh tujuh tahun.
Beberapa bulan yang lalu Tari sudah
jengah dengan pertanyaan: kapan ia akan menikah? Orang-orang tak meraba hatinya
ketika melontarkan pertanyaan macam itu. Mereka tak menyadari bahwa pertanyaan
itu menyakiti Tari.
Kini Tari telah menemukan pendamping
hidup. Namun selama beberapa bulan, ia masih merasa semuanya adalah mimpi.
Terkadang Tari terbangun dari tidur dengan terkaget-kaget. Ada orang asing
tidur di sampingnya!
Kunjungan Pertama
Sampai juga Tari di tujuan. Sebuah
desa dengan pemandangan yang masih asri. Hawanya sangat sejuk. Ia masih dapat
melihat hamparan hijaunya pesawahan, kebun-kebun ubi, jagung, bawang, serta
rumpunan bambu. Pohon-pohon besar pun berjajar sepanjang jalan. Tidak lupa air
yang mengalir melalui ruas-ruas bambu.
Pemandangan yang mereka lalui sungguh
indah. Namun, Tari tak bisa menikmati keindahan itu. Sepanjang perjalanan ia
berkonsentrasi melihat jalan sambil berpegangan erat pada pinggang suaminya.
Tari diboncengi Rijal. Jalan di desa ini cocok sekali untuk dijadikan medan off road. Berlobang di sana-sini,
tanjakan dan turunan yang tinggi, serta
tikungan-tikungan tajam. Bila hujan turun, bisa dipastikan jalan akan menjadi
becek dan licin.
Pff…
badanku pegal semua.
Keluh Tari dalam hati. Satu setengah jam perjalanan yang melelahkan. Akhirnya
ia sampai juga di desa suaminya. Baru
kali ini Tari datang kemari.
Ketika keluarganya berkunjung satu kali ke desa ini sebelum ia menikah, ia
tidak ikut.
Jadi Tari hanya bertemu keluarga
suaminya sebanyak tiga kali di rumahnya. Ketika membicarakan acara lamaran,
ketika lamaran dilangsungkan, dan ketika resespsi pernikahan. Jadi, mereka
tidak terlalu mengenal karakter satu sama lain.
Sambil meregangkan badan, Tari
mengedarkan pandangan. Mereka parkir di depan sebuah masjid. Bangunan yang
sangat sederhana. Di seberang masjid adalah rumah tempat suaminya dibesarkan.
Ada warung kecil di sebelah rumah. Katanya itu milik kakak Rijal. Kakak
suaminya itu seorang guru SD dan juga mengajar di SMP Terbuka.
Di undakan tanah yang lebih rendah,
ada sebuah rumah lagi. Itu adalah rumah nenek Rijal. Dulu Rijal dirawat oleh
neneknya. Karena setelah melahirkan Rijal, ibu sakit keras.
Di seberang rumah nenek, ada rumah
bibi Rijal. Memang cukup banyak keluarga yang berkumpul di daerah ini. Di sepanjang
jalan yang tadi mereka lewati, ada rumah dua bibi lagi.
Kedatangan mereka disambut dengan
baik. Awalnya Tari tidak percaya diri berkunjung ke rumah suaminya. Tari belum
benar-benar pulih dari sakit hepatitis. Tari masih menjalani diet rendah lemak.
Itu berarti makanannya akan terpisah dengan suami dan keluarganya. Ada perasaan
malu terbersit di hati Tari karenanya. Namun, di luar dugaan, ternyata keluarga
Rijal sangat memaklumi kondisi Tari.
Selamat
Menempuh Hidup Baru!
Setelah menikah, Tari tinggal di
rumah yang dulu ditempati oleh keluarganya. Sedang keluarga Tari pindah ke
rumah sebelah yang baru selesai dibangun beberapa bulan sebelum pernikahan Tari
dilangsungkan.
Ternyata waktu tujuh bulan tak cukup
lama untuk saling mengenal. Dan Tari merasa, waktu bertahun-tahun pun tak akan
pernah cukup karena kehidupan yang sebenarnya terjadi setelah mereka tinggal
satu atap. Walau Tari sudah “membaca” kepribadian Rijal sejak pertama
mengenalnya, terkadang Tari masih saja dibuat terkejut oleh tingkah lakunya.
Begitupun Rijal, walau dari awal Tari sudah bersikap senatural mungkin dan
menerangkan tentang kepribadiannya secara terperinci, masih saja ia
terheran-heran melihat kelakuan Tari.
Tari berusaha untuk menerima Rijal
apa adanya. Dan Tari
yakin Rijal berusaha
lebih keras dari
dirinya. Dibandingkan dengan Rijal, Tari lebih kesulitan ber- adaptasi
dengan kondisi kehidupan yang baru.
Mungkin, Tari adalah wanita paling
“buas” yang pernah ditemui Rijal. Perlu kesabaran ekstra dalam menghadapi Tari,
apalagi untuk mengubahnya. Rijal mengambil resiko itu ketika menikahinya.
Secara keseluruhan, kepribadian
mereka memang sangat jauh berbeda. Tari lebih pemikir, sistematis, dan
memperhitungkan segala kemungkinan dalam mengambil suatu tindakan. Bahkan hal-hal
kecil sekalipun. Semua harus bisa memenuhi syarat yang diajukan oleh logikanya.
Sedang Rijal lebih mengalir dan tak jarang melakukan “improvisasi”.
Sebenarnya perbedaan itu adalah
anugrah bila mereka mampu mensinergikannya. Sehingga mereka bisa saling mengisi
dan menutupi kekurangan masing-masing. Namun, pada kenyataannya, tak mudah
menyatukan dua kepala, dua hati, dan dua latar belakang yang berbeda.
Di bulan-bulan awal pernikahan,
seringkali mereka menarik diri masing-masing ke titik ekstrim, sehingga mereka
berada pada dua kutub yang sama sekali berlainan. Hal ini yang menimbulkan
gesekan-gesekan di antara mereka. Padahal kadang yang diributkan hanyalah
hal-hal kecil. Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai mencoba saling
memaklumi.
Setelah menikah, Tari masih
meneruskan mengajar di sekolah. Namun Rijal hanya mengizinkan Tari mengajar di
satu kelas saja. Ia mengkhawatirkan kesehatan Tari. Mengajar privat pun masih
dijalani Tari. Ia mengajar enam orang anak.
Penghasilan suaminya ditambah penghasilan
Tari cukup untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Termasuk untuk membeli
suplemen kesehatan untuk Tari. Mereka pun mulai mencoba pengobatan alternatif
lain. Pengobatan dengan transfer energi.
Saat itu Tari merasa mempunyai
segalanya. Tak kekurangan suatu apapun. Tapi ternyata roda berputar. Tari harus
mengalami banyak ujian yang datang silih berganti. Terus menerus.
Sebulan setelah menikah, tiba-tiba
Tari terserang maag yang cukup parah. Sampai-sampai Tari dua kali dilarikan ke
UGD karena seharian memuntahkan kembali semua makanan yang ia santap. Tari
memilih pergi ke UGD agar mendapat suntikan yang bisa menghentikan
penderitaannya seketika itu juga.
Padahal, sepanjang hidupnya, Tari tak
pernah mengalami serangan maag sehebat itu. Pola makan Tari cukup bagus. Pada
dasarnya ia selalu mengusahakan makan tiga kali sehari. Bila berada di luar
rumah sekalipun, Tari menyengajakan mampir ke warung nasi. Bahkan, bila sempat,
Tari akan membawa bekal makan siang dari rumah.
Kebiasaan membawa bekal makan siang
sudah ia mulai sejak SMA. Hingga sekarang kebiasaan itu masih dilakoninya.
Hanya saja, Tari memang sering terlambat makan malam. Itupun bukan karena
faktor kesengajaan. Ketika jam makan malam tiba, Tari hampir selalu ada di
rumah muridnya. Mengajar privat. Jadi tak mungkin baginya makan malam tepat
waktu.
Tetapi usut punya usut, bukan
kebiasaan makannya yang membuat maag Tari tiba-tiba parah. Tapi karena
kecerobohannya ketika mengkonsumsi produk minuman kemasan.
Beberapa waktu sebelum pernikahan,
Tari rajin mengkonsumsi bandrek instan. Tari tertarik pada kan- dungan jahe
dalam bandrek tersebut.
Kemudian Tari pun rutin meminum
bandrek instan setiap hari. Kesalahan pertama yang ia lakukan adalah, ia tidak
membaca komposisi bandrek instan tersebut. Ke dalam bandrek tersebut
ditambahkan cabai jawa. Kesalahan kedua, Tari meminumnya pagi hari sebelum
sarapan. Bisa dibayangkan lambung Tari menderita selama mengkonsumsi minuman
itu.
Dan tampaknya bukan hanya lambungnya
yang menanggung akibat kecerobohan Tari, tapi liver pun ikut menderita. Tari
sering merasakan kembung pada perut bagian kanan atas. Menurut bu
Oce−terapisnya, liver Tari belum sembuh total. Jadi dietnya masih harus
diperpanjang. Padahal, sudah lebih dari enam bulan Tari menjalani diet rendah lemak.
Tari hanya bisa meng- konsumsi makanan yang direbus atau dikukus.
Tari tak menyadari bahwa tragedi
bandrek instan hanya ujian yang sangat kecil bila dibandingkan dengan
ujian-ujian lain yang akan datang
Semua Baru Permulaan
Suatu malam, dua bulan setelah
pernikahan, Tari dikejutkan oleh rasa sakit yang menyerang pinggang bagian
belakang. Rasanya seperti ditusuk-tusuk. Ber- campur dengan rasa pegal dan
panas.
Ketika pagi tiba, rasa nyerinya
sedikit berkurang, tapi tak benar-benar hilang. Akhirnya Rijal memutuskan untuk
membawa Tari ke rumah sakit.
Di sana Tari ditangani oleh seorang
dokter wanita yang masih muda. Setelah memeriksa Tari, ia duduk di belakang
mejanya. Tari pun turun dari kasur pemeriksaan lalu duduk di depan sang dokter.
“Aneh, sakitnya di pinggang bagian
atas. Itu kan ginjal…” sang dokter menggantungkan kalimatnya. Ia terdiam
sejenak, kemudian menuliskan sesuatu di atas secarik kertas kecil.
“Periksa urin ke lab aja ya! Saya
kasih pengantar- nya. Kalau sudah ada hasilnya, kembali lagi ke sini!” lanjut
sang dokter lagi.
Tanpa banyak bertanya, Tari dan Rijal
langsung menuju lab. Tak berapa lama, mereka sudah bisa mendapatkan hasil
pemeriksaan urin. Mereka pun kembali ke ruang periksa dan menyerahkan hasil lab
kepada sang dokter.
“Harusnya dalam urin tidak ditemukan leukosit.
Ini ada. Banyak lagi!” Dokter muda itu terdiam sejenak. Seperti sedang
memikirkan sesuatu. Tari hanya me- mandangi sang dokter. “Kemungkinan ada
infeksi ya?” Lanjutnya lagi. Tari pun mengangguk-angguk.
Tari memang tak pernah mendapat
kuliah kedokteran, tapi Tari sering membaca artikel-artikel kesehatan.
Selain karena Tari senang memenuhi
otaknya dengan informasi tentang kesehatan, Tari merasa menjadi konsekuensi
logis bagi orang sakit macam dirinya untuk memperkaya pengetahuan. Anggap saja
sebagai pen- cegahan agar ia tidak mendapat penyakit baru karena
ketidaktahuannya. Jadi, Tari paham bahwa telah terjadi infeksi dalam tubuhnya.
“Hanya saja, tadi yang sakit pinggang
bagian atas ya? Takutnya yang kena infeksi adalah ginjalnya…” ia kembali
terdiam. “Ini juga ada protein di urin...” Gumamnya sejurus kemudian. Dahinya
sedikit berkerut.
Nah, kalau bagian yang ini Tari tak
mengerti. Kenapa ada protein di urin? Sang dokter lalu meraih buku kecil di
dekat tangannya dan menulis sesuatu di dalamnya.
“Saya kasih antibiotik saja ya!
Antibiotiknya dihabiskan! Bila masih ada keluhan, kembali lagi ke sini! Ini
juga ada penahan sakitnya. Diminum kalau masih terasa sakit.” Ia menunjuk
tulisan-tulisan yang dibuatnya dalam buku kecil itu. Nama-nama obat dan
jumlahnya. Sebuah resep obat.
“Maag-nya bagus tidak? Kalau tidak,
saya kasih obat maag. Obat penahan sakitnya cukup asam untuk lambung.”
“Enggak Dok!” Tari menggeleng sambil nyengir.
Sang dokter pun menuliskan tambahan
obat dalam resep.
“Obat maag-nya diminum sebelum obat
penahan sakit! Obatnya ada yang sebelum makan, ada juga yang sesudah makan.” Ia
lalu menyerahkan resep sambil tersenyum. “Cepat sembuh ya!”
Setelah mengucapkan terima kasih,
Tari pun pamit dan meninggalkan ruang periksa.
Setelah kejadian malam itu, stamina
Tari pun menurun drastis. Sedikit beraktifitas saja membuat tubuhnya merasakan
lelah yang luar biasa. Selain lemas, rasa pegal menjalari setiap persedian
tubuh. Bahkan sampai persendian-persendian terkecil. Jemarinya. Ia pun akan
merasakan pinggangnya pedih, pegal, serta panas.
Rasa lelah akan berkurang bila Tari
merebahkan diri tanpa banyak bergerak. Dengan kata lain, terkapar tak berdaya.
Selain itu, jadwal ke kamar mandi untuk buang air kecil menjadi sangat sering.
Dua puluh menit sekali.
Penderitaan yang terberat adalah
tidurnya menjadi sangat terganggu. Karena di malam hari Tari bisa terbangun
empat sampai lima kali untuk pergi ke kamar mandi. Bahkan, tak jarang karena
sering terbangun, Tari tak bisa kembali tidur. Alhasil, malam itu Tari akan
bolak- balik ke kamar mandi.
Padahal sebelumnya Tari tak pernah
mengalami gangguan tidur. Seiring dengan terganggunya kesehatan ginjalnya,
kondisi jantung Tari pun ikut terganggu. Jantungnya jadi lebih sering terasa
sakit. Berat badan Tari sedikit demi sedikit terus menurun.
Kehidupan Nyata
Satu bulan setelah serangan pada
ginjal Tari, pemerintah mensahkan peraturan pelarangan menjual buku pelajaran
di sekolah-sekolah. Seiring diberlaku- kannya peraturan tersebut, Rijal–beserta
ribuan atau mungkin puluhan atau entah ratusan ribu sales buku pelajaran yang
lain, kehilangan pekerjaan.
Karena kebijakan tersebut, perusahaan
tempat Rijal bekerja pun hampir bangkrut. Beberapa perusahaan lain yang sejenis
mengalami hal yang sama. Beberapa penerbit buku pelajaran gulung tikar secara
masal.
Setelah di-PHK, Rijal berusaha
mencari pekerjaan lagi. Namun bukan hal mudah mendapat pekerjaan di zaman yang
penuh persaingan ini. Selama mencari pekerjaan, Rijal bekerja sebagai sales
buku free lance. Penghasilannya tak
menentu.
Rijal di-PHK tanpa pesangon. Sehingga
bekal untuk hidup berasal dari gaji terakhir. Akhirnya Rijal memutuskan untuk berwirausaha. Dengan
modal yang sangat sedikit, Rijal
membuka warung kecil-kecilan. Rencananya Tari dan Rijal akan berjualan pempek
dan cakue.
Tapi karena mereka belum sukses
membuat cakue, untuk sementara mereka berjualan pempek dan jus buah- buahan
saja. Pempeknya mereka beli dari pabrik yang letaknya tidak jauh dari rumah
mereka.
Sampai sekitar dua minggu berjualan,
respon pasar terhadap pempek dan jus masih sangat buruk. Dagangan mereka selalu
bersisa padahal pempek dan buah-buahan yang disediakan hanya sedikit sekali.
Karena dagangan mereka tidak laku,
modal mereka yang sangat sedikit akhirnya habis. Lalu mereka memutuskan untuk
berhenti berdagang dulu dan menunggu sampai berhasil membuat cakue.
Setelah mencoba dan mencoba kembali,
akhirnya cakue yang mereka buat mendekati hasil sempurna. Sehingga mereka pun
berniat akan meneruskan berjualan.
Hari itu tidak akan terlupakan oleh
Tari sampai kapan pun. Pagi-pagi Rijal telah berangkat ke tempat berjualan.
Letaknya agak jauh dari rumah. Tempat itu hanyalah sepetak tanah dengan ukuran
sekitar 2x2 meter.
Mereka bergiliran memakai tempat itu
dengan mas Bambang, seorang penjual nasi kuning. Ia berbaik hati meminjamkan
gerobak dagangannya lengkap dengan kursi serta meja.
Mas Bambang berjualan dari jam enam
sampai jam sepuluh pagi. Mereka berjualan setelahnya. Mereka sama- sama menyewa
lahan tersebut kepada seorang “tuan tanah”. Sepuluh ribu rupiah per hari.
Rijal pergi ke
tempat berjualan untuk memastikan apakah tempat itu sudah disewa oleh orang
lain atau belum.
Tidak berapa lama Rijal sudah kembali
ke rumah. Ia baru membuka pembicaraan setelah menenggak hampir seluruh air
dalam gelas.
“Mi, tahu nggak?”
“Apa?” Tari kembali bertanya.
“Kita gak bisa jualan di sana lagi…”
Rijal menjawab pertanyaan Tari dengan lemah.
“Oh, kenapa?” dahi Tari mulai
berkerut. “Sudah ada yang nempatin?” Tari menebak-nebak alasan mereka tak bisa lagi berjualan di
tempat semula.
“Kata Bambang, selama kita gak jualan
di sana, si bapak nanyain kita. Katanya, walau gak jualan pun kita harus tetep
bayar sewa…” ada gurat kekecewaan yang ditangkap Tari dalam rangkaian kalimat
yang diucapkan Rijal. Dahi Tari makin berkerut. Ia tak mengerti, mereka
menempati lahan itu dengan sewa harian. Jadi menurutnya, selama tidak
berjualan, mereka tak usah membayar sewa.
“Kok gitu Bi?”
“Iya! Bahkan si bapak marah, kita gak
boleh jualan lagi di sana…” Rijal menarik napas panjang.
Tampaknya kabar ini menjadi tamparan
keras baginya. Perasaan Tari sendiri kacau balau. Tari terdiam sejenak. Tak
tahu harus bagaimana bersikap. Mungkin mereka salah karena tidak paham aturan
dalam dunia bisnis, tapi apakah tidak ada kata maaf bagi mereka?
Tari menghela napas untuk memberi
sedikit kelonggaran pada dadanya yang sudah sesak sedari tadi. Tari mengelus
punggung Rijal. Ia bisa merasakan ruas-ruas tulang belakang suaminya.
“Kok si bapak tega bener sih Bi?”
Tari ingin protes atas ketidak adilan ini. Tapi apa boleh buat, ia hanya bisa
memberontak dalam hati.
“Ya sudahlah, mungkin nasib kita mah memang begini.” namun Tari segera
tersadar bahwa semua pasti berjalan atas kehendak-Nya. “Nanti, kalau kita kaya,
jangan sekali-kali berkelakuan seperti itu ya!”
“Amin…” Rijal mengamini perkataan
Tari sambil mengangguk lemah.
Mereka tetap harus membayar sewa
tempat yang tidak mereka pakai. Tapi itu tak mengubah apapun. Mereka tetap
terusir.
Padahal mereka menaruh harapan besar
pada usaha ini. Setelah terusir, mereka tak bisa meneruskan berjualan. Mereka
sudah tak punya modal lagi untuk menyewa lahan di tempat lain yang harus
dibayar bulanan. Lagipula, mungkin mereka belum punya niat yang kuat untuk
berwiraswasta.
Hanya saja, Tari tidak habis pikir,
bagaimana bisa orang menjadi setega itu? Karena uang dua puluh ribu saja, orang
itu sanggup memutuskan jalan rizki dua manusia. Padahal, setelah mereka
terusir, tak ada yang menyewa tempat itu lagi. Ternyata sang tuan tanah lebih
rela tempat itu kosong daripada menyewakannya kepada mereka.
Akhirnya Rijal meneruskan kerja paruh
waktunya. Tari pun masih memaksakan diri mengajar walau badannya sudah
kepayahan diajak beraktifitas di luar rumah. Mengerjakan pekerjaan rumah saja
badan Tari sudah menjerit-jerit minta tolong. Padahal pekerjaan mencuci pakaian
sudah dibantu oleh Rijal.
Untunglah tak lama dari sana, Rijal
mendapat pekerjaan. Ia masuk dengan mudah ke dalam sebuah perusahaan. Rijal
direkomendasikan oleh temannya kepada pemilik perusahaan. Tari berpikir positif
bahwa perusahaan tersebut sangat
membutuhkan karyawan, pasalnya
dua orang karyawannya tiba-tiba mengundurkan diri.
Namun, setelah beberapa bulan bekerja
di sana, barulah mereka bisa melihat kondisi perusahaan yang sebenarnya.
Pekerjaan yang harus diselesaikan Rijal sangat banyak. Belum lagi tanggung
jawab yang dipikul pun sangat besar tapi kompensasi dari perusahaan tidak
sesuai.
Kebalikan dengan Rijal, pegawai dengan
pekerjaan yang sedikit–bahkan kesibukan mereka hanya beberapa hari dalam
sebulan, digaji dengan gaji yang lebih besar. Bila dibandingkan dengan karyawan
pada perusahaan- perusahaan sejenis pun, gaji Rijal hanya setengah dari gaji
karyawan dengan posisi yang sama.
Hal itu bisa menjelaskan kenapa
banyak karyawan yang memutuskan untuk hengkang dari pekerjaannya. Sehingga
karyawan pada posisi yang ditempati Rijal sekarang sering berganti-ganti.
Bahkan posisi tersebut sering mengalami kekosongan.
Padahal posisi itu merupakan jantung
perusahaan. Namun hal yang lebih mendukung para karyawan untuk angkat kaki
adalah atmosfer perusahaan yang jauh dari kata sehat.
Rijal tetap bertahan di perusahaan
tersebut karena belum ada gambaran untuk bekerja di tempat lain. Ia membutakan
mata, menulikan telinga dan mengeraskan hatinya. Sampai pada suatu hari ia
sudah tak tahan menyimpan keluh kesahnya. Ia bercerita panjang lebar. Tari tak
menyangka keadaannya seburuk itu.
Ternyata Rijal harus menelan banyak
kekecewaan, menahan kemarahan dan kesedihan, bahkan mungkin menahan harga
dirinya. Terkadang ia diperlakukan tidak layak. Tidak manusiawi. Tari terenyuh.
“Terserah Abi lah, mau keluar lagi
juga ga apa- apa…” Gamang Tari mengatakan hal itu. Tari tak bisa membayangkan
bila Rijal kembali menganggur. “Tapi, kalaulah Abi mau bersabar, mungkin itu
lebih baik. Tunggulah sampai Abi benar-benar menguasai bidang ini. Anggap saja
Abi sedang belajar, mengambil ilmu dari perusahaan sambil dibayar. Setelah itu,
Umi tak akan menghalangi Abi melakukan apapun.”
Rijal terdiam. Entah apa yang ada
dalam kunyahan pikirannya. Tari tak tega melihatnya seperti ini. Ia orang yang
baik. Orang yang sangat baik. Rijal mau menerimanya apa adanya−di saat tak
seorang aktifis pun yang sudi meliriknya. Sekarang, Rijal sanggup menerima
semua tekanan itu hanya karena memikirkannya. Bila tidak, mungkin Rijal sudah
mengikuti jejak para karyawan yang lain: hengkang dari perusahaan itu.
Kepasrahan akan takdir Alloh yang
selalu membuat Tari terkagum-kagum padanya. Ia dengan sabar mengingatkan Tari
untuk tetap menerima semua yang berlaku pada diri mereka.
Bahkan, dulu, ketika mendengar
kondisi tubuhnya, Rijal hanya sempat bimbang untuk waktu sebentar. Rijal
mengatakan bahwa namanya adalah hasil dari istikhorohnya. Ia memantapkan hati
kalau Tari memang jodohnya.
Tari memang beruntung mendapat suami
sebaik dia. Tapi apakah ia beruntung mendapat istri sepertinya? Tapi Rijal
selalu meyakinkan Tari, bahwa ia tak pernah menyesali keadaan dirinya.
“Ya, hidup kita memang berbeda dengan
yang lain. Sudahlah, abi juga ga akan keluar cepet-cepet sebelum dapat
pekerjaan baru. Abi mah cuman pengen
ngeluarin unek-unek aja.”
“Ya, mudah-mudahan Alloh melunakan hati si
bos. Toh dia berbuat seperti itu kan atas izin Alloh. Bukannya yang
membolak-balikkan hati manusia itu Alloh? Sekarang mah kita berusaha profesional saja. Melakukan pekerjaan dengan
sebaik-baiknya. Terlepas orang-orang mau menghargainya atau tidak. Jangan
karena gaji kecil, jadi kerjanya asal-asalan. Itu sih resiko kita, kenapa mau
kerja di sana.” Rijal hanya terdiam mendengar paparan Tari. Tari berusaha agar
terlihat tegar walau jiwanya terasa remuk. Hilang bentuk.
Anak-anak Tangguh
Tari mengantarkan kepergian muridnya,
Resno, sampai teras rumah. Resno mengambil sepeda ontel dan menumpanginya.
“Saya pulang dulu Bu!
Assalamualaikum!” Resno pun berpamitan pulang sambil mulai mengayuh sepedanya.
“Waalikum salam!”
Tari terdiam sejenak di teras.
Setelah Resno berlalu dari hadapannya, Tari masuk kembali ke dalam rumah dan
menutup pintu.
Resno datang seminggu sekali ke rumah
Tari untuk belajar. Beberapa waktu lalu Resno merengek meminta tambahan
pelajaran darinya. Resno akan menghadapi Ujian Nasional.
Sebelumnya Tari menolak bila harus
mengajari matematika. Tari bukan guru matematika. Bahkan Tari tidak mengajar di
kelas Resno. Namun Resno tidak mau meminta guru matematika mengajarinya.
Resno adalah anak yang cukup pandai.
Namun, ia tak bisa mendapat prestasi gemilang. Nasib membawanya pada kehidupan
yang jauh berbeda dengan anak-anak seusianya. Ia harus mencari biaya sendiri
agar bisa bersekolah.
Dari keterangan seorang guru. Resno
seringkali mengantuk di kelas. Mungkin ia terlalu kelelahan. Karena selain
harus bekerja, ia pun harus mengayuh sepeda ke mana pun ia pergi. Sehingga Tari
sangat menghargai usaha Resno untuk bisa belajar tambahan di sela keadaannya
yang serba terbatas. Selain itu, Resno bahkan menyempatkan diri belajar bermain
musik dan melukis.
Resno mengingatkan Tari kepada kakak
kelas Resno, Asep. Cerita yang berbeda dialami oleh dua anak tersebut. Namun
ada satu hal yang sama. Mereka sama- sama bekerja keras di sela-sela
keterbatasan yang mengikat mereka.
Asep pun sempat mendapat pelajaran
Kimia tambahan dari Tari. Asep tidak secerdas Resno. Bahkan bisa disebut,
kemampuan kognitifnya sangat kurang. Ia lebih pandai dalam kemampuan
kinestetik, kemampuan yang berkenaan dengan gerak. Ia akan lebih paham bila
pelajaran yang disampaikan melibatkan gerak anggota tubuh. Ia sangat pandai
dalam bidang olah raga dan keterampilan.
Namun, sistem pendidikan yang berlaku
di republik ini menekankan pada kemampuan kognitif. Sehingga Asep harus
berjuang dengan kelemahan dirinya. Padahal, menurut temannya, Asep sudah
berusaha keras untuk belajar. Bahkan sangat keras. Ia rajin sekali membuka
buku. Namun nilainya hampir tak pernah menyentuh angka enam. Sekeras apapun ia
berusaha, ia selalu mengalami kekalahan.
Akhirnya, keduanya tak bisa lulus
Ujian Nasional. Bahkan Resno sudah mempersiapkan uang untuk ujian remedial
jauh-jauh hari sebelum Ujian Nasional di- langsungkan. Ia sudah mempersiapkan
diri untuk tidak lulus ujian. Ironis.
Syukurlah, pada ujian remedial,
mereka berdua berhasil “lolos”.
Tidak Cocok Untukku
Hampir satu tahun dari saat Tari
diduga terkena infeksi ginjal. Staminanya belum juga pulih. Tari masih sering
merasakan sakit pada pinggang belakang. Frekuensi ke kamar mandi masih dua
puluh menit sekali.
Namun sekarang Tari sedikit lega
karena di malam hari Tari hanya terbangun satu atau dua kali saja untuk ke kamar
mandi.
Bahkan, bila tidurnya terlalu
nyenyak, Tari tidak terbangun sama sekali. Namun, ada konsekuensi yang harus
Tari tanggung bila tidak terbangun. Ginjalnya akan terasa sangat sakit.
Karena kondisi itu, Tari memasang
alarm untuk membangunkannya di malam hari. Pada awal serangan infeksi ginjal,
alarm dipasang sampai empat kali dalam semalam. Sekarang, Tari hanya memasang
alarm sekali saja.
Selama ini Tari tidak lagi pergi ke
dokter. Ia hanya meminum obat herbal dan meneruskan terapinya.
Sudah beberapa bulan belakangan tubuh
Tari diserang rasa gatal. Rasa gatal sering menyerang bagian tubuh yang hampir
sama: lengan, perut, punggung, lutut, kaki, dan punggung tangan. Kondisi
terparah dialami oleh ketiga jari tangan kanan. Kulit pada jari tengah, jari manis,
dan kelingking mengering dan mengelupas sedikit demi sedikit. Jaringan kulitnya
mati.
Setelah jaringan kulit baru
terbentuk, rasa gatal akan kembali menyerang. Begitu seterusnya. Selain itu,
kulit tubuhnya menjadi kusam, kering, dan bersisik.
Sesekali kulit pada telapak kakinya
tiba-tiba mengelupas. Mula-mula hanya sebesar pentul korek api. Namun bila
dibiarkan−tidak diobati, kulit yang menge- lupas menjadi lebih besar.
Suatu hari, pak Kus−kepala sekolah
yang baru di tempat Tari mengajar, menyarankan Tari untuk pergi ke sebuah
klinik akupunktur. Pak Kus pun berobat ke sana. Pak Kus terkena kanker getah
bening. Setelah berunding dengan sang istri dan seorang ahli farmasi, pak Kus
memutuskan untuk menjalani pengobatan alternatif daripada pengobatan di rumah
sakit. Setelah beberapa lama menjalani pengobatan akupuntur yang disertai
konsumsi obat herbal, terlihat kemajuan yang signifikan. Oleh karena itu, pak
Kus beserta istrinya terus memberi Tari semangat untuk berobat ke sana.
Sepasang suami istri itu membuat Tari
terkagum- kagum. Di sela-sela ujian yang datang bertubi-tubi, mereka masih
sempat memperhatikan Tari. Mereka meyakinkan Tari bahwa selama masih mau
berusaha, Alloh akan memberikan kemudahan.
Akhirnya Rijal dan Tari mencoba
berkonsultasi terlebih dulu dengan sang dokter ahli akupuntur. Dokter
menyarankan paket pengobatan yang lengkap. Mulai dari minum jamu, akupuntur, serta
pemberian cairan infus. Tapi harga cairan infus sangat mahal. Harganya lebih
dari satu juta untuk sekali infus saja.
Mereka tak sanggup untuk membayar
obat semahal itu. Jadi mereka mencoba terapi dengan jamu dan akupuntur saja.
Tapi ternyata tubuh Tari menolak
kedua jenis terapi itu. Setelah minum jamu, ginjal dan jantung Tari terasa
sangat sakit. Sedangkan efek akupuntur menyebabkan badannya merasa tidak nyaman
dan sedikit demam. Mereka pun berkonsultsi kembali dengan dokter. Sang dokter
menghentikan kedua terapi tersebut dan menyarankan Tari pergi ke laboratorium
untuk men- dapatkan gambaran kondisi ginjal dan jantungnya yang terbaru.
Sebenarnya sebelum memulai terapi,
dokter sudah meminta hasil pemeriksaan laboratorium terbaru, namun Rijal dan
Tari mengabaikan permintaan dokter karena simpanan uang mereka sudah habis.
Setelah tubuh Tari menolak diterapi, barulah mereka pergi ke rumah sakit.
Mereka datang ke dokter penyakit dalam terlebih dulu sebelum melakukan
pemeriksaan lab. Dokter me- nyarankan pemeriksaan urin, USG ginjal, dan rontgen
jantung.
Menurut hasil USG, bentuk ginjal
normal dan tidak terdapat batu ginjal. Menurut hasil pemeriksaan urin, masih
terdapat protein, namun jumlahnya lebih sedikit dari hasil pemeriksaan setahun
lalu. Leukosit yang ditemukan jumlahnya sangat sedikit. Menurut hasil rontgen,
tampak adanya bronkhitis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan lab,
Dokter mengatakan ginjal Tari baik-baik saja. Padahal sudah disebutkan Tari
buang air kecil dua puluh menit sekali.
Bagaimana bisa Tari dikatakan
baik-baik saja bila ia bolak-balik ke kamar mandi lebih dari empat puluh kali
dalam sehari? Dokter tidak mengatakan apa-apa mengenai hasil rontgen.
Keesokan harinya, Tari kembali ke
rumah sakit tersebut. Ia membutuhkan pendapat kedua dari dokter lain mengenai
ginjalnya. Ternyata, selain kecewa, Tari pun sakit hati oleh ucapan dokter yang
ditemuinya.
Dengan ringan sang dokter mengatakan
bahwa ia tak punya urusan dengan masalah urin dan menyebutkan Tari terlalu
memikirkan sakit jantungnya sehingga Tari jadi sering buang air kecil. Mungkin
yang dimaksudkan oleh sang dokter adalah, Tari menderita stres karena terus
memikirkan penyakit jantungnya.
Tari sangat ingin mendebatnya. Kalau
dia spesialis jantung, janganlah ia berada di klinik penyakit dalam. Berdiam
dirilah di klinik khusus jantung. Kalaulah Tari disebut stres karena memikirkan
kondisi jantungnya, dokter salah besar! Tari pernah mengalami kondisi kejiwaan
yang jauh lebih buruk dari sekarang, tapi Tari tidak pernah mengalami
pengeluaran urin besar-besaran dari dalam tubuhnya.
Lagipula sudah sepuluh tahun berlalu
setelah Tari terkena serangan jantung yang pertama. Bagaimana bisa Tari baru
merasakan gejala stresnya sekarang? Diagnosa yang sangat absurd! Namun Tari
hanya bisa menggigit lidah dalam kekesalan.
Setelah mendapatkan hasil lab, Rijal
dan Tari kembali ke klinik akupunktur. Sang dokter menggeleng- gelengkan
kepalanya melihat hasil pemeriksaan lab Tari.
“Mungkin virus di dalam tubuhnya
terlalu banyak. Di ginjal ada infeksi, ini juga ada bronkhitis. Karena
jantungnya tidak bekerja sempurna jadinya ada tekanan ke dalam paru-paru.
Mungkin ini yang menyebabkan bronkhitis. Dan ada cairan di uterus, ini kista.
Tapi ini masih kecil. Jadi terapinya tidak cocok. Kalau saja mau mencoba pakai
infus, mungkin bisa berhasil.”
Sang dokter menerangkan dengan bahasa
Indonesia yang terbata-bata dan pelafalan yang sulit dipahami. Ia memang made in China, asli orang China. Jadi komunikasi di antara mereka berlangsung
sedikit alot. Tari dan suaminya harus memutar otak untuk men- terjemahkan
perkataan dokter tersebut. Ia pernah mengeluarkan bahasa Inggrisnya ketika ia
putus asa melihat Rijal dan Tari tidak bisa memahami kata yang diucapkannya.
Setelah ia mengatakannya dalam bahasa Inggris, barulah mereka paham.
Menanggapi saran sang dokter Tari
hanya menggeleng sambil tersenyum. “Mungkin lain kali Dok. Saya tidak punya
cukup uang untuk infus.” Sebenarnya untuk jamu dan akupuntur pun, uang mereka
tidak cukup. Tapi mereka nekat untuk mencobanya. Harapan mereka, dengan
tambahan metode pengobatan, Tari akan cepat sembuh.
Mendengar jawaban Tari, sang dokter
tersenyum hambar. Entah apa arti senyumannya. Tapi dilihat dari tatapan
matanya, ia terlihat iba. Di ujung perpisahan sang dokter berpesan agar
menelponnya bila terjadi sesuatu.
Terungkapnya Sebuah
Tabir
“Tari, kayaknya ini teh disfungsi ginjal. Masalahnya kalau
cuman infeksi aja, sembuhnya pasti cepet.” Bu Oce, terapis Tari menyatakan
diagnosanya setelah satu jam melakukan terapi. Tari hanya mengangguk-anggukkan
kepala. Yang ia tahu, artinya ginjalnya mengalami penurunan fungsi. Sama persis
seperti yang terjadi pada jantungnya.
Hati Tari baal mendengar kabar
seperti itu. Ia tak merasakan apa-apa, tak ada emosi sama sekali. Mungkin ia
bingung karena musibah yang datang bertubi-tubi. Belum selesai satu musibah,
musibah yang lain sudah datang menyusul.
Tari tak tahu harus bagaimana
berekspresi. Boleh jadi yang dikatakan terapisnya memang benar. Masalah- nya,
paru-parunya saja sudah terasa ringan, tapi kondisi ginjalnya tidak banyak
mengalami perubahan yang berarti.
“Maksudnya apa Bu?” Rijal meminta
penjelasan.
“Tampaknya ada kerusakan pada ginjal,
jadi fungsi ginjalnya menurun. Tapi kayaknya fungsinya masih di atas lima puluh
persen.” Sang terapis terdiam sejenak sebelum akhirnya meneruskan kata-katanya.
“Saya mengatakan ini dengan penuh pertimbangan. Saya inget-inget, kakak saya
kan gagal ginjal juga. Gejala yang dialaminya sama persis dengan yang dialami
oleh Tari. Saya juga baca-baca di internet. Akhirnya, ini kesimpulan saya.
Terus, dicek juga gula darahnya. Saya takut ada diabetes juga. Gula darah
sewaktu saja kalau ga bisa puasa mah.“
Saum… Gumam Tari dalam hati. Romadhan
kemarin saumnya diganti fidyah. Tari tak sanggup saum. Pernah dicoba saum
sehari. Semakin siang, ginjalnya semakin terasa sakit. Begitu waktu menunjukkan
pukul empat, tubuhnya sudah tidak bisa mengeluarkan urin lagi. Ginjalnya pun
terasa sangat sakit. Hal itu berlangsung sampai buka tiba. Bahkan ketika adzan
isya berkumandang, urin yang dikeluarkan dari tubuhnya masih sangat sedikit.
Karena itulah, sebulan penuh Tari tidak saum.
Diet yang Menyiksa
Sepulang terapi, Tari mencari
informasi tentang gagal ginjal di internet. Ia menemukan banyak artikel. Tari
membaca artikel itu satu per satu dengan seksama, ia mencoba menghubungkan
dasar pemahaman Biologi dan Biokimia yang ia punya dengan artikel-artikel yang
didalaminya. Hasilnya adalah berita baik dan berita buruk.
Berita buruknya, semua keanehan yang
terjadi pada tubuh Tari mengarah pada satu kesimpulan: gagal ginjal.
Pengeluaran urin yang berlebihan, ditemukannya protein dalam urin, bahkan kadar
kretinin dalam darah yang melebihi batas normal sudah cukup untuk menjadi dasar
dugaan seseorang terkena penyakit ginjal kronis, atau lebih populer dengan
sebutan gagal ginjal.
Lagi-lagi apa yang menimpa Tari
mendapat “vonis mati”. Gagal ginjal bersifat irreversible, ginjal tak mungkin kembali sehat. Semua pengobatan
yang dilakukan hanyalah untuk mengendalikan gejala, meminimalkan komplikasi,
dan memperlambat perkembangan penyakit. Bila kerusakan ginjalnya sudah sangat
parah, seseorang harus menjalani dialisis atau bahkan cangkok ginjal.
Berita baiknya adalah, Tari bisa
menepis dugaan ia terkena lupus. Infeksi hati, ginjal, dan paru-paru yang
datang beruntun membuat Tari dan Sari berspekulasi mengenai serangan lupus.
Tapi bu Oce mengatakan gejala penyakit yang dialami Tari berbeda dengan
pasien-pasien lupus yang telah dan sedang ia tangani. Ia lebih yakin Tari
terkena gagal ginjal daripada lupus.
Menurut kedokteran barat, gagal
ginjal memang tak bisa disembuhkan. Berarti sekali lagi Tari harus berusaha
keras meyakinkan hatinya bahwa tubuh manusia bisa menyembuhkan dirinya sendiri.
Perjuangan meneguhkan hati kalau
jantungnya bisa disembuhkan tanpa pisau bedah saja sudah begitu melelahkan.
Sekarang vonis itu menimpa pada ginjalnya. Rasanya habis sudah dayanya. Tari
ingin menguap saja dari permukaan bumi menjadi partikel-pertikel gas. Berlari
bersama angin menanggalkan semua beban yang menggelayuti pundaknya.
Berdasarkan informasi yang ia dapat
dari internet, diet gagal ginjal lebih menyiksa dibandingkan dengan diet yang
sudah ia jalani dua tahun terakhir. Makanan yang bisa disantap menjadi semakin
sedikit. Kali ini Tari harus membatasi makanan berprotein tinggi, menghindari
kacang-kacangan, termasuk makanan turunannya seperti tahu dan tempe. Mengkonsumsi
makanan rendah kalium dan zat besi serta ia pun masih harus memperpanjang diet
rendah lemaknya.
Artikel-artikel itu menjelaskan
banyak hal. Menjelaskan kenapa perutnya selalu kembung setelah menyantap
makanan favoritnya, lotek. Ternyata kacang tanah–yang kaya akan purin, membuat
ginjalnya bekerja lebih berat. Hal yang sama akan terjadi bila
Tari menyantap pisang agak banyak. Pisang dan kacang tanah mengandung kalium
tinggi yang juga memberatkan kerja ginjalnya. Tari pun menjadi tahu kenapa
staminanya bisa ambruk. Gagal ginjal saja membuat orang cepat sekali merasakan
lelah. Apalagi bila ditambah komplikasi dengan sakit jantung sepertinya.
Pastinya kelelahan lebih cepat menyerang.
Lebih parah lagi bila Tari
mengkonsumsi makanan yang mengadung pengawet−natrium benzoat. Dampak yang ia
rasakan bukan hanya perut kembung, tapi juga disusul dengan rasa pegal, panas,
dan pedih pada pinggang bagian belakang.
Bahkan ada snack rasa keju yang tidak hanya menimbulkan rasa pegal, panas, dan
pedih pada ginjalnya, namun juga bisa menyebabkan Tari mengalami sariawan
sehari sesudah mengkonsumnsi snack
tersebut. Padahal Tari hanya menyantap sanck
itu sebuku ibu jari saja!
Lotek, pisang goreng, kolak pisang,
pisang keju, pisang molen, rendang, gulai, sate kambing, ayam goreng, tempe
goreng garing, tempe dan tahu bacem, tempe kering, oseng tempe, tempe tepung,
pepes tahu, udang tepung, peuyeum goreng, urap kangkung, urap singkong, urap
jagung, tumis genjer dan oncom, terung balado, keripik pisang, keripik
singkong, bunga kol, ulukutek leunca,
dan segudang makanan tiba-tiba menjadi terlarang baginya–kalaulah tidak disebut
haram. Siapa yang tahan dengan diet macam itu?
Akhirnya, Tari mencoba-coba makanan
yang paling nyaman di ginjalnya. Asalnya Tari menyantap sayur sop atau jagung
rebus setiap hari. Namun ternyata kedua makanan tersebut masih saja menyebabkan
ginjalnya tak nyaman.
Setelah hampir setahun trial and error, Tari mencoba
menggunakan jamur tiram sebagai lauk. Ternyata ginjal Tari merasa nyaman. Tari
pun mendapat satu kesimpulan. Sayuran yang paling aman untuk disantap dan yang
paling mudah pengolahannya adalah jamur tiram. Harga jamur tiram pun cukup
murah.
Hanya saja, kadang sulit mendapatkan
jamur tersebut. Bila sudah begitu, Rijal harus berkeliling dari satu warung ke
warung yang lain demi mendapatkan sebungkus jamur. Tak jarang jamur tiram tidak
berhasil didapat. Alhasil, Tari hanya makan nasi putih seharian.
Semula Tari hanya merebus jamur
bersama bawang. Bawang tidak ditumis terlebih dulu, karena minyak kelapa
mengandung lemak jenuh yang tinggi. Ia tak mau memperberat kerja ginjalnya.
Menurut artikel yang ia baca, minyak jagung cukup aman digunakan untuk menumis.
Namun harga minyak jagung enam kali lipat harga minyak kelapa. Mereka tak
sanggup membelinya.
Tapi setelah beberapa bulan
mengkonsumsi jamur rebus, Tari mulai merasa bosan dengan bau langu jamur dan
bawang. Akhirnya Rijal memaksakan diri membeli minyak jagung. Sekarang, makanan
Tari jadi lebih “berasa”.
Setelah mengetahui seluk beluk gagal
ginjal, Tari memutuskan untuk berhenti mengajar di sekolah. Dan melepas para
murid privat. Sehingga yang tersisa hanya seorang murid saja yang datang ke
rumah. Rumah murid tersebut dekat dengan rumahnya.
Kehidupan Rijal dan Tari berubah
total. Selain berhenti mengajar, Tari berhenti melakukan pekerjaan rumah
tangga. Rijal yang mengerjakan semuanya. Hanya memasak nasi yang masih
dilakukan Tari. Selebihnya, Tari banyak menghabiskan waktu di atas tempat
tidur.
Tanyaku Terjawab
Sudah
Malam ini Tari tak bisa tidur. Tak
sekejap pun matanya bisa terpejam. Itu artinya ia harus bolak-balik ke kamar
mandi. Karenanya, Tari pun memutuskan untuk pindah tidur ke ruang tamu. Agar
kegiatannya ke kamar mandi tidak mengganggu tidur suaminya.
Semakin malam, Tari merasakan
tubuhnya be- reaksi sangat tidak wajar. Rasa gatal yang hampir setahun ini
selalu menyerang, seolah menggila. Rasanya setiap jengkal tubuh Tari didera
rasa gatal yang teramat sangat.
Kepekaan merespon sentuhan pun jadi
berkurang. Tubuhnya seolah mati rasa. Tari bolak-balik ke kamar mandi, tapi
urin tidak bisa keluar dengan lancar dari tubuhnya. Sedikit sekali urin yang
bisa dikeluarkan.
Rijal yang sempat tertidur pun
kembali terbangun karena mendapati Tari tak berada di kamar.
“Umi… kenapa tidur di sini?” Rijal
yang masih setengah mengantuk menghampiri istrinya yang terbaring di kursi
panjang. Ia lalu berlutut
di samping Tari. Tubuh Tari dibalut handuk dan tertutup
sajadah. Udara malam di tempat tinggal Tari terkadang sangatlah dingin.
Layaknya di pegunungan.
Karena mereka tak memiliki selimut
cadangan, Tari menggunakan handuk dan sajadah untuk meng- hangatkan tubuh
ringkihnya.
“Umi…” suara Tari tercekat di
tenggorokan. “Ga bisa tidur…” Tari berusaha menyelesaikan kalimatnya. Tetes
bening mulai menuruni pipi kurusnya. Bahunya kembali berguncang.
“Minum klorofil aja ya?” tanya Rijal
lembut. Kini tangannya sibuk menghapus tetes bening di pipi Tari. Tari hanya
mengangguk lemah. Akhirnya Rijal memberi Tari minum suplemen dengan dosis dua
kali dari biasanya. Beberapa saat kemudian, Tari bangkit dari posisi tidurnya.
“Mau ke mana Mi?” Rijal membantu Tari
bangun.
“Pipis…”
“Mau digendong?”
“Ga usah… sendiri aja…” Tari sedikit
terhuyung ketika berjalan menuju kamar mandi. Sementara Rijal mengikutinya dari
belakang. Sepulang dari kamar mandi, Rijal menyuruh Tari kembali tidur di
kamar.
Menjelang dini hari, akhirnya Tari
tertidur. Setelah adzan subuh, Tari kembali terbangun.
“Mi, kita ke Rumah Sakit Ginjal aja
ya?” Rijal menatap Tari dengan wajah lelah. Sorot matanya menyiratkan
kekhawatiran. Ia lalu mengambil posisi duduk di samping Tari. Tari menggeleng
lemah.
“Kenapa Mi?” Rijal meraih tangan
kurus Tari dan mengelusnya.
“Kalau kita ke Rumah Sakit Ginjal,
diagnosanya akan kembali dari awal lagi. Kita akan disuruh ke lab lagi. Kita
kan gak punya uang…” jawab Tari lemah.
Mereka sudah menghabiskan banyak uang
untuk berobat. Tari tak mau menghabiskan lebih banyak uang lagi.
“Ga apa-apa, kita coba aja. Biar
jelas umi teh kenapa…” ada harapan yang ditangkap Tari dari nada suara
suaminya.
Tari hanya diam, tapi akhirnya ia
menurut juga. Dengan hati gamang, Tari menyiapkan segala keperluan. Air minum,
tissue toilet, berkas-berkas pemeriksaan laboratorium, semuanya masuk ke dalam
ransel Rijal.
Sesampainya di rumah sakit ginjal,
seperti yang Tari duga, sebelum bertemu dokter, Tari disarankan untuk melakukan
pemeriksaan urin. Namun Rijal minta bertemu dengan dokter terlebih dulu sebelum
pergi ke lab. Ia ingin mengobrol panjang lebar karena selama ini mereka belum
pernah mendapatkan pandangan secara medis mengenai penyakit Tari. Kebetulan
saat itu tak ada satu pun pasien yang mengantri selain mereka.
“Ibu Mentari, apa pekerjaannya?”
Dokter muda yang berambut sebahu itu bertanya dengan sangat ramah. Bahkan ia
sempat tersenyum.
“Guru Dok!” Tari membalas
senyumannya.
Setelah menuliskan pekerjaan Tari
dalam rekam medis yang diberikan resepsionis, ia pun menanyakan keluhan yang
dirasakan. Tari bercerita selengkap- lengkapnya tentang sakit yang telah lama
ia derita. Mulai dari gangguan jantung karena kecelakaan yang menimpanya sampai
kejadian kemarin malam. Sang dokter mendengarkan dengan seksama sambil melihat-
lihat berkas pemeriksaan lab terdahulu.
“Hmm… Gini aja, coba ibu periksa lagi
ke lab. Kalau masih ada protein di urinnya, berarti ginjal ibu bocor.
Nanti ibu ga usah
datang lagi ke sini.
Langsung aja ke spesialis ginjal. Nanti saya kasih
alamatnya. Terus, gula darahnya dicek juga sekalian. Soalnya, diabetes juga kan
sama, kencing terus, ada gatal juga. Kalau yang ini, cuma pemeriksaan gula
darah sewaktu, saya kurang yakin kalau dengan data ini saja. Coba periksa gula
darah puasa dan sesudah makan ya! Tapi kalau tidak ada protein, ga usah ke
dokter ginjal.”
Ini yang mereka butuhkan. Seorang
dokter yang bersedia mendengarkan keluhan mereka dengan hati-hati. Tidak
menyimpulkan apa-apa sebelum mereka selesai menguraikan semuanya serta tidak
terburu-buru memberikan secarik resep. Sang dokter pun dengan terperinci
memberi penjelasan pada mereka.
Selama ini mereka tidak bisa
berbicara dari hati ke hati dengan para dokter. Para dokter tersebut tidak bisa
menjawab tanda tanya besar yang ada dalam benak mereka dengan jelas. Para
dokter itu selalu dikejar-kejar waktu. Pasien yang mengantri di belakang mereka
puluhan orang.
“Dok, kalau misalnya ginjalnya bocor,
pola makannya bagaimana? Ga boleh makan protein?” Rijal yang selalu over protektif masalah makanan Tari
memanfaatkan momen berharga ini untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya.
“Protein boleh dikonsumsi, tapi
dibatasi. Hanya saja, kurangi garam dan makanan yang berkalium tinggi.”
Semua penjelasan dokter sama persis
dengan artikel-artikel yang dibaca Tari. Ia memang bukan dokter spesialis
ginjal, namun ia sudah terbiasa menangani pasien-pasien dengan gangguan ginjal.
“Makanya saya kasih ke dokter
perempuan biar bisa banyak tanya. Perempuan kan biasanya lebih cerewet.” sang
dokter tersenyum.
“Ia akan memberi penjelasan tanpa
harus diminta.” lanjut sang dokter kemudian.
“Kira-kira berapa biayanya ke dokter
spesialis ginjal ya Dok?”
Aduh
suamiku… Kalau yang begitu tanyanya ke resepsionis saja. Tari berkata-kata dalam hati. Sang
dokter tersenyum.
“Saya kurang tahu, mungkin kisaran
seratus ribu. Tapi jangan khawatir, guru kan bisa pake Askes!”
Tari ingin tertawa terbahak-bahak. Askes? Asuransi dari mana? Dari Hongkong?
“Saya guru honor Dok! Belum PNS.”
akhirnya Tari hanya bisa tersenyum. Getir. Di republik ini, orang kere macam
mereka diharamkan sakit.
“O…” Sang dokter membulatkan
mulutnya.
Setelah mendapat informasi yang
lengkap, mereka pun berpamitan. Tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih.
Mereka langsung pulang ke rumah dan tidak pergi ke lab seperti yang disarankan
dokter. Masalah biaya. Lagipula, semua tanda tanya terjawab setelah
berkonsultasi dengan dokter tadi. Tari menjadi semakin yakin bahwa ia terkena
gagal ginjal. Penjelasan dokter menguatkan dugaan terapisnya.
Namun Tari tidak habis pikir dengan
dokter-dokter lain yang ia datangi sebelumnya. Kenapa mereka tidak jeli
memeriksanya? Bukankah adanya protein dalam urin adalah hal janggal yang sangat
tidak wajar? Bukankah pengeluaran urin secara besar-besaran pun sudah
menunjukkan adanya masalah di ginjalnya? Belum lagi kadar kreatinin yang
melebihi batas normal?
Andai saja diagnosa gagal ginjal
sudah disebutkan dari awal, mungkin kondisinya tidak akan memburuk seperti sekarang. Penanganan
diet yang tepat pastinya akan sangat meringankan penderitaannya.
Setahun kemarin Tari banyak melakukan kesalahan dalam memilih makanan karena
ketidaktahuannya mengenai sakit yang ia derita.
Mengenai kadar gula darahnya, Tari
mempunyai kesimpulan sendiri. Garis keturunan bapak dan mama bebas dari
diabetes. Tari menduga rendahnya kadar gula darahnya karena ginjal yang tidak
berfungsi normal.
Ginjal berfungsi untuk menyerap
asam-asam amino hasil dari pemecahan protein serta menyerap kembali air dan
gula. Ginjal juga berfungsi membuang limbah sisa metabolisme seperti amonia,
obat-obatan, serta kelebihan garam.
Bila ginjal rusak, maka akan terjadi
gangguan penyerapan kembali zat-zat yang diperlukan tubuh. Pembuangan limbah
dari dalam tubuh pun akan terganggu.
Mungkin gula lolos bersama urin
karena gagal diserap kembali oleh tubuh. Sehingga wajar bila gula darahnya
sangat rendah, hanya 80 mg/dL. Jauh lebih rendah dari batas normal. Gula darah
normal berkisar 140 mg/dL. Selain gula, protein pun lolos bersama urin. Bila
diperiksa di lab, akan ditemukan protein dalam urin. Yang lebih menyedihkan,
tubuh akan keracunan karena limbah sisa metabolisme tidak bisa dikeluarkan. Hal
ini ditandai dengan rasa gatal di sekujur tubuh.
Sebetulnya Tari tak mau menyimpulkan
apa-apa mengenai kondisi tubuhnya. Tari sama sekali tidak mempunyai pengetahuan
kedokteran. Tapi ia terpaksa. Uang mereka tidak cukup untuk bolak-balik ke
dokter spesialis dan pergi ke lab. Terlebih beberapa dokter yang sudah ia temui
pun tidak bisa memberikan jawaban pasti mengenai kondisi penyakitnya.
“Hhh… capek…” keluh Tari.
Badannya terasa remuk. Tak berbentuk.
Pegal merayapi setiap persendian. Tari langsung memburu tempat tidur. Lalu
terkapar tak berdaya. Tenaganya terkuras habis. Ia membiarkan jaket dan kaus
kaki yang masih membalut tubuhnya. Kerudung pun tidak segera ia lepas.
“Gimana atuh Mi?” tanya Rijal sambil
duduk di samping Tari. Ia meminta kepastian akan sikap Tari.
“Udahlah, umi dah lumayan enakan kok.
Pipisnya juga udah lancar. Emang sih ginjalnya masih panas, perih, pegel, tapi
badan umi dah ga baal lagi.” Tari terdiam sebentar. Menarik napas. Mencoba
melonggarkan sesak yang menghimpiti dadanya.
“Sebenernya umi bukannya gak mau ke
rumah sakit ginjal, tapi ya… itu… kita gak punya uang. Mending kalau satu kali
ke lab langsung ketahuan penyakitnya. Kalau enggak? Kita kudu ke lab lagi, ke
dokter lagi. Terus bolak-balik. Berapa duit tuh cuman buat diagnosa doang?”
Rijal terdiam. Ia selalu mengatakan,
bila ia punya banyak uang, ia akan membawa Tari general check up agar jelas secara medis apa penyakitnya. Sehingga
penanganan diet tidak lagi meraba-raba.
“Lagipula, umi dah yakin kalau umi
kena gagal ginjal...”
“Ya udah atuh kalau gitu mah.” Rijal mengalah. Ia lalu termenung. Seperti
memikirkan sesuatu.
“Atau Mi, cobain aja ke Cicaheum?
Katanya sama pake transfer energi juga. Mungkin bisa cocok ke sana.”
Tari bangkit dari posisi tidur. Ia
membuka jaket dan kaos kaki serta kerudungnya. Ternyata cuaca hari ini sangat
panas. Tapi tetap saja tak sanggup
membuat tu- buhnya mandi
keringat.
Hanya sedikit saja keringat di kening
Tari yang sempat tercipta.
“Abi… umi kan dah bilang, umi ga mau
ambil resiko. Kalau umi pindah terapi, energi yang masuk belum tentu sama. Umi
takut malah mengobrak-abrik susunan energi yang udah ada dalam tubuh umi. Nanti
malah tenaga bu Oce ga bisa masuk. Kalau udah begitu, jangan- jangan umi ga
bisa balik lagi ke bu Oce.”
“Tapi Mi, katanya tenaganya lebih
besar dari bu Oce. Kalau berobat di sana, mungkin umi bisa cepat sembuh!” Rijal
mencoba menguatkan argumennya.
“Abi… umi sudah ditangani oleh
terapis terbaik. Umi pun sudah mendapat suplemen dengan kualitas terbaik.
Kalaupun kesembuhan umi lambat, itu karena sakit umi kebanyakan. Jadinya, obat
atau energi juga bingung mau ngobatin mana dulu. Tapi kan sebenernya bronkhitis
umi, liver, maag, kista, penyempitan pembuluh darah, semuanya udah mendingan?”
Bahkan nyawa anak ayam kesayangan
mama bisa terselamatkan oleh salah satu suplemen yang dikonsumsi Tari. Mama
memberi anak ayamnya ekstrak daun alfalfa. Padahal, lidah si ayam sudah hampir
putus karena terjerat tali.
Tari menelan ludah sebelum
melanjutkan kalimat berikutnya. Suaranya tersekat, ada tangis yang tertahan.
“Untuk gagal ginjal dan jantungnya,
wajar aja kalau sembuhnya lama. Orang secara medisnya juga gak mungkin sembuh
kan? Lagian, namanya juga jaringannya rusak, pasti perlu waktu untuk
memperbaikinya.”
Pff…
syukurlah tak ada butir bening yang melelehi pipiku. Bisik Tari dalam hati.
“Abi ga seneng dengan kata rusak.
Seolah-olah mendramatisir keadaan. Pake bahasa yang lain saja!”
“Umi mencoba realistis, bukan
mendramatisir! Memang pada kenyataannya ginjal umi rusak! Secara medis, gagal
ginjal itu menurunnya fungsi ginjal. Kenapa fungsi ginjalnya menurun? Karena
ada kerusakan di ginjalnya! Cuman tingkat kerusakannya yang berbeda- beda
setiap stadiumnya!” suara Tari mulai meninggi.
Perdebatan yang selalu sama. Masalah
bahasa. Ia sudah menerangkan berkali-kali. Tapi masih saja kata “rusak” menjadi
masalah.
“Umi bukan orang yang senang
memperhalus bahasa. Salah-salah, ketika bahasanya diperhalus malah mengaburkan
makna yang seharusnya. Kalau kita sudah tahu kondisi yang sebenarnya, kan
penanganannya jadi tepat.” suara Tari melembut. Rijal terdiam mendengar argumen
Tari.
Latar belakang pendidikan yang
berbeda membuat mereka sering perang argumen. Sebagai seorang mahasiswa jurusan
kimia, Tari dipaksa untuk pandai menganalisis masalah. Kalau tidak mahir, Tari
tak akan pernah bisa memecahkan soal-soal perkuliahan. Sedikit banyak ia pun
tahu tentang tubuh manusia. Selain karena tuntutan pendidikan, Tari pun senang
membaca artikel- artikel kesehatan. Sedang Rijal berlatar belakang pendidikan
sosial. Ia seringkali menilai suatu “kasus” dengan sudut pandang yang berbeda dengan
Tari.
“Trus, maunya umi gimana?”
“Umi ga mau coba-coba lagi. Umi kan
dah bilang, umi dah ditangani oleh terapis terbaik dan mendapat suplemen dengan
kualitas terbaik juga!” Jangan sebut ia Mentari kalau argumennya bisa
dipatahkan begitu saja.
Akhirnya mereka sepakat untuk tidak
pergi ke rumah sakit lagi. Karena semua pertanyaan mereka telah dijawab oleh
pandangan ahli medis. Sang dokter.
Baru Tersadar
“Umi kenapa?” Rijal yang baru kembali
dari kamar mandi terkejut mendapati Tari tergugu sambil membenamkan wajah di
atas kasur. Tari bahkan belum beranjak dari posisi tahiyat terakhir selepas
solat berjamaah tadi.
Semua masalah yang datang
bertubi-tubi membuat pertahanan jiwa Tari runtuh. Porak poranda tak jelas
bentuk. Jiwanya kian merapuh. Tari merasakan lelah yang teramat sangat.
Tari sudah berjuang bertahun-tahun
melawan arus. Di kala para dokter menggelengkan kepala untuk kesembuhan
jantungnya tanpa operasi, Tari bersikukuh bisa sembuh tanpa pisau bedah. Tapi
ketika setitik harapan mulai terlihat, musibah yang lain datang lagi. Lebih
dahsyat. Vonis gagal ginjal pun dijatuhkan padanya.
Terkadang
ia ingin berhenti saja. Berhenti memper- juangkan apa yang ia yakini. Menyerah
pada perkataan banyak orang. Tapi
ternyata Tari tak bisa menghentikan
mimpinya.
Karena hanya mimpi yang ia punya. Hanya mimpi.
Beban jiwa terkadang membuatnya
memberontak. Tari menggugat. Ia merasa semuanya tidak adil. Tari berusaha keras
menjaga kesehatannya. Menjaga pola makannya. Bahkan karena ketatnya menjaga
pola makan, Tari dicap sebagai orang aneh.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun bisa
dihitung dengan jari berapa kali Tari menyantap bakso. Pada saat kebanyakan
gadis seusianya memasukkan makanan berbentuk bola itu ke dalam menu makanan
wajib mereka, Tari mengekang diri untuk tak menyentuhnya.
Bakso kampung–begitu sebutan bagi
bakso yang dijajakan dengan gerobak berkeliling pemukiman, sering memakai
bahan-bahan yang tidak layak dikonsumsi: cuka anorganik, saus dengan pewarna
tekstil, dan MSG dalam jumlah yang sangat banyak.
Tari bukan orang yang maniak terhadap
rasa pedas. Ia pun termasuk orang yang makan dengan teratur. Kalau bukan karena
tak sempat untuk makan siang di luar, Tari selalu makan tiga kali sehari. Tari
bukan orang yang tahan tidak makan seharian atau memilih mengemil daripada
makan.
Padahal setelah menderita sakit
jantung, Tari sering sekali kehilangan selera makan. Tapi Tari tetap memaksakan
diri menyantap makanan. Ia makan hanya untuk bertahan hidup.
Kalaupun nasi tidak tampak menarik
lagi, Tari menggantinya dengan makanan lain yang sekiranya memenuhi standar
kebutuhan nutrisi. Lotek lengkap dengan lontongnya, semangkuk bubur ayam atau
bubur kacang−kadang ditambah dengan roti tawar, kadang- kadang semangkuk sop
buah pun bisa jadi pengganti.
Bukankah selain halal, makanan juga
harus thoyyib, baik, tidak
menimbulkan kemudorotan? Tari terus memegang prinsip itu.
Ia pun rela menyisihkan uang sakunya
hanya agar bisa menenggak segelas atau dua gelas susu setiap hari.
Selain itu, ia masih menyempatkan
diri untuk melakukan olah raga ringan selama setengah jam. Dua kali seminggu.
Tapi ia merasa semuanya sia-sia.
Lihat saja ia sekarang, terkapar tak berdaya. Tari iri pada orang-orang, mereka
hidup semaunya, tapi mereka baik-baik saja.
“Berhenti nangisnya atuh mi…” Bujuk
Rijal sambil mengelus kepala Tari.
“Lepas!” alih-alih menghentikan
tangis, Tari malah mengibaskan tangan Rijal. Air mata semakin deras menuruni
pipi Tari. Bahunya berguncang keras. Tangisnya semakin menjadi.
“Udah mi, nanti jantungnya sakit
lagi…” pinta Rijal dengan suara lirih. Tangannya mencoba meraih Tari kembali.
Gurat kekhawatiran tergambar begitu jelas di wajah Rijal.
“Pergi!” suara Tari terpotong oleh
isak tangis. Ia kembali mengibaskan tangan Rijal. “Tinggalin aja Umi!”
“Umi…” Rijal mendekap tubuh kurus
Tari. Tari meronta. Sekuat tenaga ia mencoba melepaskan diri dari dekapan
Rijal. Dalam usahanya itu, bahu dan lengan Tari beradu berkali-kali dengan
pinggiran ranjang yang terbuat dari besi. Tapi Tari tak peduli. Ia terus
meronta.
Akhirnya Rijal mengalah. Ia
melepaskan dekapan- nya. Sekarang Rijal hanya bisa memandangi istrinya.
Sementara Tari mendekap lututnya sendiri sambil menangis tersedu. Rijal benar,
dadanya mulai terasa sesak. Napasnya tersengal. Jantungnya sakit.
Lima menit, tujuh menit, sepuluh
menit, entah berapa lama Tari menangis.
Setelah tangis Tari berhenti, Rijal
mencoba meraih tangan Tari. Tari berusaha menghindar. Tapi tenaganya sudah
terkuras habis. Tari tak kuasa mengibaskan tangan Rijal. Ia hanya bisa melarang
Rijal dengan suara lemah “Pergi…”
Rijal tak menghiraukan larangan Tari.
Ia mem- bimbing Tari naik ke atas tempat tidur dan mem- baringkannya. Rijal
lalu membujuk Tari agar menceritakan apa yang tengah ia rasakan. Apa yang telah
terjadi padanya. Awalnya Tari hanya diam. Ia
enggan berbagi perasaan yang tengah bergejolak dalam hatinya.
“Umi capek…” sesaat kemudian Tari
membuka mulut. “Umi tahu, semua yang menimpa umi adalah yang terbaik. Tapi
kenapa semuanya serba sulit bagi umi…” air mata Tari kembali meleleh, menuruni
pipi yang sedikit berdaging.
“Jadi wanita, umi ga sukses. Jadi
istri, umi ga becus. Jadi ibu, ga diberi kesempatan. Umi merasa tak berguna…”
Hampir dua tahun pernikahan, tapi Tari belum bisa mempunyai anak. Tubuhnya
terlalu lemah untuk menopang kehidupan dua nyawa. Kalaupun hamil, tubuhnya akan
mengusir sang janin keluar dari rahimnya. Tanpa ampun.
“Selama ini umi menerima semuanya.
Umi ga pernah mengeluh. Padahal, orang-orang yang peng- hasilannya jauh lebih besar,
orang-orang yang kesehatannya jauh lebih baik dari umi, mereka sering
mengeluh…” sisa isak hendak berubah menjadi tangis.
Rijal menghela napas demi mendengar
penuturan istrinya. Sebelum akhirnya bersuara. “Umi, dari awal kita nikah, gak
pernah terbersit sedikit
pun di pikiran
abi
bahwa
umi itu lemah, tak berguna. Itu hanya perasaan umi saja.” Rijal terdiam
sejenak. Ia menyeka air mata yang kembali menetes di pipi Tari.
“Hati-hati, setan akan membisikkan
hal-hal itu ke dalam hati umi. Kalau umi terus begini, abi akan marah! Ibadah
umi adalah bersabar. Ibadah abi, ya seperti ini, jadi bapak rumah tangga.
Mungkin kehidupan kita memang harus seperti ini. Berbeda dengan orang lain. Umi
baca majalah yang di bu Oce?”
“Iya…” Tari menjawab lemah.
“Apa katanya?”
“Katanya, orang yang sakit akan
mendapatkan pahala yang sama dengan ketika ia sehat dan melakukan amal soleh…”
Tari menarik napas panjang. Menangis membuat perasaanya sedikit lega. Seolah
beban di pundaknya menjadi berkurang.
“Lagian, abi dah bilang berkali-kali
tentang hal ini kan?”
“Tiga… kali…” jawab Tari
tersendat-sendat.
“Apa?” Rijal mengerutkan dahi, tak
mengerti maksud ucapan Tari.
“Abi udah bilang hal ini tiga kali…”
Tari me- negaskan jawabannya.
“Nah? Itu masih inget!”
Plak. Tangan kanan Rijal menepuk
kening Tari. Dengan satu kali tepukan pelan.
“Ah… abi mah… Seneng banget ngegeplak jidat umi…” Tari manyun.
Sementara Rijal tertawa kecil. Memang hobinya melakukan hal seperti itu bila
Tari berbuat kesalahan atau kebodohan macam tadi.
“Kita harus bersyukur pada apapun
yang menimpa kita. Walau hanya sedikit kemajuan yang umi alami, syukuri! Kalau
akhirnya umi tidak
sembuh pun, harus
tetap
disyukuri. Masih banyak orang yang kehidupannya lebih sulit dari kita.”
Tari terdiam. Ridho menerima semuanya adalah satu hal. Bersyukur adalah hal yang
lain.
Membuat hatinya ridho adalah hal yang sulit. Sedang untuk bersyukur, adalah hal
yang jauh lebih sulit lagi. Sangat sulit bersyukur sementara musibah datang
bertubi-tubi.
“Umi juga harus bersyukur dapat suami
kayak abi. Coba kalau Umi dapat suami yang banyak nuntut? Kan Umi jadi repot
sendiri!”
Tari mengangguk pelan. Suaminya
benar. Tari tak bisa membayangkan bila suaminya tidak bisa menerima kondisi
fisiknya. Bagaimana jadinya?
Tari bisa merasakan tulusnya kasih
sayang yang Rijal berikan. Selama satu tahun lebih semenjak Rijal menikahinya,
hampir setiap hari Rijal mengirimkan SMS. Padahal mereka hanya berpisah
beberapa jam selama Rijal pergi ke kantor saja.
Dalam SMS-nya, Rijal sekedar
menanyakan ke- adaan Tari, mengingatkannya makan, minum suplemen, serta
melarangnya memaksakan diri dalam beraktifitas, baik dalam mengerjakan
pekerjaan rumah ataupun ketika mengajar di sekolah.
Pasalnya, bila sedang beraktifitas di
luar rumah, Tari selalu lupa bila fisiknya tidak seperti orang lain. Tari
termasuk orang yang sangat lincah. Bahkan seringkali lebih lincah dari
orang-orang “normal”.
“Pura-pura sehat.” begitu komentar
seorang adik kelasnya bila melihat Tari sudah bertingkah.
Rijal baru berhenti mengirimkan SMS
setelah kondisi tubuh Tari membaik. Namun, bila kondisinya memburuk. Ia pun
kembali mengirimkan SMS.
“Jantungnya sakit mi?” tanya Rijal
sambil meng- elus kepala Tari.
“Iya…” Tari tersenyum hambar.
“Pokoknya sekarang umi ga boleh mikir
macem-macem. Fokus aja sama kesehatan umi. Umi ngerti?” nada suara Rijal cukup
tegas namun lembut.
Sejenak Tari memandangi wajah
suaminya. Sesaat kemudian Tari mengangguk sambil tersenyum. Sekarang bukan
hanya jantungnya yang sakit. Bahu dan lengannya pun terasa sakit. Hasil dari
pertarungan tak seimbang antara tulang dengan besi.
“Sekarang umi istirahat aja! Jangan
banyak pikiran ya!”
Lagi-lagi Tari mengangguk. Dalam
hatinya, Tari bersyukur mendapat suami seperti Rijal.
Mimpi-mimpi
“Emh si umi… abi pergi, lagi tiduran.
Abi pulang, lagi tiduran juga!” Rijal sering menjadikan kegiatan sehari- hari
Tari sebagai candaan. Tapi Tari selalu menjawabnya dengan tawa kekeh.
Sebenarnya sudah sebulan ini badan
Tari sedikit lebih segar. Ia sudah bisa memasak makanannya sendiri dan
menyetrika barang dua atau tiga potong pakaian. Tapi ia belum bisa mengerjakan
hal lain.
Setelah berganti pakaian, Rijal duduk
di samping Tari. Ia menatap wajah Tari lekat, lalu mencubit pipi Tari pelan.
“Perasaan pipinya makin tembem?” Tari
hanya menjawab dengan kekehan. Berat badannya naik dua kilo gram. Namun bila
ginjalnya drop, berat badannya akan kembali ke angka tiga puluh tujuh.
“Dah makan belum Mi?”
“Makan yang ke berapa kali?” Tari malah
kembali bertanya sambil mengulum senyum.
“Lah? Sekarang dah makan berapa
kali?” Rijal membundarkan mata dan membuka mulutnya. Ter- nganga. Ia senang mengolok frekuensi
makan Tari.
“Umi baru makan tiga kali…” Tari
cekikikan melihat ekspresi suaminya.
“Haha… tiga kali kok baru? Emangnya
mau makan berapa kali lagi?” Rijal tertawa gelak.
“Satu kali lagi!” Tari nyengir kuda.
“Nanti makan lagi jam berapa?”
“Jam enam atau setengah tujuh…”
“Ih, dasar gembul!” Rijal kembali
tertawa.
“Biarin…” Tari memajukan bibirnya.
Manyun.
Standar makan Tari adalah empat kali
sehari. Bila kurang, tubuhnya akan lemas. Pegal merayapi setiap jengkal
badannya, kepala sakit, rasanya seperti berputar- putar, dan pandangan menjadi
gelap. Mungkin gula darahnya drop. Bila sudah demikian, ia harus cepat-cepat minum
air gula untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Baru ia bisa menyantap makanan
berat.
“Geser sana! Abi mau berbaring!”
“Ga mau, Abi yang sebelah sana! Umi
kan bolak- balik ke aer. Susah kalo harus melangkahi Abi terus!” Tempat tidur
mereka terjepit oleh tiga dinding. Hanya satu sisi saja yang bebas. Sebenarnya
kamar mereka tidak terlalu sempit, namun bentuknya memanjang. Sehingga tempat
tidur hanya bisa ditempatkan di sudut kamar.
Akhirnya Rijal mengalah. Ia mengambil
posisi berbaring di dekat tembok.
Biasanya sepulang Rijal kerja, mereka
akan berbincang tentang banyak hal. Tentang kondisi tubuh Tari, kejadian di
kantor, kejadian di rumah, pokoknya apapun bisa jadi bahan perbincangan. Bahkan
mereka sering membahas hal-hal
yang menjadi impian
masing- masing. Sebenarnya lebih
banyak membahas mimpi- mimpi Tari.
Diam di rumah tanpa kegiatan membuat
otak Tari terus bekerja. Ide-ide bermunculan dengan serta merta. Mulai dari ide
membuka warung kecil-kecilan sampai bisnis rumah makan. Dari mengelola bimbel
sampai mendirikan sekolah.
Ide yang paling “gila” adalah
mendirikan sebuah sekolah dengan kualitas yang sangat baik tapi biaya
pendidikannya dapat dijangkau oleh kalangan ekonomi menengah. Bahkan, kalau
memungkinkan, sekolah bisa memberikan beasiswa kepada siswa berprestasi yang
berasal dari kalangan ekonomi lemah.
Ia menginginkan guru-guru yang
mengajar di sekolah tersebut adalah guru yang berkualitas bagus dan peduli
terhadap pendidikan. Atas usahanya, para guru akan diberi kompensasi yang
sepadan. Sehingga mereka tidak terlalu pusing memikirkan penghasilan tambahan.
Kurikulum di sekolah pun tidak
menjadikan para muridnya melulu disibukkan oleh pelajaran. Murid-murid akan
dibekali pelajaran hidup. Mereka akan dibekali dengan berbagai keterampilan.
Layaknya yang dilakukan oleh ibu kembar−yang menyelenggarakan pendidikan untuk
anak-anak tidak mampu.
Selain itu, para murid pun akan
didorong untuk menguasai bahasa Inggris baik secara lisan maupun tulisan. Tapi
bukan berarti bahasa pengantar pelajaran di kelas menggunakan bahasa Inggris.
Hal tersebut hanya akan “menyiksa” murid.
Memahami materi pelajaran saja sudah
mem- punyai kesulitan tersendiri. Bila pelajaran disampaikan dalam bahasa
Inggris, tentunya akan lebih menyulitkan murid-murid untuk memahami penjelasan
para gurunya.
Untuk mensukseskan program penguasaan
bahasa asing tersebut, sekolah akan memberikan porsi pelajaran bahasa Inggris
yang lebih banyak serta melengkapi fasilitas pembelajaran dengan berbagai
media. Audio dan visual.
Sekolah pun akan memberi para
muridnya bekal pendidikan agama yang
lebih banyak. Karena Tari yakin, dengan pendidikan agama, akan terbentuk
generasi muda yang beriman sehingga mereka akan selalu berusaha untuk melakukan
hal yang benar. Mereka akan takut bermaksiat. Takut melakukan dosa. Lebih
jauhnya, hal tersebut akan menciptakan generasi anti kejahatan. Anti pergaulan
bebas, anti korupsi, anti suap, anti narkoba, anti miras, dan anti keburukan
yang lainnya.
Satu hal lagi yang sangat diinginkan
Tari ada dalam sekolah yang didirikannya: suasana kekeluargaan. Sama seperti
halnya yang terdapat di sekolah farmasi tempat Tari mengajar dulu.
Loncatan-loncatan pikiran itu
seringkali tidak bisa dihentikan. Bila sudah begitu, kepala Tari akan terasa
pening dan kelelahan menyergap tubuhnya.
Hal yang bisa menghentikan
loncatan-loncatan pikiran itu adalah menonton televisi dan membaca. Tapi
membaca menguras konsentrasi Tari. Membuat tubuhnya kelelahan juga. Jadi,
satu-satunya pengalih pikiran Tari hanyalah televisi.
“Eh Mi, kok tangannya halus?” Rijal
membolak- balikkan tangan kanan Tari sambil meraba-raba jari tengah, jari
manis, dan kelingking.
“Iya Bi, sekarang-sekarang, kalo
ginjalnya enakan, kulitnya jadi halus… Tapi kalo ginjalnya drop, tangannya jadi
ikutan kasar. Kakipun jadi pecah-pecah lagi.”
“Alhamdulillah… Bagus atuh segitu juga!”
“Emang…” Tari tersenyum. Manis.
“Eh Mi, Bi Iyam ginjalnya kambuh
lagi!”
“Oh, gitu? Kok bisa?” Tari
membundarkan mata sipitnya.
“Iya. Katanya mah kebanyakan makan daging sama kacang goreng. Trus kayaknya
kecapekan. Da bi Iyam teh ngajar TK.”
“Ngajar TK? Uluh! Kebayang capeknya!
Belum lagi ngurus dede bayi?” Tari kembali membundarkan mata sambil
menggeleng-gelengkan kepala. Terbayang olehnya kerepotan yang dialami bi Iyam.
Bi Iyam sempat sembuh dari sakit ginjalnya dan bisa mempertahankan kehamilan
sampai bayinya lahir dengan selamat.
“Bi, kalaulah nanti umi diberi
kesembuhan, berarti dietnya harus tetep dijalani ya? Itu bi Iyam juga bisa
kambuh lagi? Trus, umi juga ga boleh over
capek ya? Jadinya, umi ga akan ngajar lagi ah! Mau bisnis aja!” Tari mencecar
Rijal dengan banyak pertanyaan. Rijal ter- senyum. Istrinya memang super
cerewet.
“Nya
sok atuh sembuh dulu!” Rijal menjawab pertanyaan Tari dengan satu kalimat.
Bingung bila dijawab satu-satu.
”Eh Bi, dulu bi Iyam teh kenapa? Kata
emak mah, dokter bilang kalau bi Iyam
udah ga bisa diobatin…” Emak adalah nenek Rijal.
”Sama kayak umi!”
“O… gitu…” Tari pun membulatkan
mulut. “Waktu itu berobat ke mana Bi?” Tari selalu penasaran dengan banyak hal.
“Berobat ke alternatif. Ada di
kampung. Pake jamu ama dipijit. Trus pake terapi jus juga.”
“Emang sakitnya udah berapa lama gitu
Bi?” tanya Tari lagi penasaran.
“Abi juga gak tahu. Tapi pastinya
lebih dari tujuh tahun.”
“Ha? tujuh tahun? Lama amat?” mata
Tari ter- belalak. Sejenak ia terdiam.
“Bi, bi, bi, kalo umi dikasih
kesempatan untuk sembuh dan punya dede, umi akan urus dia dengan tangan umi
sendiri! Ga akan dititip-titip ke siapa-siapa. Bahkan, kalo ada rizki, umi
bakalan bikin sekolah sendiri. Mulai dari TK sampe SMP. Trus, si dede akan umi
didik menjadi orang yang bertanggung jawab, disiplin, tegas, dan mandiri!
Tentunya harus beriman!” Tari sering mengalihkan pembicaraan ke sana ke mari.
Tinggal di rumah selama dua puluh empat jam membuat ke- mampuan komunikasinya
juga menurun. Hal ini sering ia lakukan tanpa sadar.
“Ibu kita yang satu ini… banyak maunya!”
Rijal tertawa kekeh melihat tingkah
laku istrinya. Ia lalu bangkit dan turun dari tempat tidur. Ia mengambil posisi
berdiri di depan cermin sambil mendekatkan wajahnya ke cermin.
“Ga ada salahnya bermimpi kan Bi?
Kali aja diaminin sama malaikat.”
“Amiin..” Rijal mengamini celotehan
istrinya tanpa menoleh. Ia masih sibuk memperhatikan wajahnya di cermin.
Melihat sisi kanan dan kiri wajahnya bergantian.
“Eh mi, perasaan abi makin kurus?”
“Emang! Abis makannya susah pisan!
Padahal tenaga ama pikiran diperes.” Bibir Tari mengerucut. Manyun.
“Ah… sekarang mah udah banyak
makannya.”
“Iya
deng! Ga usah dicubitin terus kalo disuruh makan. Tapi abi mah kumaha mood makan teh. Aturan mah ada apa juga
dimakan, yang penting
perut keisi! Bukannya makan banyak kalo lauknya Abi
doyan. Kalo Abi ga doyan, makannya cuma seemprit.”
“Hehe kebiasaan!” Rijal menggaruk
kepala.
“Umi mah udah jelas sakit. Coba atuh
Abi mah jaga kesehatannya. Kalau Abi sakit kan riweuh. Umi juga ga bisa ngurusin Abi. Ngurus diri sendiri aja umi
ga bisa.” Hati Tari teriris mengatakan bahwa mengurus diri sendiri pun ia tak
sanggup.
Rijal beranjak dari depan cermin. Ia
berjalan keluar kamar dan merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang sudah tak
karuan bentuknya. Kain pelapis jok yang sobek di sana-sini memperlihatkan busa
bagian dalam yang telah tercabik-cabik. Di daerah kaki kursi sebelah kanan
selalu dikotori oleh serbuk kayu hasil pelapukan kerangka kursi oleh rayap.
Tangannya meraih remote control TV
yang ada di atas meja.
Tari mengikuti Rijal dari belakang.
Ia pun mengambil posisi duduk di samping suaminya. Tari mencari posisi paling
nyaman. Sedikit memaksakan memang. Padahal kursi panjang yang mungil itu telah
penuh oleh tubuh Rijal.
“Emh, Kerjaan kita teh kayak gini
weh… Nempel terus!”
“Hehe… Kayak penganten baru ya Bi!”
Tari tertawa geli. Mereka sudah menikah hampir dua tahun, tapi Tari masih
merasa seperti baru menikah. Pergi ke mana-mana hanya berdua. Tak ada tawa dan
tangis anak kecil di rumah mereka. Hati Tari sering merasa miris. Tapi Rijal
selalu menjadikan kondisi mereka sebagai lelucon. Sehingga Tari menjadi tidak
terlalu merasa bersalah atas ketidak mampuannya menjadi istri yang baik.
Perbincangan pun dilanjutkan. Terkadang bila
sedang mengobrol, Tari
terlalu bersemangat. Mulutnya
mengeluarkan
banyak kalimat. Bila sudah begitu, Rijal akan menghentikan pembicaraan. “Umi
harus hemat tenaga!” katanya. Terlebih bila kondisi Tari sedang drop, Rijal
sering sekali memotong cerita Tari.
“Mi, kalo berobat ke Ciparay gimana?”
Tanya Rijal tiba-tiba.
“Ke tempatnya bi Iyam itu?” Tari
kembali bertanya sambil mengerutkan dahi.
“Iya!” jawab Rijal mantap. Ia lalu
memindahkan saluran TV, lagi-lagi acara berita yang ia cari.
“Umi takut ga cocok lagi kayak yang
di si sinse.”
“Cobain aja atuh! Bi Iyam juga bisa
sembuh.”
Tari termenung. Ia mengalihkan
pandangan ke luar jendela. Tari bosan menonton berita. Isinya selalu tentang
kabar buruk. Rasanya sangat jarang sekali ia melihat kabar baik. Atau mungkin
tak ada? Sejenak Tari menimbang baik buruknya usulan Rijal.
“Ya sudahlah. Terserah Abi aja!”
Akhirnya Tari mengiyakan usulan Rijal.
“Nanti abi ke bi Imas dulu,
nanya-nanya!”
Perbincangan terus berlanjut. Tak
terasa hari mulai gelap. Adzan maghrib berkumandang. Mereka pun telah
menghabiskan satu hari lagi sisa umur di dunia ini.
Tak lama setelah perbincangan itu,
Rijal datang ke rumah dengan membawa jamu. Jamu-jamu itu dibuat dalam paket
satu kali minum. Tapi Tari meminumnya hanya setengah dari dosis yang
disarankan. Setengah bungkus sekali minum.
Ternyata nasibnya tak jauh berbeda
dengan jamu dari dokter China. Jamu tersebut ditolak oleh tubuh Tari. Ginjalnya
terasa pegal setelah meminum jamu tersebut. Tubuhnya pun menjadi kesulitan
mengeluarkan urin untuk beberapa saat.
Akhirnya Tari tak meneruskan
pengobatan tersebut. Padahal bila jamu tersebut cocok untuknya, mereka bisa
menekan biaya pengobatan hampir separuhnya.
Potret Kebodohan
Tari sudah tiba di desa tempat Rijal
dibesarkan sejak kemarin siang. Tari
berada di sini karena Rijal harus bertugas ke luar Jawa. Sumatra. Setiap
kali Rijal pergi ke sana, Tari “dititipkan” di rumah ibu. Agar Tari tidak
kecapekan. Begitu alasan Rijal menitipkan Tari. Pasalnya, bila Rijal pergi
tidak ada yang membantu Tari mengurus rumah. Mereka belum bisa menggaji seorang
pembantu.
“Ada apa Bu? Pagi-pagi udah rame?”
Tari mengiris kol sambil terus mendengarkan percakapan orang-orang di luar
rumah. Tampak bapak mengatur keberangkatan anak-anak. Entah hendak pergi ke
mana.
“Anak-anak mau ujian.” Ibu masih
meneruskan mengupas wortel. Ibu membantu memasak makanan Tari. Di desa sangat sulit
menjumpai jamur. Sehingga Tari mengganti menu makanannya dengan sayur sop.
“Ujian?” Tari mengerutkan dahi.
“Iya, anak-anak yang ikut SMP
Terbuka.”
“Banyak muridnya Bu?” tanya Tari
penasaran.
Baru kali ini Tari menemukan tempat
yang me- miliki sekolah terbuka.
“Asalnya banyak. Belasan. Yang ngajar
Teh Uyu. Eh, pada berhenti. Sekarang tinggal empat orang sisanya. Orang di sini
mah banyak yang ga peduli dengan
pendidikan. Asal lulus SD. Sudah. Pada ga diterusin lagi.”
“O…” Tari membulatkan bibir. Tangannya ber- henti bekerja sejenak. Tari
tak percaya dengan apa yang ia dengar. Waktu tempuh Bandung dan tempat ini
hanya satu setengah jam. Tapi corak kehidupan keduanya sungguh jauh berbeda.
“Lulus SD Bu? Trus ngapain setelah
lulus?” tanya Tari masih penasaran. Ia lalu meneruskan pekerjaannya mengiris
kol.
“Pada pergi ke kota. Yang perempuan
jadi pembantu, yang laki-laki jadi kuli.” Ibu mulai memotong- motong wortel
yang telah dikupas. Tari pun sudah selesai mengiris kol. Giliran sang bawang
yang harus ia iris.
Ternyata anak-anak yang tidak
beruntung men- dapat pekerjaan di kota akan kembali ke kampung dan menjadi
pengangguran. Beberapa orang dari mereka malah mencuri di rumah tetangganya
sendiri.
“Mereka juga nikahnya pada masih
kecil. Paling lima belas tahun juga sudah nikah.” Lanjut ibu lagi.
Tari membelalakkan mata. Ia bergidik
mem- bayangkannya. Usia lima belas tahun ia masih sibuk berkutat dengan
pelajaran di sekolah dan sedang senang- senangnya menjelajahi hal baru. Belajar
bermain gitar–namun sampai sekarang Tari tak pernah bisa memain-kannya,
berkunjung ke rumah teman sekelas, sampai nongkrong di pinggir jalan sekedar
menghabiskan waktu.
Bahkan mama Tari saja pendidikan
terakhirnya SMP. Mama tidak melanjutkan ke SMA karena letak sekolah yang jauh
dan waktu itu mama sering
sakit. Jadi kakek dan nenek
menjadikan alasan tersebut untuk tidak menyekolahkan mama ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi. Adik-adik mama semuanya lulusan SMA.
Sedang bapak tidak meneruskan sekolah
ke SMA karena harus membiayai hidup nenek dan kelima orang adiknya. Kakek
meninggal dunia pada saat usianya masih sangat muda.
Mama dan bapak pun menikah di usia
dua puluh tiga tahun. Padahal mama lahir di tahun lima puluhan−dimana anak-anak
dinikahkan di usia empat belas tahun. Walau tetangga sudah ramai menyebut mama
perawan tua, mama tak mau menikah muda.
Katanya faktor ekonomi menyebabkan anak-anak
di desa ini putus sekolah. Kebanyakan penduduk di sini bekerja sebagai buruh
tani. Pendapatannya sangat sedikit. Namun alasan yang lebih kental terletak
pada tidak sadarnya mereka akan pentingnya pendidikan.
Apakah Masih Zaman?
“Siapa yang meninggal Teh?” tanya
Tari kepada teh Uyu setelah mulutnya kosong dari makanan. Tadi pagi Tari
mendengar pengumuman berita duka dari pengeras suara masjid. Teh Uyu menyebut
nama seorang anak perempuan.
“Kenapa Teh, sakit?”
“Iya Bi Tari.” Teh Uyu menyebutnya
bibi untuk mencontohkan kepada keponakan-keponakannya agar memanggilnya bibi
juga.
“Lagi pesantren, pulang. Katanya ga
enak badan. Di sini teh udah dua minggu ga bisa jalan. Berjemur juga harus
digendong ke luar rumah.”
“Oh gitu? Kata dokter sakit apa?”
Tari me- ngerutkan dahi.
“Justru itu Bi Tari, kata dokter teh
tifus. Belum dibawa ke dokter lagi. Baru mau dibawa teh nanti. Besok mungkin.”
“Masya Alloh…” Tari kaget sekali
mendengarnya.
Rasanya, di zaman sekarang tifus
bukanlah penyakit yang mematikan.
Menurut teh Uyu, orang tuanya baru
saja selesai merombak rumah. Berarti, mereka punya uang untuk membawanya ke
dokter. Minimal ke Puskesmas. Letak Puskesmas tidak terlalu jauh dari tempat
tinggal mereka.
Jalanan di desa ini bisa dilalui
kendaran. Tidak terlalu repot bila ada keperluan ke arah kota. Bila tidak
memiliki kendaraan, tersedia sarana ojeg yang bisa dipanggil lewat SMS. Atau
bila tidak punya uang, bisa minta tolong kepada tetangga mengantarkan ke
Puskesmas. Banyak orang yang memiliki motor di pemukiman ini.
Apakah masih zaman, ada orang sakit,
sampai saatnya ia meninggal, tapi belum dibawa ke dokter? Rasanya itu kabar
dari abad yang mana?
Jauh berbeda dengan keluarganya.
Ketika Tari sakit dan kondisinya memburuk, mereka langsung melarikannya ke
rumah sakit. Ketika harus dirawat pun, bapak dan Aa banting tulang memenuhi
segala kebutuhan pengobatannya. Bahkan, bapak sampai harus berhutang guna
melunasi biaya rumah sakit. Sedang mama merelakan perhiasannya dijual.
Dibalik semua musibah yang menimpanya,
masih terselip rasa syukur. Alloh masih memberikan rizki yang berlimpah
sehingga Tari tidak terlambat ditangani medis karena ketiadaan biaya. Tari pun
sangat bersyukur atas limpahan kasih sayang yang ia dapatkan dari keluarganya.
“Padahal mah Bi Tari, anaknya teh
meni soleh. Ga banyak minta ini itu…” ada nada penyesalan dalam suara teh Uyu.
Tari jadi teringat akan muridnya yang
juga meninggal beberapa waktu lalu.
Mungkin, umurnya sama dengan anak
ini. Muridnya pun anak yang baik. Cerdas dan sedikit pemalu. Tapi, ia dan
teman-temannya senang menggoda Tari. Menjodoh-jodohkan Tari dengan guru lain.
Muridnya meninggal karena radang usus.
Tari hanya bisa menghela napas
mendengar kabar seperti itu. Kenapa anak
sebaik mereka berumur pendek? Gumamnya dalam hati.
Keputusan yang Berat
Jam delapan malam. Rijal belum juga
pulang. Tak biasanya ia tidak memberi kabar. SMS yang Tari kirim tidak mendapat
balasan. Sambil berbaring di kursi panjang, Tari menunggu suaminya pulang.
Tangan Tari sibuk memindah-mindahkan saluran TV. Ia menyalakan TV hanya untuk
meramaikan suasana. Rumah ini terlalu senyap. Tari sendirian di sini. Adiknya
memang tidur di rumah yang sama dengannya. Namun selain untuk tidur, adiknya
hanya sesekali datang kemari.
Tak berapa lama terdengar derum motor
yang tak asing lagi di telinga Tari. Suamiku
pulang! Tari bersorak dalam hati. Ia bergegas menuju pintu samping. Di-
bukakannya pintu lebar-lebar guna memberi jalan untuk motor. Ruang ini menjadi
“kandang” motor.
Sebelumnya ini adalah ruang TV.
Biasanya ada dua motor terparkir di sini. Motor Rijal dan motor adiknya. Namun,
kini motor adiknya sudah dijual. Bisnis bapak yang sedang memburuk membuat
keputusan itu dibuat. Beberapa
waktu lalu, salah satu dari dua mobil tua yang mereka punya pun terpaksa
dijual. Tua, bukan antik.
Rijal turun dari motornya. Setelah
menaruh helm di atas lemari, ia mengambil posisi duduk di kursi panjang. Tari
menyediakan segelas air untuknya. Rijal pun langsung menenggak habis isi gelas
yang disodorkan Tari.
Wajah Rijal tampak berkerut-kerut.
Tak ber- sahabat. Tari pun tak berani bertanya demi melihat ekspresi muka
Rijal. Beberapa saat mereka tenggelam dalam diam.
“Abi
capek banget. Turun naik tangga
sambil lari-lari. Kaki pegel-pegel…” suara Rijal memecah kesunyian. Tari
masih terdiam.
“Tadi ditelepon suruh ke kantor…” ia
melanjutkan kalimatnya dengan suara berat. Demi mendengar kabar itu, emosi Tari
terbit.
“Abi… Udah umi bilang berkali-kali…
kalau ada telepon dari kantor, jangan diangkat…” Tari mencoba menekan emosi,
tapi suaranya terkadang masih meninggi.
“Habisnya, diteleponin terus walo ga
diangkat juga. Sudahlah, abi lapar pisan. Tolong siapin nasi. Ada ayam di tas,
ambilin!”
Tari pun menyiapkan makan malam untuk
Rijal.
Rijal mulai melahap makanan yang
disiapkan Tari. Namun, tampaknya ia masih menyimpan gunungan ke- kesalan.
“Abi belum makan dari pagi…”
Setiap hari Minggu Rijal berlatih
olah raga pernapasan. Jadi ia pergi dari rumah tanpa sarapan terlebih dahulu.
Hanya sedikit cemilan saja yang mampir di perut Rijal.
“Emang ga dikasih makan Bi?” Tari
masih terus menekan emosi.
“Dikasih, tapi ga diberi kesempatan
makan. Abi ga sempet makan. Kerjaannya harus beres hari ini juga, yang
ngerjainnya cuma abi sendiri…”
“Kenapa sih, abi terus yang dijadikan
tumbal? Sekali-kali, temen abi yang bertugas di hari libur! Kalau mereka punya
acara, abi juga punya. Sekali-kali mereka yang membatalkan acara…”
Rijal pun mulai mengeluhkan banyak hal
yang menimpanya selama mengabdi di perusahaan tempatnya bekerja. Padahal selama
ini ia sangat jarang mengeluh.
Demi mendengar semua keluhannya, Tari
tak sanggup lagi menahan diri. Ia meminta Rijal untuk mengundurkan diri dari
kantor hari itu juga. Mengikuti jejak pendahulunya.
Semula Rijal bimbang. Bahkan mereka
sempat bersitegang karenanya. Namun setelah berpikir sebentar, akhirnya Rijal
mau melepas pe- kerjaannya.
Beberapa bulan kemudian, empat orang
rekan Rijal mengikuti jejak Rijal: mengundurkan diri dari perusahaan.
Pekerjaan Baru
“Aduh… di luar panas banget… muka
sama tangan abi rasanya panas, seperti terbakar…”
Rijal yang baru saja pulang kerja
memberikan komentar terhadap cuaca kota kembang akhir-akhir ini. Ia langsung
mengambil posisi duduk di kursi panjang. Ia lalu membiarkan tubuhnya melorot.
Gurat kelelahan nyata sekali tergambar di wajahnya.
Rijal menjadi kolektor di sebuah
penerbit buku setelah melepas pekerjaannya yang lalu. Ia bekerja dengan sistem out sourching. Rijal menerima pekerjaan
itu karena mengharapkan jenjang karir yang cukup menjanjikan. Perusahaan
penerbitan itu termasuk perusahaan yang cukup besar. Cabangnya tersebar di
banyak tempat di Indonesia.
Saat ini Rijal belum mendapat gaji
tetap. Ia mendapat bayaran hanya bila melakukan penagihan kepada konsumen.
Tari mengambil posisi duduk di
samping Rijal. Tari tak tahu harus menghibur suaminya seperti apa.
“Di rumah saja panas, apalagi di
luar…” ternyata ia hanya bisa menyetujui komentar suaminya terhadap cuaca.
Hujan baru beberapa hari tidak turun.
Musim pancaroba baru saja dimulai. Tapi udara sudah sangat panas. Bahkan di
beberapa daerah, rakyat sudah menjerit kekurangan air bersih.
Sementara di musim hujan kemarin, air
“sangat berlimpah”. Terjadi banjir di sana-sini. Disusul dengan longsor di
mana-mana. Mungkin Alloh murka melihat manusia semena-mena memperlakukan alam.
Sehingga Alloh memerintahkan alam melawan manusia? Apa daya manusia melawan
alam?
Tapi ternyata perusakan tetap saja
terjadi. Pelakunya tak mengambil hikmah dari semua gejala alam yang terjadi.
Ketika banjir dan longsor datang,
mereka menyalahkan curah hujan yang terlalu tinggi. Ketika kesulitan air
menghadang, mereka menuding musim kemarau yang terlalu lama.
“Abi nagih dari ujung ke ujung! Udah
nagih dari Cimahi, harus nagih ke Banjaran…” gumamnya lirih.
“Waduh! Itu sih benar-benar ujung ke
ujung Bi! Cimahi di Bandung barat, bahkan mungkin sedikit ke barat daya.
Sementara Banjaran ada di Bandung selatan. Mungkin sedikit ke arah tenggara.”
Tari trenyuh mendengar penuturan suaminya.
“Emang ga dibagi wilayah Bi?”
“Belum. Tapi katanya nanti mau
dibagi-bagi. Mana datanya berantakan. Yang harus ditagih, yang sudah bayar,
yang nunggak, yang macet, semuanya nyampur! Tadi juga cari-cari dulu, udah gitu
dicocokin dengan data akuntan. Takutnya kita tagih, tapi dianya udah bayar…”
Rijal menghela napas. Mungkin membayangkan pe- kerjaannya tadi. Semrawut.
“Nanti keliatan ga professional ya
Bi?”
“Iya. Minta minum Mi!”
Rijal menenggak setengah isi gelas
yang di- sodorkan Tari.
“Kok perusahaan segede itu
manajemennya acak- acakan Bi?”
“Ga ada yang ngerekap datanya Mi.
Akuntannya keluar.” Rijal terlihat lebih santai sekarang.
“Loh? Emang kolektor ga ngerekap data
kunjungan? Ga bertanggung jawab sekali!”
“Ga tahu atuh. Itu mah kerjaannya akuntan.”
“Trus, akuntannya pergi dan gak ada
yang menggantikan kerjaannya? Aneh! Lagian, kan harusnya ada data di
masing-masing kolektor dong!” seperti biasa, Tari mengomentari segala sesuatu
yang tidak sesuai dengan logikanya.
“Ga semudah itu kali mi! Namanya juga
perusahaan gede.”
“Justru itu, karena perusahaan gede,
pasti ada team work-nya! Kalo ada
satu yang keluar, tugasnya digantikan sementara oleh orang lain. Jadi, gak akan
mengacaukan sistem kayak gini!”
”Ga semudah itu kali mi…” Rijal tetap
bersikukuh dengan argumennya.
“Iya kali bi!”
Akhirnya Tari mengalah. Itu kan
perusahaan orang. Kenapa harus mereka yang ribut?
Empat bulan pun berlalu. Persoalan
data masih belum diselesaikan.
Kabar tentang kepastian kontrak
pun
belum terdengar. Semuanya mengambang.
Bila data-data tersebut masih berantakan, konsumen yang ditagih oleh Rijal menjadi
sangat sedikit. Tentu saja gaji yang diterima menjadi sangat sedikit pula.
Rijal banyak menghabiskan waktu menyusun daftar kunjungan.
Menurut Rijal, teman-teman kerjanya
sangat tidak bertanggung jawab. Mereka kerap berlaku seenaknya. Data-data yang
telah dipisahkan dengan susah payah oleh Rijal, dicampuradukkan kembali ketika
mereka mencari data.
Berdamai
“Udah atuh Mi ga usah ngajar. Istitahat aja…” Rijal memandang Tari cemas.
Ia takut Tari akan kehilangan janin dalam tubuhnya–lagi.
“Anaknya udah datang Bi. Lagipula,
umi ga akan membatasi kegiatan umi. Gerak umi sudah sangat terbatas. Seharian
umi di tempat tidur. Kegiatan mana lagi yang harus umi batasi? Kalau ia mau
bertahan, ia akan bertahan. Kalau tidak, lebih baik keluar saja sekarang- sekarang.
Sebelum ukurannya semakin besar. Masalah- nya, kalau sudah besar, akan jadi
sangat merepotkan. Umi ga mau dikiret!” Tari berkata tanpa tedeng aling-aling.
Rijal terdiam mendengar pemaparan
Tari. Mungkin ia merasa pendapat Tari ada benarnya juga.
“Kalau mau bertahan, ia harus tahan
banting seperti umi dan abinya! Karena kehidupannya mungkin akan keras! Ia
tidak boleh lembek!” lanjut Tari dengan nada datar. Tari mengeraskan hati dan
membekukan perasaan. Ibu mana yang mau kehilangan calon anaknya?
Tari hanya tak ingin terus larut
dalam kesedihan bila harus kehilangan apa yang akan ia miliki. Jalan ini yang
ia pilih untuk melindungi hatinya. Tari mencoba berdamai dengan keadaan.
Pada akhirnya Tari tetap kehilangan
calon anaknya. Ketika pertama kali mengalaminya, ia menangis dan terus
menangis. Namun, kali ini ia bahkan tak meneteskan air mata. Hatinya mati rasa.
Belum Saatnya
Berubah
Sudah
beberapa hari ini Tari tak bisa tidur nyenyak. Hanya dua atau tiga jam saja
matanya bisa terpejam. Hal ini sudah menjadi kejadian rutin setelah Tari
menderita gagal ginjal.
Beberapa
hari dalam sebulan hampir bisa dipastikan Tari mengalami kesulitan tidur.
Bahkan kadang bisa sampai seminggu tidurnya terganggu.
“Tadi
sempet tidur Mi?” Rijal tahu betul jika beberapa hari ke belakang Tari sedang
susah tidur. Kebetulan hari ini Rijal pulang larut malam.
“Enggak
Bi… pas mau nyenyak, datang tukang mie. Tek… tek… tek… tek…” Tari menirukan
wajan yang dipukul oleh penjual mie keliling sambil manyun. Matanya separuh
tertutup menandakan rasa kantuk yang tidak terpuaskan.
“Mau nyenyak, pengen pipis. Mau
nyenyak lagi, datang motor. Knalpotnya ribut pisan! Terakhir, mau nyenyak lagi!
Datang motor satu lagi!”
Tari bercerita dengan kondisi
setengah teler. Ada dua motor di pemukiman itu yang knalpotnya tidak
“berperasaan”. Sang pemilik motor tidak memikirkan kenyamanan orang lain. Kedua
orang itu pun sering pulang larut malam. Kadang jam dua malam mereka baru
pulang atau bahkan baru pergi dari rumahnya! Belakangan ada beberapa motor lagi
yang mengikuti tipe knalpot motor mereka.
Jangankan suara knalpot, suara orang
bercakap- cakap di luar kamar saja sanggup membuat Tari terus terjaga. Bahkan
setelah percakapan berakhir, Tari akan tetap kesulitan memejamkan mata.
“Marahin atuh motornya!” Rijal tertawa kekeh. Ia mengolok sifat Tari yang
pemarah. Tari memang pemarah, tapi ia selalu menjaga hubungan baik dengan tetangga-tetangganya.
“Sudah didoain mogok. Dua-duanya umi
doain mogok!”
“Oh gitu ya? Sama umi teh didoain mogok?” Rijal kembali
tertawa kekeh.
“Kalau gitu, motor abi juga didoain
mogok? Kan ganggu tidur umi?”
“Enggak… da motor Abi mah ga ribut…”
“Ya udah atuh tidur sana!” Rijal
menyuruh Tari untuk mencoba memejamkan mata.
“Mau pipis dulu…” Tari beringsut
turun dari tempat tidur.
Sepulang dari kamar mandi, Tari naik
kembali ke atas tempat tidur. Rijal sudah berada di sana.
“Abi udah solat Isya?”
“Udah.” jawab Rijal pendek.
“Udah makan?” tanya Tari lagi.
“Udah.”
“Makan apa? Nasi?”
“Iya.”
“Sama apa makannya?”
“Telur ceplok.”
Tari biasa “menginterogasi” suaminya
jika ia makan di luar. Pasalnya, banyak makanan “beracun” yang beredar di luar
sana.
Jadi bila keesokan hari Rijal
mengalami masalah pencernaan, Tari akan segera mengetahui penyebabnya
berdasarkan jenis makanan yang disantap oleh Rijal. Sehingga di lain hari Rijal
tidak membeli makanan sejenis−di tempat yang sama.
Kadang Tari merasa bersalah karena tak
bisa menyediakan makanan sehat untuk suaminya. Jadi upaya yang ia lakukan
hanyalah “menginterogasi” suaminya.
Setelah Tari mendapat posisi
berbaring yang nyaman, Rijal pun mulai bercerita.
“Mi, katanya pengangkatan pegawai
kontrak baru adanya tahun depan.”
“Hah? Tahun depan? Berapa bulan lagi
tuh?” Tari menghitung bulan. Hampir enam bulan lagi.
Gaji kolektor pegawai kontrak memang
tidak terlalu besar. Tapi setidaknya penghasilan mereka tidak bergantung pada
tagihan yang seringkali tidak jelas itu.
Gaji Rijal sekarang tak dapat
mencukupi kebutuhan pengobatan Tari. Jatah suplemen yang ia minum jadi semakin
berkurang. Dosisnya dikurangi sampai dosis minimal. Dan ada satu suplemen yang
tidak dibeli. Jadwal terapi pun tinggal satu kali seminggu. Dari asalnya dua
kali seminggu.
Akibatnya, ginjal Tari drop kembali.
Ia sudah mulai merasakan ginjalnya pegal, panas dan perih. Jantungnya pun
sering terasa sakit. Bronkhitis ikut-ikutan kambuh. Secara syariat,
hidup Tari memang
bergantung pada pasokan suplemen
dan terapi. Nyawanya ditopang oleh kedua hal tersebut.
“Kok bisa Bi?” Tari mengerutkan dahi.
”Katanya bulan sekarang ada
pengangkatan?” lanjut Tari lagi.
“Iya. Tadinya begitu. Ternyata di
perusahaan lagi ada masalah keuangan. Banyak konsumen yang nunggak.”
Padahal Rijal hanya selangkah lagi
menuju penandatanganan kontrak. Ia sudah mengisi aplikasi rekening bank.
Katanya, bila sudah begitu, hampir bisa dipastikan pihak perusahaan akan
mengontraknya. Temannya yang beberapa minggu bekerja lebih awal di sana sudah
diangkat menjadi pegawai kontrak.
Tari menghela napas mendengar kabar
tersebut. Inilah nasib mereka. Belum saatnya berubah.
“Jadinya abi mau kerja di penerbit
buku pelajaran lagi aja. Setidaknya di sana ada gaji pokoknya.”
Kebetulan teman Rijal baru membuka
perusahaan penerbitan kecil-kecilan. Perusahaan itu mendistribusikan buku dari
penerbit lain juga.
“Bukannya sekolah dah gak boleh jual
buku Bi?” Tari mengernyitkan dahi.
“Buku proyek Mi. Buat pengadaan di
perpus- takaan.”
“Bukannya itu udah dipegang sama
penerbit-penerbit gede Bi?”
“Ya, sedikit-sedikit mah masih ada
celah untuk yang kecil.”
“Oh, gitu. Terserah Abi lah.”
“Udah ah tidur! Abi ngantuk.”
“Emmhhh…” Tari hanya mendehem untuk
menjawab ajakan suaminya.
Tak sampai lima menit, Rijal telah
terlelap. Sementara Tari masih kesulitan memejamkan matanya. Tapi untunglah,
setelah dua kali ke kamar mandi, ia pun bisa tertidur.
Tegar
“Punya istri teh jangan dimanja. Ke
mana-mana dianterin. Istri saya mah lagi hamil sembilan bulan juga pergi
sendiri.” Tampak gurat kesedihan yang nyata di wajah Rijal ketika menuturkan
perkataan temannya. “Ya, da istri abi mah beda dengan istri orang…” ia
meneruskan kata-katanya seperti bergumam pada dirinya sendiri. Dari sorot
matanya, terlihat ada segores luka di hati Rijal.
Hampir Tari menangis mendengar
penuturan suaminya. Air mata sudah menggenangi kelopak mata Tari.
Tak
seharusnya teman suamiku membanding- bandingkan aku dengan istrinya. Guman Tari dalam hati. Padahal
teman suaminya tahu Tari sedang sakit.
Kalau
ia tidak tahu kondisi yang sebenarnya,
lebih baik ia diam saja. Tak selayaknya kondisiku dijadikan guyonan olehnya. Tari terus berkata-kata dalam hati.
Biasanya Tari selalu mandiri. Selama bisa
berjalan, sesakit apa pun,
sepayah apa pun,
Tari selalu pergi ke mana-mana sendiri. Tari jarang minta
ditemani. Setelah terkena gagal ginjal, Tari kerepotan bila harus bepergian
dengan kendaraan umum. Pasalnya selama perjalanan Tari harus berhenti setiap dua puluh menit sekali untuk pergi ke
kamar mandi. Tidak mudah menemukan toilet di sepanjang jalan. Yang artinya,
Tari harus mencari-cari toilet dengan berjalan kaki. Belum lagi Tari harus naik
turun angkot. Semua itu menguras tenaganya.
Selain pertimbangan tenaga, ada
pertimbangan lain. Masalah ongkos. Biaya memakai kendaraan umum empat kali
lipat lebih mahal daripada bila memakai motor.
Mereka harus berhemat dan
memperhitungkan pengeluaran uang dengan sangat cermat.
Tari menghela napas. Dipeluknya Rijal
dengan erat. Tari tak bisa mengatakan apa-apa untuk meng- hiburnya. Nasib
mereka memang begini. Mau diapakan lagi. Namun Tari tergelitik untuk bertanya dalam hati.
Apabila
teman suamiku mengalami hal yang sama dengan kami, apakah ia akan jauh lebih
tegar dari kami? Apakah ia akan membiarkan istrinya pergi sendirian− seperti
yang ia banggakan sekarang?
Ada beberapa nada miring yang
diterima Tari dan Rijal. Diantaranya adalah Rijal disebut sebagai suami takut
istri. Hal itu secara tidak langsung menuduh Tari sebagai istri yang tak tahu
diri. Tak bisa menjalankan peran sebagai istri yang harusnya mentaati suami.
Walau perkataan itu disampaikan dalam guyonan, namun hal tersebut mewakili apa
yang ada di dalam benak si empunya guyonan.
Akhirnya, Tari dan Rijal tenggelam
dalam diam. Mereka sibuk dengan kunyahan pikiran masing-masing.
Kutukan
Tari melihat jam di HP-nya, hampir
tengah malam. Matanya belum juga bisa terpejam. Perlahan ia beringsut
meninggalkan tempat tidur. Disambarnya jaket dari gantungan baju. Hati-hati ia
mengambil dua bantal lépét dari
tempatnya berbaring tadi.
Tari membuka pintu sepelan mungkin
agar engselnya tidak menjerit-jerit. Ia mengendap-endap menuju ruang tamu dan
membiarkan pintu kamar terbuka. Tari tak ingin menimbulkan kegaduhan di tengah
malam.
Dilemparkannya bantal ke atas kursi
panjang. Sekejap mata remote di atas
meja telah berada dalam genggamannya. Sejenak Tari berdiri berkacak pinggang
sambil memindah-mindahkan saluran TV. Olala,
ada Tom Cruise! Serunya dalam hati. Biasanya film yang dibintangi oleh Tom
Cruise selalu asyik ditonton.
Setelah itu, Tari mencari posisi
tiduran ternyaman di atas kursi panjang.
Betul saja filmnya bagus.
Sayang,
film
telah sampai di tengah cerita. Tari dibuat menahan napas melihat Tom Cruise
meluncur bebas dari atas gedung pencakar langit. Film itu membuat Tari tegang
sampai akhir cerita.
Tari pergi ke kamar mandi di
sela-sela iklan. Setiap dua kali jeda. Entah jam berapa film berakhir. Jam di
ruang tamu telah lama mati kehabisan baterai. Setelah film selesai, Tari belum
bisa memejamkan mata juga.
Akhirnya Tari pindah kembali ke kamar
dan berbaring di sebelah suaminya yang tengah terlelap. Syukur tidur Rijal
jarang sekali terganggu oleh aktifitas Tari di malam hari bila sedang tidak
bisa tidur.
Celakanya, kini
Rijal tidur sambil
mendengkur. Suara dengkuran akan
membuat Tari terjaga. Biasanya bila terlalu lelah, Rijal akan mendengkur.
Namun Tari punya cara jitu untuk
menghilangkan dengkuran Rijal. Yaitu dengan membuat posisi tubuh suaminya
miring. Selang beberapa waktu, Tari pun tertidur.
Jam lima pagi Sherina membangunkan
Tari dengan lagu Cinta Pertama dan Terakhir-nya. Dengan mata setengah terbuka
Tari mencari-cari HP di atas lemari pendek. Letak lemari bersebelahan dengan
tempat tidur. Setelah mendapat yang ia cari, Tari memijit kunci navigasinya dua
kali.
Sherina pun berhenti bernyanyi. Tari
bangun dari posisi tidurnya. Kemudian ia mengambil posisi duduk. Setelah
nyawanya terkumpul semua, baru ia beranjak dari tempat tidur.
Sambil berdiri, Tari mencari kaca
mata di atas lemari. Ia meraba-raba dalam gelap. Tapi kegelapan tidak
menyulitkannya untuk mencari kaca mata. Beberapa detik saja, Tari sudah bisa
memegang kaca matanya. Mata Tari yang minus lima tidak bisa melihat jelas tanpa
bantuan kaca mata.
Setelah solat, memasak air dan nasi,
serta menyiapkan sarapan, Tari loncat kembali ke atas tempat tidur. Setelah
terlebih dulu sarapan tentunya. Mendahului suaminya. Biasanya perut Tari sudah
menagih sarapan bahkan semenjak ia bangun tidur.
“Mi, tadi malam tidur jam berapa?”
Rijal yang sudah berdandan rapi menyempatkan duduk di samping Tari. Ia baru
saja selesai sarapan. Sebelumnya ia berkeliling dulu ke warung-warung. Hunting jamur! Lalu mencuci piring.
Setelah semuanya selesai, baru ia akan pergi mandi.
“Gak tau, pokoknya jam dua belas umi
masih nonton Tom Cruise.”
“Tumben umi nonton?” Rijal mengulum
senyum.
“Abis gugulutukan sendiri. Kan abi pernah bilang, daripada umi bengong
ngelamunin yang enggak-enggak, mending umi nonton. Ya udah, umi nonton aja!”
bibir Tari maju satu senti. Manyun.
“Hahaha.” Rijal tertawa gelak.
“Udah gitu, abi ngorok pula!” Tari
masih manyun.
“Kemaren abi capek banget Mi. Gimana
abi ngoroknya?”
“Asalnya sih, ngerek, krrr… krrr.
Lama-lama jadi ngorok! Krok.. krok..” Tari menirukan suara dengkuran suaminya.
“Udah aja badan Abi digulingin sama
umi!”
“Hahaha.” Rijal tertawa gelak
kembali. Ia senang menyuruh Tari menirukan dengkurannya selagi tidur.
“Ya udah atuh, sekarang mah umi tidur lagi!” Rijal merapikan
selimut yang membalut tubuh Tari. Pagi ini dingin sekali.
“Abi tahu, pagi-pagi ato siang, umi
gak bisa tidur…” Tari memelas.
“Ya udah, tiduran aja!” Rijal
tersenyum. “Abi pergi dulu ya!” Rijal lalu mengulurkan tangan sambil berdiri.
Tari mengangguk cepat sambil menyambut uluran tangan Rijal dan menciumnya.
“Eh Bi, jambu umi habis…” Tari
menarik tangan Rijal yang hendak terlepas dari genggamannya.
“Kapan habisnya?” Rijal mengerutkan
dahi.
Tari tak segera memberi tahu
persediaan jambunya telah habis karena ia melihat beberapa hari lalu dompet
Rijal hanya berisi beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Uang sejumlah itu baru
cukup untuk bensin dan lauk super sederhana untuk beberapa hari saja. Sedang
jadwal gajian masih lama. Sekarang Tari berani minta dibelikan jambu karena ia
tahu Rijal mendapat uang kemarin.
“Tiga ato empat hari yang lalu…” Tari
tidak yakin. Tinggal di rumah selama dua puluh empat jam mem- buatnya tak bisa
membedakan hari.
“Kapan terakhir BAB?” Dahi Rijal
semakin berkerut.
“Sama dengan terakhir makan jambu!”
Tari mengakhiri jawabannya dengan nyengir kuda. Sembelit yang dialami Tari
selepas mengkonsumsi obat liver−tiga tahun yang lalu, tak kunjung sembuh hingga
sekarang.
Jambu biji merah menjadi pencahar
alami untuknya. Cukup satu buah sehari. Buah dan sayur lain tidak bisa
melakukan tugas sebaik jambu.
“Iya, nanti siang abi beli.” Rijal
menarik tangannya.
“Umi istirahat aja ya, jangan
ngapa-ngapain! Assalamu alaikum…” Rijal membungkuk dan mengacak- acak rambut
Tari.
“Waalaikum salam…” jawab Tari sambil
ter- senyum. Rijal pun berlalu meninggalkan Tari.
Kalau boleh jujur, hati Tari tidak
mengizinkan bila Rijal kembali menjadi sales buku. Tari tak tega melihatnya door to door dari satu sekolah ke
sekolah yang lain. Kalau cuaca panas, ia akan kepanasan. Bila hujan, ia
kehujanan. Tapi apa mau dikata, hidup mereka mungkin memang begini.
Mudah-mudahan esok lusa kehidupan mereka akan lebih baik. Terlebih bila Tari
sudah sembuh. Mungkin jalan yang mereka lalui akan jauh lebih mudah.
Namun sebenarnya mereka masih sangat
beruntung. Mereka masih tinggal di bangunan permanen yang disebut rumah. Walau
menumpang, mereka punya kamar tidur, ruang tamu, bahkan dapur dan kamar mandi
yang terpisah dari keluarga mereka. Mereka pun masih bisa makan nasi dengan
kualitas baik lengkap dengan lauknya.
Hanya saja kondisi fisiknya yang
seringkali membuat Tari merasa tak berdaya. Tapi Tari sering menyembunyikan
perasaan yang sebenarnya. Padahal entah berapa banyak Tari menangis. Hanya Tari
saja yang tahu.
Tari menangis diam-diam. Dalam
diamnya, dalam solat, dalam doa, atau dalam keterjagaannya di tengah malam di
kala yang lain terlelap. Tari tak ingin orang tahu betapa ringkih jiwanya.
Tari tak bisa membagi beban yang ia
rasakan selain dengan suaminya. Namun tak jarang beban itu ia tanggung sendiri.
Hanya olehnya. Keluarganya sekalipun tak terlalu paham dengan kondisi
fisiknya–apalagi jiwanya. Yang mereka tahu ginjal Tari bermasalah dan Tari
harus berhenti mengajar untuk beristirahat−itupun Tari harus menerangkannya
berkali-kali kepada mereka.
Tari tak bisa menuntut banyak agar
orang-orang bisa memahami apa yang terjadi pada dirinya. Tari tahu, sulit bagi
siapa pun untuk bisa memahami apa yang telah terjadi pada tubuhnya. Terlalu
rumit−kecuali bagi beberapa orang yang sangat paham tentang seluk beluk kesehatan.
Jadi, walau Tari tinggal bersebelahan
dengan keluarganya, keluarga Tari hampir tak pernah tahu ketika ginjal atau
jantung Tari drop. Bahkan Rijal pernah membawa Tari ke UGD tanpa sepengetahuan
keluarga mereka.
Setelah matahari meninggi, Tari baru
bisa melepas selimut. Ia melihat jam di HP-nya. Jam setengah sembilan. Tari
lalu melihat keadaan halaman belakang. Cahaya matahari sudah menyapa sebagian
besar lahan di sana. Tari menyiapkan kursi plastik. Hendak berjemur. Cahaya
matahari terlambat sampai di halaman belakang karena terhalang oleh bangunan
rumah sebelah. Sehingga jadwal berjemur Tari menjadi lebih siang.
Selama off dari segala kegiatan, Tari sering merenung. Dalam diam, ketika
sendiri, atau seperti sekarang, ketika sedang berjemur. Bagaimana bisa
kesehatannya berada di titik nadir terendah?
Selama lebih dari dua tahun Tari tak tahu pasti apa yang menyebabkan ia
bisa mengalami gagal ginjal. Gagal ginjal adalah penyakit dengan proses yang
sangat perlahan, bukan hasil kerja satu malam. Jadi agak sulit baginya merunut
kembali penyebab kerusakan ginjalnya.
Namun, pada suatu hari Tari seolah
mendapat “ilham”. Terlintas dalam kepalanya untuk memulai pelacakan dari obat
liver yang dulu sempat membuat ginjalnya panas dan pegal. Susah payah ia
mengingat nama obat itu. Ia mencari nama
obat itu dalam memori di
otaknya
selama berjam-jam. Bahkan tidur Tari dibuat tak nyenyak karenanya.
Setelah mencari di internet, Tari
mendapati kontra indikasi obat tersebut adalah kerusakan ginjal yang
parah. Setelah bertanya kepada seorang
guru farmasi, Tari paham bahwa obat itu tidak boleh diberikan kepada orang yang
ginjalnya bermasalah.
Mungkin obat itu dicerna dalam ginjal
sehingga menyebabkan ginjal bekerja lebih berat. Untuk orang dengan ginjal yang
bermasalah, hal ini akan membuat penyakitnya lebih parah. Atau mungkin obat itu
mengandung senyawa yang bisa merusak ginjal? Tari tak tahu pasti. Namun, dengan
informasi kontra indikasi, Tari yakin obat itulah yang menjadi penyebab Tari
mengalami gagal ginjal.
Beberapa tahun yang lalu Tari pernah
menderita batu ginjal. Mungkin setelah mendapat “hadiah“ batu, ginjalnya
mengalami kerusakan. Pasalnya, waktu itu frekuensi kencingnya menjadi sedikit
lebih sering. Hampir dua jam sekali. Padahal sebelumnya tak kurang dari tiga
jam sekali.
Jadi, Tari termasuk orang yang tak
boleh mengkonsumsi obat liver tersebut. Obat itu akan membuat ginjalnya lebih
menderita. Dan hal itu terbukti dengan adanya rasa tidak nyaman pada ginjalnya dan
frekuensi kencing yang tiba-tiba menjadi kurang dari satu jam sekali setelah
mengkonsumsi obat tersebut.
Celakanya Tari tidak tahu bila
frekuensi kencing yang meningkat merupakan gejala awal gagal ginjal. Sehingga
Tari mengkonsumsi ekstrak teripang dan susu kedelai. Keduanya mengandung
protein yang sangat tinggi. Selain itu, kacang kedelai juga mengandung kalium
yang sangat tinggi.
Dua-duanya “haram” tidak
boleh dikonsumsi oleh penderita gagal ginjal. Pola makan Tari pun tinggi
protein. Daging ayam dan telur hampir setiap hari tersedia di meja makan.
Kadang-kadang daging sapi pun tersedia di sana.
Alhasil, kondisi ginjal Tari
memburuk. Ketika ia sadar ada masalah, semuanya telah terlambat. Ginjalnya
sudah rusak.
Jam sepuluh. Anak-anak kecil berkeliaran
di depan rumah Tari. Sebagian dari mereka bahkan baru genap berusia tiga tahun.
Sebagian lagi baru lebih sedikit dari umur empat tahun. Yang lainnya sudah
menginjak bangku sekolah. Kelas satu SD.
Mereka bermain dalam
kelompok-kelompok. Ada yang bermain sepeda, ada yang anyang-anyangan, ada juga yang sekedar berlari-lari.
Tari tak melihat satu pun ibu mereka
mendampingi anak-anaknya bermain. Bukan satu dua kali ia mendapati para bocah
itu bermain tanpa pengawasan orang dewasa.
Bahkan anak-anak itu lebih sering
berkeliaran tanpa ibu mereka. Entah ibu mereka berada di mana. Setahu Tari,
kebanyakan ibu dari anak-anak itu adalah ibu rumah tangga.
Padahal, beberapa waktu lalu seorang
anak tetangga hampir saja hilang diculik. Untungnya si anak ditinggalkan
penculiknya karena sang penculik hanya mengambil sepeda si anak. Si anak
ditemukan oleh tetangganya cukup jauh dari pemukiman mereka.
Baru sebentar permainan digelar,
sudah terdengar jerit tangis seorang bocah. Disusul tangisan bocah yang satu
lagi. Iwan dan Dwi berebut sepeda roda tiga milik Dwi. Kedua bocah yang berebut
sepeda bahkan belum bisa berbicara dengan lancar. Sambil menangis, keluarlah
bahasa-bahasa planet dari
mulut kedua bocah itu. Anak-
anak
yang lebih besar mencoba menenangkan keduanya.
Namun tak berhasil.
Tak berapa lama muncullah ibu Dwi. Ia
mencoba membujuk anaknya berbagi sepeda dengan temannya. Namun si bocah malah
menangis lebih keras. Berteriak- teriak. Iwan pun tidak mau kalah. Dia berusaha
menangis lebih keras dari temannya. Koor.
Beberapa saat kemudian datang ibu
Iwan. Akhirnya kedua bocah itu dibawa ke rumahnya masing-masing. Sayup-sayup
masih terdengar tangis kedua bocah. Sementara itu, anak-anak yang lain
meneruskan permainannya maing-masing.
Itulah potret kehidupan sehari-hari
yang dilihat Tari. Diam-diam dari balik tirai. Hati Tari sering miris
melihatnya. Pedih. Terkadang ia merasa keberadaan anak-anak itu adalah kutukan
baginya. Alih-alih sebagai penghibur hati. Terselip rasa iri melihat para bocah
itu. Entah kapan Tari bisa menggendong anaknya sendiri.
Namun di sisi lain Tari bersyukur
mertuanya sudah mendapat cucu dari anak-anak yang lain. Kakak-kakak iparnya.
Rijal adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Sehingga Tari tidak merasa
terlalu terbebani bila sampai hari ini belum bisa memberikan cucu bagi
mertuanya.
Tari menarik napas panjang. Ia ingin
mengisi penuh paru-parunya dengan udara. Ia lalu meninggalkan jendela dan
menghempaskan tubuh kurusnya di atas kursi panjang.
Tari mengedarkan pandangan berkeliling
ruang tamu. Kaca-kaca buram, meja-lemari berdebu, lantai yang tiada mengkilap,
jejak air di langit-langit. Rumahnya tak lagi terurus semenjak ia sakit.
Pandangan Tari terhenti pada lemari
penyekat yang memisahkan ruang tamu dengan
kamar yang tidak
lagi
berpenghuni. Berdus-dus dan berbotol-botol kemasan suplemen memenuhi sebagian
lemari kecil itu.
Masya
Alloh… sudah begitu banyak suplemen yang kuminum selama empat tahun terakhir.
Padahal sebagian kemasan itu telah kubuang. Tapi tetap saja lemari itu hampir
penuh. Gumam Tari
dalam hati.
Ternyata hidupnya menjadi sangat
rumit. Padahal Tari tak pernah membayangkan semuanya menjadi seperti ini.
Berada dalam kondisi sulit membuatnya sempat menarik diri dari pergaulan. Tari
bersembunyi di dalam rumah. Setiap kali ada temannya yang hendak berkunjung, Tari akan mengeluarkan
segala jurus agar kunjungan itu tidak pernah terlaksana. Kalaupun akhirnya ia
mengizinkan temannya datang, itu karena Tari menghargai niat baik temannya.
Kadang temannya terus- terusan menanyakan kepastian jadwal kunjungan ke
rumahnya. Tari pun tak pernah menghubungi teman- temannya.
Ia melakukan semua itu hanya untuk
melindungi hatinya. Tari tak mau disiksa rasa iri melihat teman- temannya
datang menimang bayi mereka. Bahkan di antara mereka ada yang umurnya beberapa
tahun lebih muda darinya. Tari memakai kacamata kuda dalam menjalani kehidupan.
Tak mau melihat ke kiri dan ke kanan. Fokus
pada jalannya sendiri.
Ia berusaha untuk bisa ridho dan bersyukur akan semua takdir
yang menimpanya dengan sangat susah payah. Sampai saat ini Tari masih terus
berusaha menanamkan dua kata itu di hatinya. Tari belum berhasil seratus
persen. Jadi Tari tak mau usahanya sia-sia hanya karena rasa iri yang membakar
hati.
Menikmati Hidup
Tak terasa Tari sudah melewati tiga
kali lebaran bersama suaminya. Waktu cepat sekali berlalu. Hari demi hari
terlewati begitu saja.
Tari menghabiskan libur lebaran tahun
ini di desa suaminya. Lebaran adalah saat liburan bagi Tari. Libur dari diet
yang menyiksa. Saatnya menikmati hidup!
Tari diizinkan membandel oleh
suaminya. Padahal biasanya, Rijal sangat ketat mengawasi pola makannya. Tari
harus merengek-rengek bila ingin membandel. Atau bahkan membandel di belakang
Rijal. Nakal!
“Boleh lah, setahun sekali.” Ucap
Rijal ketika mengizinkan Tari menyantap makanan “beracun”. Tari bahkan tidak
meminta Rijal memberinya izin. Rijal yang menyuruhnya.
Hore! Tari bisa menyantap kue-kue
kering yang kandungan lemak jenuhnya tinggi. Serta makan protein dengan porsi
sedikit lebih banyak. Tapi, semua kesenangan itu harus dibayar dengan harga
mahal.
Pulang ke rumah Tari terlihat lebih
“berisi”. Bukan karena tubuhnya menggemuk, tapi membengkak. Terjadi penimbunan
cairan dalam tubuh Tari. Harga yang pantas untuk kesenangan selama seminggu!
Namun, Tari tidak terlalu merasa
khawatir. Sudah beberapa kali ia mengalami hal serupa. Biasanya, setelah ia
memperbaiki pola makan dan memperbanyak istirahat, dalam waktu kurang lebih
satu minggu, tubuh Tari akan kembali pulih.
Sebelumnya Tari berhasil “melobi”
untuk mem- bandel seminggu sekali. Tari bisa menyantap serabi yang notabene
memakai kelapa sebagai bahan dasarnya. Kalium dan lemak jenuhnya sangat tinggi.
Selain serabi, kadang Tari membeli nasi kuning–yang juga meng- gunakan santan
kelapa.
“Umi hanya ingin menikmati
hidup. Salahkah itu? Kalau mau makan
yang kaliumnya rendah, susah Bi. Sayuran yang paling rendah kaliumnya cuman
bawang.” Begitu bujukan yang dilancarkan Tari. Memang begitulah adanya. Hanya
daging dan ikan serta buah-buahan saja yang mengandung kalium rendah. Setelah
bosan, Tari berhenti sendiri memakan “racun” itu.
Tari memang sebisa mungkin menikmati
apapun yang ia lakukan. Termasuk ketika pergi terapi. Tari membayangkan pergi
ke sana untuk jalan-jalan. Nongkrong!
Terkadang Tari merasa datang bukan
sebagai orang sakit, tapi hanya berkunjung untuk sekedar mengobrol dengan bu
Oce. Obrolan para wanita.
Bu Oce pun tidak memperlakukan Tari
layaknya orang sakit. Mereka jarang membicarakan perihal penyakit Tari. Setelah
Tari menyampaikan keluhan yang dirasakannya,
obrolan akan mengarah
pada topik lain–sementara tangan bu Oce men-transfer energi pada dada, perut,
punggung, pinggang, serta kaki Tari.
Mungkin hal itu yang menyebabkan
orang-orang yang ia temui di tempat terapi tak pernah menyangka sakit Tari
cukup serius. Bahkan tak menyangka Tari sakit. Mereka selalu bertanya pada
Tari, “Siapa yang sakit?”
Setelah tahu sakit yang diderita
Tari, terkadang mereka menampakkan wajah keheranan.
Titik Terang
Kriingg!!! Tari melirik asal sumber
suara. Timer di HP-nya berbunyi.
Sudah waktunya urin dikeluarkan dari tubuh Tari. Ia melemparkan Inuyasha yang sedang dibacanya. Perlahan
Tari beringsut turun dari tempat tidur.
Sepulang dari kamar mandi, Tari minum
setengah gelas air putih hangat. Kegiatan yang satu ini menjadi ritual Tari
setelah mengeluarkan urin. Tak ada literatur yang menyebutkan ia harus
melakukan hal tersebut. Namun Tari berpikir, ia harus mengganti cairan yang
baru saja ia keluarkan. Urin yang keluar dari tubuhnya setiap dua puluh menit
sekitar setengah gelas. Bila tak diganti, sudah bisa dipastikan ginjalnya akan
terasa sakit. Dan Tari bisa mengalami dehidrasi.
Tari kembali naik ke singgasananya.
Tempat tidur yang empuk. Melanjutkan membaca komik yang ia pinjam dari Eni.
Sebuah komik dilalapnya dalam waktu kurang dari satu jam. Tari baru berani
meminjam komik karena ia merasa sudah sanggup membaca kembali. Walau selera
mereka sedikit berbeda, Tari dan Eni mempunyai kegemaran yang mirip. Membaca
komik dan menonton film kartun. Beberapa cerita sama-sama mereka senangi.
Kondisi badan Tari sekarang jauh
lebih baik bila dibandingkan dengan keadaan awal ia terkena gagal ginjal.
Hasil tes laboratorium beberapa waktu
yang lalu cukup menggembirakan. Tak ada lagi protein dalam urin Tari.
Dalam beberapa bulan ini berat badan
Tari stabil di angka empat puluh. Bahkan kadang hampir empat puluh satu. Memang
masih jauh dari angka empat puluh delapan. Bobot tubuh sebelum ia terkena
serangan jantung. Stamina tubuhnya pun jauh lebih bagus. Tari memang masih
perlu banyak berbaring, tapi ia sudah bisa meninggalkan posisi tidur jauh lebih
lama dari sebelumnya. Ia sudah bisa membaca, mencoba menulis, dan sedikit demi
sedikit mengasah kemampuan meng- gambarnya. Konsentrasi ketika melakukan semua
hal itu tak terlalu menguras tenaganya lagi.
Terlebih setelah Tari melakukan
terapi “tapping”, kualitas tidurnya
pun bertambah baik. Ia sudah jarang mengalami gangguan tidur.
Tapping
adalah terapi
sentuhan. Ia mulai melaku- kan terapi beberapa bulan yang lalu. Ia melakukan
terapi tersebut setiap hari sebelum tidur. Gerakan yang baginya lebih mirip
ketukan alih-alih sentuhan itu tidak hanya berpengaruh terhadap tidurnya, namun
mampu membuat tangan kanannya berfungsi–mendekati, normal kembali.
Tari menyusuri titik-titik nyeri di
kaki, punggung, pundak, leher, kepala, dan wajahnya. Jumlah titik tersebut
banyak sekali. Hampir semua ketukan dilakukan oleh Tari sendiri. Kadang-kadang
Rijal membantu melakukan “tapping”
pada punggung kanannya. Tangan kanan Tari tak bisa dipaksakan mengetuk punggung
lama-lama.
Dua tahun yang lalu Tari merasakan
gejala aneh pada tangan kanannya. Awalnya hanya rasa tak nyaman. Tangannya
kadang terasa sedikit pegal. Dari bahu sampai lengan. Hal itu berlangsung
selama beberapa bulan. Namun suatu hari ketika bangun tidur Tari dikejutkan
oleh rasa baal pada tangannya. Tangannya mati rasa. Tari tak bisa merasakan
sentuhan bahkan cubitan sekalipun.
Tari panik sekali waktu itu. Ia takut
bila harus melakukan terapi seperti penyembuhan penyumbatan pembuluh darah pada
kakinya. Biayanya sangat mahal. Setiap minggu Tari harus pergi ke dokter. Bukan
dokter biasa. Ia seorang profesor. Tarip pemeriksaan di klinik sang profesor
dua kali lipat dari dokter penyakit dalam dan empat kali lipat dari dokter
umum. Bukan tarip dokter di rumah sakit pemerintah, tapi rumah sakit swasta
dua. Tempat Tari dirawat dulu karena sakit jantung. Belum lagi Tari pun harus
pergi ke laboratorium seminggu sekali. Periksa darah. Tari menjalani terapi
selama empat bulan.
Dokter penyakit dalam mengatakan
tangan Tari mati rasa karena pengaruh dari jantungnya. Untuk mengatasi hal
tersebut, sang dokter memberi Tari beberapa macam obat.
Baru saja Tari mengkonsumsi sebutir
obat yang diberikan dokter, kondisi jantungnya malah memburuk. Tari merasakan napasnya
sesak. Detak jantungnya menjadi lebih tak beraturan. Akhirnya obat seharga
ratusan ribu itu dibuang ke tempat sampah.
Terapi transfer energi cukup
membantu. Setelah diterapi, baal tidak sering menyerang tangannya. Namun
rasa pegal masih
terus datang. Pegal
akan menyergap
tangan kanannya bila
Tari banyak melakukan aktifitas. Bahkan hanya sekedar menulis.
Namun, setelah meneliti cukup lama,
Tari menyimpulkan bahwa baal pada tangannya bukan pengaruh dari jantung.
Tampaknya ada cedera fisik. Seperti keseleo atau semacamnya. Atau ada sesuatu
yang terjepit? Syaraf? Tari merasakan sakit bila daerah tulang belikat sebelah
kanan ditekan dengan agak keras.
Setelah melakukan “tapping” selama hampir satu tahun, Tari
tak lagi mengalami mati rasa. Hanya pegal yang sesekali menyerang setelah
tangannya terlalu banyak beraktifitas. Sekarang yang tersisa hanyalah sedikit
rasa tak nyaman.
Pencerahan
Seiring membaiknya kondisi tubuh
Tari, kondisi jiwanya pun ikut membaik. Namun, belum seratus persen. Masih
banyak sisa-sisa luka yang membekas. Tari sudah tak banyak menangis. Jiwanya
sudah lebih berdamai dengan kondisi fisiknya. Karena Tari sadar, bagaimana pun
kerasnya ia menggugat, pada akhirnya ia akan dipaksa bertekuk lutut menerima
takdirnya.
Tari pun sudah bisa melubangi
“kepompong” tempatnya bersembunyi. Mengintip dunia dari celah yang ia buat. Dan
akhirnya Tari punya kekuatan untuk me- langkah keluar dari kepompongnya.
Tari mulai berani menghubungi
teman-temannya. Bahkan mengizinkan mereka datang ke rumah. Ia pun membuat
aktifitas baru. Ber-facebook ria!
Syukurlah, ternyata masih saja ada
teman Tari yang menyempatkan diri mengunjunginya−di sela-sela kesibukan mereka
atau sekedar menghubunginya lewat SMS dan facebook.
Banyak hal yang terjadi selama tiga
tahun terakhir. Ada cerita suka, ada juga cerita duka. Teman Tari yang telah
menikah rata-rata sudah mempunyai dua orang anak. Namun ada juga yang bernasib
sepertinya, belum dikaruniai momongan. Sementara beberapa teman Tari yang lain
bahkan belum menikah.
Sekolah farmasi−tempatnya mengajar,
sekarang telah mengalami banyak kemajuan. Sementara SMP tetangganya mengalami
kebangkrutan. SMP tersebut ditutup setahun yang lalu.
Sekolah telah menyewa gedung baru
yang lebih layak disebut sebagai sekolah. Tampaknya kondisi keuangan mengalami
perbaikan. Bahkan, telah dibuka jurusan baru: informatika dan manajemen. Murid
yang masuk pun sudah melalui proses saringan. Kini, para “pejabat” selalu
berada di sekolah. Hanya saja, pak Kus tak lagi menjabat sebagai kepala sekolah
di sana. Pak Kus wafat setahun yang lalu.
Ada rasa sakit ketika Tari mendengar
pak Kus wafat. Bukan karena kepergiannya, tapi caranya pergi yang menyisakan
luka. Kala itu kondisi pak Kus sudah cukup stabil. Namun, ternyata pak Kus
tidak meneruskan pengobatan yang tinggal satu paket lagi. Padahal pak Kus sudah
menempuh lima paket pengobatan. Masalah klise, biaya.
Harga satu paket pengobatan memang
sangatlah mahal. Biaya untuk sekali infus, tusuk jarum, dan jamu lebih dari
satu juta. Sedangkan satu paket pengobatan terdiri dari sepuluh kali terapi.
Berarti pak Kus telah menghabiskan uang lebih dari lima puluh juta.
Tari merasa getir. Di satu sisi,
banyak orang harus menderita karena masalah uang. Di sisi lain, segelintir
orang menghambur-hamburkan kekayaan
yang dimiliki- nya. Bahkan
kacamata yang dibeli oleh mereka sama harganya dengan harga satu paket
pengobatan. Belasan juta. Harga sepatu lebih dari dua kali lipat harga paket
pengobatan. Puluhan juta. Harga pakaian pengantin lebih dari dua puluh kali
lipatnya. Ratusan juta. Dunia macam apa yang ia diami sekarang?
Bagi Tari pun tidak mudah menempuhi
semua lekuk dan liku kehidupan. Namun, ia selalu berusaha mengucap banyak kata
syukur atas segala sesuatu yang menimpanya. Terlebih, sekarang kondisi
kesehatannya sudah jauh lebih baik.
Kemajuan kesehatan yang dialami Tari
memberi kekuatan kepadanya agar tidak pernah berhenti berharap. Walau ia tak
pernah tahu kapan kesembuhan itu akan datang, Tari tetap bermimpi bahwa suatu
saat ia bisa sembuh. Rijal pun memegang teguh mimpi itu.
Semua kemajuan kesehatan yang dialami
Tari sudah berhasil mematahkan “dogma” bahwa gagal ginjal bersifat irreversible−tak akan mengalami
kesembuhan.
Tari merasa hidup kembali. Tidak lagi
seperti mayat hidup–yang hidup segan
mati belum waktunya.
Setiap hari partikel udara−di rumah
yang ditinggali Rijal dan Tari, senantiasa merangkum doa-doa yang terpanjat.
Mereka masih terus berdoa akan kesembuhan Tari. Tidak lupa, mereka pun memohon
kesabaran dan kekuatan serta kemudahan dalam menempuh jalan hidup mereka.
Catatan Penulis
Tak banyak yang mengenal sosok
Mentari (bukan nama sebenarnya). Mentari memang bukan seorang pahlawan yang
ikut berperang membebaskan bangsanya dari belenggu penjajahan. Ia bukan pula
seorang pem- bawa perubahan dalam masyarakat. Mentari pun bukanlah sosok
kharismatik yang mengagumkan.
Mentari hanyalah sosok sederhana yang
mem- punyai banyak mimpi. Dalam mencapai mimpi-mimpinya, tak jarang ia harus
bertentangan dengan mainstream.
Mentari sudah berbeda bahkan sejak
dia masih sangat kecil. Setelah
beranjak dewasa, terkadang
ia mempunyai pola pikir, sikap, perilaku, serta mimpi yang juga berbeda
dengan orang-orang di sekitarnya.
Namun−terlepas dari siapa Mentari itu
dan seberapa besar jasa Mentari dalam kehidupan ber- masyarakat, saya merasa
tertarik untuk menuliskan kisah hidup Mentari ke dalam sebuah novel.
Lewat kisah ini, saya ingin
mengatakan pada dunia bahwa berbeda dari orang kebanyakan tidaklah selalu
buruk. Selama kita masih berjalan dalam koridor yang telah ditentukan oleh
Alloh SWT, hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat wajar.
Akhirnya, hanya satu yang saya
harapkan: mudah- mudahan ada hikmah yang dapat dijadikan pelajaran dari kisah
yang saya tulis ini.
My
Dreams
Kisah
Perjalanan Panjang Meraih Impian
@
2011, Mayasari Sucan
Sampul
dikerjakan oleh
Tiktik
Diterbitkan
pertama kali oleh
Penerbit
CV. Quanta Publishing
Cetakan
I, 2011
Saya ucapkan terima kasih kepada:
Suami tercinta
yang telah menemani saya melalui hari-hari yang melelahkan
Mama
dan bapak yang telah
memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk mengembangkan kreativitas
Ibu
dan bapak yang telah
menyayangi saya
Eni
Chandraeni dan keluarga
yang telah banyak membantu dalam penulisan novel ini